alexametrics
24.5 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Penipuan

SELALU saja ada penipu, dan selalu saja ada yang tertipu. Dalam sejarah tipu-menipu di dunia, selalu saja ada penipu ulung di setiap masanya. Ada nama Charles K. Ponzi, pencipta skema money game yang biasa digunakan pada bisnis MLM (multilevel marketing). Rekor penipuan Ponzi, tahun 1920 dia berhasil meraup USD 9,5 juta dari 10 ribu investor dalam waktu singkat.

Sebelum Ponzi, ada juga nama Jefferson Randolph Smith II. Penipuan yang paling terkenal dia lakukan adalah berpura-pura menjual sabun. Kala itu dia menjual sabun berhadiah. Dia masukkan uang kertas dolar Amerika, dari pecahan USD 1 hingga USD 100 ke dalam beberapa bungkus sabun. Sabun berisi uang itu lalu dicampur dengan sabun biasa. Smith lalu menjual sabun-sabunnya dengan harga USD 1. Banyak yang tergiur dan membeli sabunnya demi mendapatkan hadiah uang. Tapi, sebenarnya teman-teman Smith sebelumnya telah membeli semua sabun berisi hadiah dengan cara menyamar sebagai pembeli.

Tahun 1960-an, penipu terkenal yang fenomenal saat itu adalah Frank William Abagnale, Jr. Saat itu dia berhasil memalsukan cek senilai USD 2,5 juta di 26 negara selama kurun waktu lima tahun, dimulai saat usianya 16 tahun. Dalam melakukan aksinya, dia menggunakan banyak identitas. Mulai dari pilot, dokter, pengacara, maupun agen biro perjalanan.

Frank juga lihai melarikan diri. Dua kali dia ditangkap, dan dua kali pula dia berhasil melarikan diri. Kisah hidupnya diangkat ke layar lebar berjudul: Catch Me if You Can.

Penipuan fenomenal yang pernah terungkap di tahun 2000-an, dilakukan oleh Emanuel Nwude. Awalnya, dia adalah Direktur di Union Bank of Nigeria. Dengan jabatan dan pengalamannya itu, dia lantas menjadi seniman penipu yang memulai aksinya pada 1995. Aksi penipuannya cukup terkenal dalam sejarah.

Saat itu dia berpura-pura meniru tingkah Gubernur Bank Sentral Nigeria, Paul Ogwuma untuk bernegosiasi bisnis dengan seorang direktur di Banco Noreste Brazil (salah satu bank besar di Brazil), Nelson Sakaguchi. Dalam negosiasinya, Nwude menawarkan perjanjian bisnis yang menggiurkan untuk membangun bandara di tengah ibu kota Nigeria, Abuja. Nwude meminta Sakaguchi berinvestasi di bandara baru yang akan dibangun itu. Sebagai kompensasinya, Nwude awalnya minta sejumlah uang sebagai komisi USD 10 juta (sekitar Rp 148 miliar).

Dan Sakaguchi pun memenuhi permintaan Nwude. Hebatnya, setelah negosiasi terlaksana, penipuan tersebut tidak terdeteksi hingga lebih dari setahun. Hingga akhirnya pada 1997, ketika sebuah bank Spanyol memutuskan untuk mengambil alih Banco Noreste Brazil. Mereka melihat beberapa keganjilan dalam transaksi di bank itu. Ditemukan lah saat itu, Sakaguchi berinvestasi melalui Nwude dari tahun 1995 – 1998. Selama itu, Sakaguchi telah mengirimkan uang sebanyak USD 242 juta (sekitar Rp 3,6 Triliun) untuk bandara yang tidak pernah ada. Tak berapa lama kemudian, pemerintah Nigeria lantas melakukan penyelidikan. Dan pada 2004, Nwude ditangkap dan dijatuhi hukuman selama lima tahun.

Begitulah. Kisah penipuan akan selalu ada dari masa ke masa. Di Indonesia, Anda mungkin masih belum lupa, kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) tahun 2001-2002 yang berhasil menggondol uang investor hingga Rp 467 miliar. Program ini menawarkan investasi di bidang perkebunan dengan keuntungan 7 – 10 persen per bulan.

Dari Malang pernah terungkap kasus penipuan yang dilakukan oleh PT Pohonmas Mapan Sentosa (Pomas). Modusnya adalah menggandakan uang melalui pembelian emas. Selama tiga tahun beroperasi (antara 2001 – 2003), terjaring 39 ribu nasabah, dengan total nilai sekitar Rp 253 miliar.

Baru-baru ini, juga terungkap kasus penipuan di Malang bermodus investasi. Pelakunya mengaku sebagai pegawai BRI Syariah. Korbannya 67 orang. Mereka diiming-imingi keuntungan menggiurkan ketika menyetorkan uangnya. Dari 67 korban ini, diperkirakan uang yang berhasil dihimpun sekitar Rp 2 miliar.

Wal akhir, yang namanya penipu akan selalu ada. Karena antara penipu dan yang ditipu, sebenarnya punya kesamaan. Yakni, sama-sama ingin “jalan pintas” untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Jadi, selama ada keinginan untuk mendapatkan keuntungan berlipat melalui “jalan pintas”, maka akan selalu ada penipu dan yang ditipu.(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

SELALU saja ada penipu, dan selalu saja ada yang tertipu. Dalam sejarah tipu-menipu di dunia, selalu saja ada penipu ulung di setiap masanya. Ada nama Charles K. Ponzi, pencipta skema money game yang biasa digunakan pada bisnis MLM (multilevel marketing). Rekor penipuan Ponzi, tahun 1920 dia berhasil meraup USD 9,5 juta dari 10 ribu investor dalam waktu singkat.

Sebelum Ponzi, ada juga nama Jefferson Randolph Smith II. Penipuan yang paling terkenal dia lakukan adalah berpura-pura menjual sabun. Kala itu dia menjual sabun berhadiah. Dia masukkan uang kertas dolar Amerika, dari pecahan USD 1 hingga USD 100 ke dalam beberapa bungkus sabun. Sabun berisi uang itu lalu dicampur dengan sabun biasa. Smith lalu menjual sabun-sabunnya dengan harga USD 1. Banyak yang tergiur dan membeli sabunnya demi mendapatkan hadiah uang. Tapi, sebenarnya teman-teman Smith sebelumnya telah membeli semua sabun berisi hadiah dengan cara menyamar sebagai pembeli.

Tahun 1960-an, penipu terkenal yang fenomenal saat itu adalah Frank William Abagnale, Jr. Saat itu dia berhasil memalsukan cek senilai USD 2,5 juta di 26 negara selama kurun waktu lima tahun, dimulai saat usianya 16 tahun. Dalam melakukan aksinya, dia menggunakan banyak identitas. Mulai dari pilot, dokter, pengacara, maupun agen biro perjalanan.

Frank juga lihai melarikan diri. Dua kali dia ditangkap, dan dua kali pula dia berhasil melarikan diri. Kisah hidupnya diangkat ke layar lebar berjudul: Catch Me if You Can.

Penipuan fenomenal yang pernah terungkap di tahun 2000-an, dilakukan oleh Emanuel Nwude. Awalnya, dia adalah Direktur di Union Bank of Nigeria. Dengan jabatan dan pengalamannya itu, dia lantas menjadi seniman penipu yang memulai aksinya pada 1995. Aksi penipuannya cukup terkenal dalam sejarah.

Saat itu dia berpura-pura meniru tingkah Gubernur Bank Sentral Nigeria, Paul Ogwuma untuk bernegosiasi bisnis dengan seorang direktur di Banco Noreste Brazil (salah satu bank besar di Brazil), Nelson Sakaguchi. Dalam negosiasinya, Nwude menawarkan perjanjian bisnis yang menggiurkan untuk membangun bandara di tengah ibu kota Nigeria, Abuja. Nwude meminta Sakaguchi berinvestasi di bandara baru yang akan dibangun itu. Sebagai kompensasinya, Nwude awalnya minta sejumlah uang sebagai komisi USD 10 juta (sekitar Rp 148 miliar).

Dan Sakaguchi pun memenuhi permintaan Nwude. Hebatnya, setelah negosiasi terlaksana, penipuan tersebut tidak terdeteksi hingga lebih dari setahun. Hingga akhirnya pada 1997, ketika sebuah bank Spanyol memutuskan untuk mengambil alih Banco Noreste Brazil. Mereka melihat beberapa keganjilan dalam transaksi di bank itu. Ditemukan lah saat itu, Sakaguchi berinvestasi melalui Nwude dari tahun 1995 – 1998. Selama itu, Sakaguchi telah mengirimkan uang sebanyak USD 242 juta (sekitar Rp 3,6 Triliun) untuk bandara yang tidak pernah ada. Tak berapa lama kemudian, pemerintah Nigeria lantas melakukan penyelidikan. Dan pada 2004, Nwude ditangkap dan dijatuhi hukuman selama lima tahun.

Begitulah. Kisah penipuan akan selalu ada dari masa ke masa. Di Indonesia, Anda mungkin masih belum lupa, kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) tahun 2001-2002 yang berhasil menggondol uang investor hingga Rp 467 miliar. Program ini menawarkan investasi di bidang perkebunan dengan keuntungan 7 – 10 persen per bulan.

Dari Malang pernah terungkap kasus penipuan yang dilakukan oleh PT Pohonmas Mapan Sentosa (Pomas). Modusnya adalah menggandakan uang melalui pembelian emas. Selama tiga tahun beroperasi (antara 2001 – 2003), terjaring 39 ribu nasabah, dengan total nilai sekitar Rp 253 miliar.

Baru-baru ini, juga terungkap kasus penipuan di Malang bermodus investasi. Pelakunya mengaku sebagai pegawai BRI Syariah. Korbannya 67 orang. Mereka diiming-imingi keuntungan menggiurkan ketika menyetorkan uangnya. Dari 67 korban ini, diperkirakan uang yang berhasil dihimpun sekitar Rp 2 miliar.

Wal akhir, yang namanya penipu akan selalu ada. Karena antara penipu dan yang ditipu, sebenarnya punya kesamaan. Yakni, sama-sama ingin “jalan pintas” untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Jadi, selama ada keinginan untuk mendapatkan keuntungan berlipat melalui “jalan pintas”, maka akan selalu ada penipu dan yang ditipu.(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Previous articleUMKM
Next articleTrump

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/