Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mewarisi Spirit Mbah Buyut Kertanegara

Indra Andi • Minggu, 29 Mei 2022 | 08:53 WIB
Photo
Photo
Berita tentang konservasi Candi Singosari oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur yang dikerjakan mulai 18-29 Mei (tayang di koran ini edisi Kamis, 26 Mei) diam-diam memantik rasa bangga di hati saya. Rupanya, perawatan terhadap peninggalan sejarah kejayaan Kerajaan Singhasari masih sangat diperhatikan.
Ya, merawat Candi Singosari sebenarnya bukan hanya merawat tumpukan batu andesit. Tetapi lebih dari itu, adalah merawat ingatan tentang kejayaan Kerajaan Singhasari yang lahir dari keberanian sosok Ken Arok nan heroik pada tahun 1222 silam. Sosok yang digambarkan sangat pemberani dan agak ngawur tetapi sembodo itu.

Yang mana, konon keberanian dan kecerdikan Ken Arok inilah yang menjadi inspirasi atau bahkan diwarisi anak cucunya, Arek-Arek Malang. Jadi jangan heran kalau karakter yang agresif dan pantang menyerah itu ada di beberapa warga Malang. Lha wong putune Ken Arok hare.
Selain itu, merawat Candi Singosari adalah merawat sebuah monumen kejayaan dan mengenang cita-cita besar salah satu rajanya yang bernama Prabu Kertanegara. Dialah yang pertama kali punya ide menyatukan Nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Singhasari. Yang mana candinya sampai sekarang masih berdiri kokoh itu.
Raja yang memerintah pada tahun tahun 1248-1268 inipun bahkan telah melakukan ekspedisi Pamalayu untuk menaklukkan sejumlah kerajaan di Sumatera hingga menancapkan pengaruh besarnya di Selat Malaka.
Bukan hanya itu, Kertanegara adalah satu-satunya Raja di Nusantara yang berani terang-terangan menolak tunduk di bawah Kaisar Kubilai Khan, sosok maharaja kelas dunia dari Mongol. Bahkan simbol penolakan itu dia lakukan dengan cukup sadis. Yaitu dengan memotong telinga Meng Khi, utusan dari Mongol.
Pada tahun 1289, utusan Kubilai Khan dari Kaisar Mongol yang bernama Meng Khi datang ke Singosari. Dia menyampaikan pesan kaisar agar Kerajaan Singhasari tunduk kepada kekuasaan Mongol dan menyerahkan upeti setiap tahunnya. Rupanya permintaan tersebut membuat Raja Kertanegara tersinggung dan marah besar. Dia menolak mentah-mentah permintaan itu. Bahkan untuk melampiaskan kemarahannya dan membuktikan penolakannya, dia melukai wajah Meng Khi. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Kertanegara bahkan sampai memotong salah satu telinga Meng Khi. Dan meminta utusan itu menyampaikan kepada kaisarnya. Tak ayal, tindakan Kertanegara tersebut membuat Kubilai Khan marah besar.
*
Tentu bukan sifat agak ngawurnya itu yang ingin kita warisi. Tetapi keberanian membuat ide besar dan mewujudkan ide itu yang sebaiknya kita tiru. Jiwa pemberani dan wawasan yang luas dari nenek moyang kita, Arek-Arek Malang itulah yang seharusnya dijadikan spirit di zaman sekarang ini. Agar kita para penerus nenek moyang kita di Malang ini selalu punya ide besar, gigih berjuang dan pantang menyerah. Jadi kalau bisa jangan sampai generasi muda di Malang yang punya nenek moyang kondang di Nusantara ini tidak mewarisinya sama sekali.

Malu rasanya jika mengaku Arek Malang asli tetapi penakut, pemalas, cemen, nangisan alias gembeng. Warga Malang Raya harus mengambil spirit positif dari mbah-mbahnya yang dulu dikenal hebat. Warga Malang Raya harus menjadi sosok yang hebat. Sosok yang kuat, ksatria, pantang menyerah, berwawasan luas.
Begitu juga para pemimpin pemerintahan di Malang Raya sebaiknya mewarisi jiwa-jiwa besar yang dimiliki mbah-mbahnya dulu. Akan sangat keren jika para pemimpin di Malang Raya ini punya pikiran global seperti mbah buyut Prabu Kertanegara. Sehingga, ketika mengeluarkan kebijakan, standarnya global, internasional. Mau membangun insfrastruktur standartnya ya kota-kota internasional.
Jangan sampai sekelas Malang membangun gedung sudah ambruk sebelum diresmikan, atau sudah rusak sebelum waktunya. Membangun trotoar ambrol hanya disenggol motor matik. Tirulah kota-kota keren dengan infrastrukturnya yang keren dan awet. Ini Malang Bro, Kota Pendidikan, Kota Wisata, Kota Industri dst...Ini kota berkelas, kawasan istimewa, jangan dikelola ala kadarnya
Semua yang hendak dibangun seharusnya benar-benar direncanakan yang baik. Desainnya yang harus keren dan mengandung unsur seni yang tinggi. Kemudian bahan materialnya juga yang kelas satu. Supaya ketika sudah jadi bangunan benar-benar menunjukkan selera seni yang tinggi. Karena Kerajaan Singhasari dulu sudah menjadi pusat berbagai seni budaya. Bahkan untuk seni pahat atau patungnya berkelas dunia. Yang mana artefaknya bisa dilihat sampai sekarang di museum-museum. Sebagian ada di Indonesia sebagian di Museum Leiden Belanda. Begitu juga dengan seni kecantikannya dengan sosok Ken Dedes-nya.
Jadi sebelum Jogja dan Bali dikenal sebagai kota seni budaya saat ini, berabad-abad yang lalu semuanya itu adanya di Singosari. Salah satu bukti nyatanya adalah Candi Singosari yang hari-hari ini sedang direstorasi. Ayo Ker, Umak Osi...(*) Editor : Indra Andi
#bpcb jawa timur #Candi Singosari #kerajaan singhasari