alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

Sembilan Habit Asli Generasi Milenial

JANUARI lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data yang mengejutkan. Data itu menunjukkan, bakal ada perubahan yang signifikan dalam tataran sosiodemografi dan sosioantropologi di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Dari 270.20 juta penduduk Indonesia, 27,94 persen adalah gen Z (terlahir antara tahun 1997–2012). Berarti saat ini usianya berkisar 8–23 tahun. Kemudian 25,87 persen masuk generasi milenial (terlahir antara tahun 1981–1996). Usianya sekarang kira-kira 24–39 tahun. Setelah itu, 21,88 persen merupakan gen X (terlahir antara tahun 1965–1980). Berusia 40–55 tahun. Sisanya 11,56 persen masuk baby boomer (terlahir antara tahun 1946–1964 atau usianya 56–74 tahun). Terakhir 10,88 persen post gen Z (terlahir setelah tahun 2013 atau berusia 7 tahun)

Secara umum, 70,72 persen penduduk Indonesia adalah orang-orang masa produktif, baik itu Gen X, milenial, ataupun Gen Z. Para ahli menyebutnya sebagai bonus demografi. Jadi bonus demografi merupakan sebuah kondisi di mana masyarakat didominasi oleh generasi baru yang memiliki culture dan habit yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Dalam konteks membangun bisnis, seorang business owner dan business leader harus jeli dalam memahami sosiodemografi dan sosioantropologi generasi ini. Mulai dari cara mereka bergaul, berkomunitas, berkomunikasi, berbusana, berbicara, menggunakan teknologi, belanja, dan berinteraksi.

Hasil riset Alvara Research Center menyebutkan, ada sembilan habit mendasar yang biasa dilakukan oleh generasi ini. Pertama, mereka adalah orang-orang yang internetholic, mengonsumsi lebih dari 7 jam per hari. Kedua, loyalitasnya rendah dan gampang berpaling ke lain hati. Ketiga, mereka adalah orang yang simplicity dan menyukai transaksi keuangan nontunai. Keempat, mudah beradaptasi dan efektif serta terbiasa kerja cepat dan cerdas. Kelima, multitasking alias bisa mengerjakan 2–3 pekerjaan sekaligus. Keenam, mereka suka jalan-jalan, bahkan kapan saja dan di mana saja. Ketujuh, cenderung cuek dengan politik, tapi suka sport, film, IT, game, dan sejenisnya. Kedelapan, lebih peduli masalah sosial, suka berbagi, dan solidaritasnya tinggi. Kesembilan, tidak mementingkan kepemilikan. Bagi mereka, yang terpenting bisa mengakses segalanya.

Saya jadi teringat trilogi yang diajarkan oleh salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau dikenal H. O. S. Cokroaminoto. Trilogi ini sebagai gambaran bagi seluruh pejuang kemerdekaan dalam menjalankan tugasnya untuk terus memperjuangkan memerdekakan Indonesia. Setiap perjuangan harus dilandasi tiga hal. Yakni setinggi-tinggi iman, setinggi-tinggi ilmu, dan setinggi-tinggi siasat. Trilogi Cokroaminoto ini sangat relevan digunakan sebagai dasar sekaligus dalil para pengusaha untuk menjalankan bisnisnya.

Trilogi yang pertama adalah setinggi-tinggi iman. Sangat dibutuhkan keimanan yang kuat pada diri setiap business leader agar tetap memiliki keyakinan dan optimisme yang mutlak terhadap keberlangsungan bisnisnya. Keimanan ini sangat penting karena dia akan menjadi energi yang menghasilkan daya dorong dari dalam diri. Manfaatnya adalah, business leader bakal memiliki keberanian dalam mengambil risiko, memiliki semangat mencari peluang, energi untuk terus mencari sumber daya, dan memiliki kemampuan bangkit dan pulih dari dinamika.

Trilogi yang kedua adalah dengan setinggi-tinggi ilmu. Dalam dunia bisnis, ilmu adalah suatu hal yang default. Sudah menjadi keharusan bahwa setiap pengusaha selayaknya memiliki ilmu untuk menjalankan bisnisnya.

Terlebih lagi di zaman yang cepat berubah seperti sekarang ini. Para ahli menyebutnya era VUCA. Di zaman ini, pengusaha harus terus belajar dan menambah ilmu secara terus-menerus agar bisnisnya terus berkembang. Dengan ilmu, pengusaha memiliki banyak referensi untuk membuat kebijakan dan mengambil keputusan. Sebagaimana data BPS tersebut, bahwa sosiodemografi yang banyak berubah di masyarakat harus secara cepat diadaptasi. Jika mayoritas customer-nya adalah gen milenial dan gen Z, maka wajib menguasai semua platform jualan online. Sebab, sesuai hasil riset, mereka sepanjang hari bersama internet dan secara otomatis mayortitas transaksi akan terjadi secara online.

Trilogi yang ketiga adalah setinggi-tinggi siasat. Dalam bahasa yang lain disebut compelling strategy. Mencari strategi baru dalam bisnis itu wajib dilakukan oleh pengusaha. Sebab, bisa jadi strategi bisnis yang sudah dibuat satu bulan lalu sudah tidak relevan lagi dengan situasi sekarang. Dan strategi yang dibuat sekarang bisa jadi tidak relevan lagi untuk satu bulan mendatang.

Sebagaimana kisah tragisnya Nokia dan perusahaan jamu Nyonya Meneer yang gagal memiliki strategi baru untuk mempertahankan bisnisnya. Termasuk pengusaha saat ini harus terus menyusun strategi dan mencari cara untuk menyikapi kondisi sosio demografi yang mayoritas di dominasi oleh gen milenial dan gen Z

Kesuksesan dan keberhasilan itu harus didesain agar target bisa dirasionalisasikan. Jangan sampai salah memahami data lapangan. Sebab, salah memahami kondisi bakal berujung pada kesalahan strategi dan kebijakan.

Pada prinsipnya, business owner dan business leader harus menjalankan bisnis kita dengan setinggi-tinggi iman, setinggi-tinggi ilmu, dan setinggi-tinggi siasat. Itulah yang diterapkan oleh H. O. S. Cokroaminoto. Melalui trilogi itulah dia menorehkan kesuksesannya dalam membuat gerakan perjuangan. (*)

JANUARI lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data yang mengejutkan. Data itu menunjukkan, bakal ada perubahan yang signifikan dalam tataran sosiodemografi dan sosioantropologi di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Dari 270.20 juta penduduk Indonesia, 27,94 persen adalah gen Z (terlahir antara tahun 1997–2012). Berarti saat ini usianya berkisar 8–23 tahun. Kemudian 25,87 persen masuk generasi milenial (terlahir antara tahun 1981–1996). Usianya sekarang kira-kira 24–39 tahun. Setelah itu, 21,88 persen merupakan gen X (terlahir antara tahun 1965–1980). Berusia 40–55 tahun. Sisanya 11,56 persen masuk baby boomer (terlahir antara tahun 1946–1964 atau usianya 56–74 tahun). Terakhir 10,88 persen post gen Z (terlahir setelah tahun 2013 atau berusia 7 tahun)

Secara umum, 70,72 persen penduduk Indonesia adalah orang-orang masa produktif, baik itu Gen X, milenial, ataupun Gen Z. Para ahli menyebutnya sebagai bonus demografi. Jadi bonus demografi merupakan sebuah kondisi di mana masyarakat didominasi oleh generasi baru yang memiliki culture dan habit yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Dalam konteks membangun bisnis, seorang business owner dan business leader harus jeli dalam memahami sosiodemografi dan sosioantropologi generasi ini. Mulai dari cara mereka bergaul, berkomunitas, berkomunikasi, berbusana, berbicara, menggunakan teknologi, belanja, dan berinteraksi.

Hasil riset Alvara Research Center menyebutkan, ada sembilan habit mendasar yang biasa dilakukan oleh generasi ini. Pertama, mereka adalah orang-orang yang internetholic, mengonsumsi lebih dari 7 jam per hari. Kedua, loyalitasnya rendah dan gampang berpaling ke lain hati. Ketiga, mereka adalah orang yang simplicity dan menyukai transaksi keuangan nontunai. Keempat, mudah beradaptasi dan efektif serta terbiasa kerja cepat dan cerdas. Kelima, multitasking alias bisa mengerjakan 2–3 pekerjaan sekaligus. Keenam, mereka suka jalan-jalan, bahkan kapan saja dan di mana saja. Ketujuh, cenderung cuek dengan politik, tapi suka sport, film, IT, game, dan sejenisnya. Kedelapan, lebih peduli masalah sosial, suka berbagi, dan solidaritasnya tinggi. Kesembilan, tidak mementingkan kepemilikan. Bagi mereka, yang terpenting bisa mengakses segalanya.

Saya jadi teringat trilogi yang diajarkan oleh salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau dikenal H. O. S. Cokroaminoto. Trilogi ini sebagai gambaran bagi seluruh pejuang kemerdekaan dalam menjalankan tugasnya untuk terus memperjuangkan memerdekakan Indonesia. Setiap perjuangan harus dilandasi tiga hal. Yakni setinggi-tinggi iman, setinggi-tinggi ilmu, dan setinggi-tinggi siasat. Trilogi Cokroaminoto ini sangat relevan digunakan sebagai dasar sekaligus dalil para pengusaha untuk menjalankan bisnisnya.

Trilogi yang pertama adalah setinggi-tinggi iman. Sangat dibutuhkan keimanan yang kuat pada diri setiap business leader agar tetap memiliki keyakinan dan optimisme yang mutlak terhadap keberlangsungan bisnisnya. Keimanan ini sangat penting karena dia akan menjadi energi yang menghasilkan daya dorong dari dalam diri. Manfaatnya adalah, business leader bakal memiliki keberanian dalam mengambil risiko, memiliki semangat mencari peluang, energi untuk terus mencari sumber daya, dan memiliki kemampuan bangkit dan pulih dari dinamika.

Trilogi yang kedua adalah dengan setinggi-tinggi ilmu. Dalam dunia bisnis, ilmu adalah suatu hal yang default. Sudah menjadi keharusan bahwa setiap pengusaha selayaknya memiliki ilmu untuk menjalankan bisnisnya.

Terlebih lagi di zaman yang cepat berubah seperti sekarang ini. Para ahli menyebutnya era VUCA. Di zaman ini, pengusaha harus terus belajar dan menambah ilmu secara terus-menerus agar bisnisnya terus berkembang. Dengan ilmu, pengusaha memiliki banyak referensi untuk membuat kebijakan dan mengambil keputusan. Sebagaimana data BPS tersebut, bahwa sosiodemografi yang banyak berubah di masyarakat harus secara cepat diadaptasi. Jika mayoritas customer-nya adalah gen milenial dan gen Z, maka wajib menguasai semua platform jualan online. Sebab, sesuai hasil riset, mereka sepanjang hari bersama internet dan secara otomatis mayortitas transaksi akan terjadi secara online.

Trilogi yang ketiga adalah setinggi-tinggi siasat. Dalam bahasa yang lain disebut compelling strategy. Mencari strategi baru dalam bisnis itu wajib dilakukan oleh pengusaha. Sebab, bisa jadi strategi bisnis yang sudah dibuat satu bulan lalu sudah tidak relevan lagi dengan situasi sekarang. Dan strategi yang dibuat sekarang bisa jadi tidak relevan lagi untuk satu bulan mendatang.

Sebagaimana kisah tragisnya Nokia dan perusahaan jamu Nyonya Meneer yang gagal memiliki strategi baru untuk mempertahankan bisnisnya. Termasuk pengusaha saat ini harus terus menyusun strategi dan mencari cara untuk menyikapi kondisi sosio demografi yang mayoritas di dominasi oleh gen milenial dan gen Z

Kesuksesan dan keberhasilan itu harus didesain agar target bisa dirasionalisasikan. Jangan sampai salah memahami data lapangan. Sebab, salah memahami kondisi bakal berujung pada kesalahan strategi dan kebijakan.

Pada prinsipnya, business owner dan business leader harus menjalankan bisnis kita dengan setinggi-tinggi iman, setinggi-tinggi ilmu, dan setinggi-tinggi siasat. Itulah yang diterapkan oleh H. O. S. Cokroaminoto. Melalui trilogi itulah dia menorehkan kesuksesannya dalam membuat gerakan perjuangan. (*)

Previous articleUnderground
Next articleMimpi setelah 107 Tahun

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru