Tak banyak mentor seperti ini. Hingga kini, sudah ribuan orang yang dia bimbing, dia motivasi, hingga menjadi pengusaha-pengusaha sukses di seluruh Indonesia, salah satunya melalui: Grounded Business Coaching.
Sebagai orang tua, Coach Fahmi termasuk berhasil mengantarkan anak-anaknya menuju capaian terbaik. Di antaranya ada beberapa yang menjadi dokter.
Sebagai suami, Coach Fahmi mampu menerapkan praktik manajemen terkecil di dalam rumah tangga. Manajemen keluarga yang bersandarkan pada kesakinahan, kemawaddahan, dan kerahmatan.
Sebagai penggerak, Coach Fahmi juga sudah teruji mampu menggerakkan. Mampu menggerakkan kekuatan pada diri seseorang, yang orang itu sendiri tak sadar bahwa dia punya kekuatan. Mampu menggerakkan orang-orang untuk bersinergi menggalang kekuatan, mempunyai satu visi, satu mimpi, dimana visi dan mimpi itu adalah agenda besar yang diyakini mampu mengubah wajah Indonesia. Gerakan yang sudah mulai dibikin adalah: Nusantara Gilang Gemilang. Ini wadah yang didalamnya terdapat para pengusaha, akademisi, kalangan professional, dan juga politisi, dimana mayoritasnya adalah “murid-murid”nya Coach Fahmi. Ibarat bola salju, Nusantara Gilang Gemilang terus menggelinding, menuju pada satu cita-cita: Ingin mengubah wajah Indonesia.
Wajah Indonesia yang dicita-citakan adalah: wajah Indonesia yang bersih, makmur, jujur, adil dan transparan. Wajah Indonesia, dimana masyarakatnya lebih banyak menjadikan cita-cita utamanya sebagai pengusaha yang sukses dan mandiri.
Coach Fahmi memang punya mimpi besar untuk membangun Indonesia dari Malang. Malang akan dijadikan sebagai teras depan. Sedangkan Indonesia akan dijadikan teras belakang. Dan sebuah mimpi yang besar harus digaungkan seawal mungkin. Karena digaungkan seawal mungkin, bisa jadi, sebuah mimpi besar akan ditertawakan. Bahkan mungkin dicemoohkan. Karena itu, sebuah mimpi besar akan sangat tergantung, pada sejauh mana mimpi besar itu secara konsisten digaungkan. Secara terus menerus ditanamkan pada generasi-generasi yang akan datang. Dan itu lah yang saat ini dilakukan Coach Fahmi. Di markas besarnya, di Camp King Sulaiman di Kota Malang, episentrum dari mimpi besarnya tentang wajah baru Indonesia disuarakan. Ditanamkan. Dan akan terus menerus digaungkan. Hingga pada saatnya nanti, mimpi besar itu benar-benar bisa diwujudkan.
“Suatu hari !!!” Kalimat ini sering diucapkan Coach Fahmi kepada “murid-murid”nya ketika memberikan pelatihan, sambil mengangkat telunjuk tangan kanannya. Dan ketika mengucapkan kalimat itu, intonasinya meninggi dan suaranya bergetar. Menandakan sebuah keyakinan, bahwa “suatu hari” mimpi besar itu akan terwujud. Bahwa “suatu hari” Nusantara yang gilang gemilang, juga akan terwujud. Yakni, melalui gerakan-gerakan konsisten serta gerakan-gerakan sistimatis dan terarah, untuk mencetak jiwa-jiwa yang mandiri melalui pendidikan dan kemandirian ekonomi.
Mimpi besar memang harus digaungkan dan ditanamkan seawal mungkin. Kita bisa melihat sejarah, bagaimana Konstantinopel akhirnya bisa ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih pada 1453 M. Saat itu usianya baru 21 tahun. Dan baru dua tahun menjadi pemimpin di Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman).
Mimpi besar untuk bisa menaklukkan Konstantinopel, sudah ditanamkan Al Fatih sejak umurnya 9 tahun. Dia kala itu sangat termotivasi dengan hadits Rasulullah SAW: “Sesungguhnya akan ditaklukkan Kota Konstantinopel. Sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).
Al Fatih juga termotivasi dari sejarah-sejarah penaklukan Konstantinopel yang dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin Islam sebelumnya, termasuk yang dilakukan oleh kakek moyangnya, yang semuanya berujung pada kegagalan. Berkali-kali ditaklukkan, Konstantinopel yang kala itu merupakan ibu kota Romawi Timur tetap saja kokoh berdiri selama 11 abad.
Jika pada akhirnya Al Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel, lalu diganti namanya menjadi Islambul (negeri Islam), hingga akhirnya menjadi Istanbul, itu karena Al Fatih sangat matang dalam menyusun rencana dan strategi. Tahap demi tahap, dia petakan mimpi besarnya itu. Langkah demi langkah dia pikirkan betul secara sistimatis dan terarah. Mulai dari menerapkan politik luar negeri, menyiapkan 4 juta pasukan yang ahli untuk pertempuran darat, hingga membuat senjata yang saat itu tergolong canggih yang disebut: Meriam Orban. Semua langkah-langkah itu dipikirkan secara cermat.
Kaidahnya: Dia harus melakukan langkah-langkah dan strategi yang out of the box, alias tidak boleh sama dengan strategi yang sudah diterapkan para pendahulunya. Jika ingin sukses menaklukkan Konstantinopel.
Dan alhasil, setelah mengepung selama 50 hari dengan menguras tenaga, waktu, pikiran, biaya dan perbekalan, akhirnya Konstantinopel bisa ditaklukkan.
Jadi, mimpi besar itu butuh kepercayaan diri. Butuh strategi. Butuh konsistensi. Dan butuh militansi. Mimpi besar, bisa jadi akan terwujud dalam jangka panjang. Tapi, langkah demi langkah harus lah dimulai dari sekarang. Dan itu lah yang selalu diajarkan Coach Fahmi kepada “murid-murid”nya. “Teruslah melangkah. Teruslah berjalan. Kalau perlu berlari., Jangan gampang menyerah. Karena suatu hari….!!!,”.
(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Kurniawan Muhammad