Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ketika Keluarga Berkonflik

Shuvia Rahma • Sabtu, 5 Desember 2020 | 03:57 WIB
Saya termasuk yang terkaget-kaget ketika mengetahui perusahaan yang memproduksi Jamu Nyonya Meneer bangkrut dan akhirnya tutup. Kala itu, melalui PN Semarang, diputuskan bahwa PT Nyonya Meneer pailit akibat gagal membayar kewajiban utang kepada kreditornya sekitar Rp 7 miliar. Ini terjadi tiga tahun lalu. Tak hanya itu, Nyonya Meneer juga masih berutang Rp 10 miliar kepada para karyawannya yang diberhentikan.
Mengapa saya kaget? Nyonya Meneer berusia hampir 100 tahun. Sempat mengalami masa-masa kejayaan yang fenomenal. Produk-produknya pernah mampu merambah pasar internasional. Dipasarkan sedikitnya di 12 negara, di tiga benua: Asia, Eropa, dan Amerika.
Di era tahun 2000-an, Nyonya Meneer pernah membuat terobosan dengan me-launching obat untuk reumatik: fitofarmaka. Ini adalah obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan dan sudah dinyatakan lulus uji klinis. Hebatnya saat itu, di Indonesia hanya ada lima perusahaan yang mengeluarkan fitofarmaka. Dan Nyonya Meneer adalah satu-satunya perusahaan jamu. Empat perusahaan lainnya adalah farmasi. Konon, biaya riset demi produk baru itu, Nyonya Meneer sampai harus menghabiskan biaya Rp 3 miliar. Jumlah tak sedikit kala itu.
Di masa-masa jayanya saat itu, Nyonya Meneer mampu memproduksi 254 merek. Begitu banyaknya. Tapi, itu dulu. Kini, Nyonya Meneer sudah almarhum. Kini, kita tak lagi bisa memberikan tebakan: ”Siapa wanita paling kuat di Indonesia?” Jawabannya: ”Nyonya Meneer. Karena berdiri sejak 1919.” Kini, kita tak lagi bisa memberikan tebakan seperti itu. Karena Nyonya Meneer sudah tak lagi bisa berdiri.
Untuk kasus Nyonya Meneer, persoalannya adalah pada konflik keluarga. Tepatnya konflik keluarga pada generasi ketiga penerus dinasti perusahaan itu.
Konflik keluarga pada perusahaan besar juga pernah terjadi pada Blue Bird Taksi. Bahkan sampai berujung saling gugat di pengadilan antara kakak-beradik pada sekitar tahun 2004. Hal yang hampir sama juga menimpa Grup Sinar Mas. Salah satu dari anak pendiri Grup Sinar Mas menggugat lima saudara tirinya atas harta warisan berbagai perusahaan yang nilainya mencapai Rp 600 triliun yang ditinggalkan oleh pendiri Grup Sinar Mas.
Di Malang, baru-baru ini muncul pemberitaan tentang konflik yang terjadi pada keluarga pemilik swalayan Sardo. Antarkeluarga pun saling gugat dan saling lapor ke Polda Jatim.
Sebelumnya, konflik keluarga juga terjadi pada salah satu perusahan developer cukup ternama di Malang. Nama perumahannya juga cukup ternama. Perusahan developer itu akhirnya dinyatakan pailit. Pemilik dari perusahaan itu yang notabene adalah kakak-adik terlibat konflik. Puncaknya, si kakak melaporkan adiknya, hingga si adik sempat ditahan di kantor polisi.
Bagaimana bisa, konflik keluarga menjadi pemicu runtuhnya sebuah bisnis keluarga? Secara empiris, salah satu kelemahan dari bisnis keluarga adalah sering adanya perbedaan kepentingan bisnis dan keluarga yang sarat akan konflik. Konflik inilah yang menjadi pemicu keretakan bisnis keluarga yang berimbas pada keberlangsungan bisnis. International Finance Corporation (IFC) Corporate Governance (dalam Susanto, 2007) menyatakan: hanya 5-15 persen bisnis keluarga yang sukses melanjutkan bisnisnya hingga generasi ketiga.
Kelemahan yang sering dimiliki oleh perusahaan keluarga di Indonesia salah satunya adalah kelemahan pola pengembangan, pengelolaan, dan persiapan suksesi untuk jangka panjang.
Di Amerika Serikat, ada beberapa perusahaan keluarga yang berkembang pesat selama ratusan tahun dan membesar dengan alih generasi yang berhasil. Misalnya Bloomberg & Co yang berdiri sejak 1836. Lalu, Levi Strauss yang berdiri sejak 1853. The Lyman Farma malah berdiri sejak 1771. Miller Farm berdiri sejak 1684 (Ohara & Mendel, 2002).
Dari aspek psikologis, konflik keluarga bisa terjadi hingga meruncing dan tajam sesungguhnya karena ketidakmampuan para anggota keluarga dalam mengendalikan ego. Ketika ego berjalan liar, maka dia akan bisa mengesampingkan etika. Ego juga bisa menafikan visi dari perusahaan itu ketika awal-awal didirikan. Bahkan, ego juga bisa mengesampingkan nilai-nilai agama. Gara-gara ego, saudara kandung pun bisa menjadi orang lain.
Ryan Holiday (penulis buku: Ego is The Enemy) memaknai ego sebagai keyakinan yang tidak sehat mengenai pentingnya diri seseorang. Menurut Ryan, keyakinan ini menghasilkan arogansi dan ambisi yang berpusat pada diri sendiri.
Jadi, semua ini adalah tentang ego? Kira-kira seperti itulah. Ego jika tak bisa dikendalikan dengan baik, bisa merusak tatanan. Bisa menjadi racun dalam persaudaraan. Dan bisa juga menyulut konflik yang berkepanjangan. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Shuvia Rahma
#RMC #catatan akhir pekan #opini