Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Buru Bangku

Indra Andi • Minggu, 23 Oktober 2022 | 09:51 WIB
Photo
Photo
Entah sejak kapan bangku mulai diperebutkan. Mungkin sejak pembelajaran tidak lagi dilakukan di bawah pohon seperti zaman Plato dengan akademianya. Melainkan dipindah ke ruang-ruang kelas lengkap dengan kursi dan mejanya. Lalu, anak-anak dimobilisasi negara untuk harus mengikutinya.

Sejak itu, anak-anak mulai berebut untuk memasukinya. Sebab, pendidikan adalah sekolah. Dan sekolah adalah ruang yang tersekat-sekat lengkap dengan kursi dan meja. Mereka, tentu, tak mau disebut tak berpendidikan karena tak bersekolah.

Karena itu, bangku-bangku akan terus diperebutkan sepanjang mereka menempuh pendidikan. Pun di dalam kelas. Berebut bangku, acap berlangsung setiap kali tahun ajaran atau semester baru tiba.

Di luar sekolah, perebutan bangku terjadi sejak kekuasaan dikompetisikan secara terbuka. Siapa saja boleh menjadi peserta untuk mendapatkannya. Sebab, demokrasi adalah 50 persen plus satu. Dengan rumusan itu, malaikat pun bisa kalah jika setan gundul bersatu padu.

Berbeda jika demokrasi dimaknai sebagai permusyawaratan. Yang disemangati oleh nilai-nilai etik kemanusiaan dan ketuhanan. Bangku, disadari bersama, hanya pantas diperuntukkan orang-orang yang tepat mendudukinya. Bukan untuk sosok sembarang berdasar akumulasi suara orang per orang --yang itu sangat memungkinkan untuk diperjualbelikan.

Bangku dengan demikian memiliki arti yang penting. Pun secara harfiah dengan berbagai fungsinya. Untuk bekerja. Untuk belajar. Untuk bercengkerama. Untuk merenung. Untuk bersantai. Baik sendiri maupun bersama-sama.

Karena itulah, desainer bangku akan selalu menyesuaikan rancang bangunnya dengan fungsi-fungsi tersebut. Masing-masing akan memiliki desain yang berbeda. Tentu saja tanpa mengabaikan estetikanya. Keduanya harus bisa menyatu, berpadu. Sebab, fungsi saja tanpa keindahan, akan terasa hambar. Sedangkan keindahan yang tak memedulikan fungsi akan sia-sia.

Namun, desainer yang baik tidak akan hanya memikirkan dua hal itu pada setiap rancangannya. Fungsi dan keindahan. Akan tetapi pasti juga akan menyerap nilai-nilai etik dan budaya yang berkembang di lingkungan penggunanya. Itulah yang membuat nilai guna desainnya semakin tinggi. Fungsional. Indah. Serta selaras, tidak bergesekan atau malah bertabrakan dengan nilai-nilai etik yang hidup pada penggunanya.

Tentang betapa etik memengaruhi desain bangku, menarik menyimak apa yang terjadi di Amerika pada kurun 1960-an. Desain bangku belakang mobil sedan yang sempit membuat para penumpang lain jenis yang duduk di belakang potensial berbuat mesum. Itulah yang terjadi hingga membuat mereka yang berpegang kuat pada etik melayangkan protes. Sebab, mobil-mobil berubah menjadi sarang perbuatan mesum.

Derasnya gelombang protes ini memaksa produsen untuk mendesain ulang mobil dan bangku belakangnya yang memang hanya dirancang untuk dua penumpang. Dari semula sempit diubah menjadi cukup lebar. Sehingga, posisi duduk dua penumpang di belakang bisa lebih berjarak. Tidak berimpitan.

Perubahan inilah yang mendapat apresiasi luas. Setidaknya, desain baru mampu meminimalkan potensi perbuatan mesum di dalamnya. Walau, belum tentu bisa menghilangkannya sama sekali.

Maka, jika di Malang Kota hari-hari ini ramai oleh protes dari warga terkait bangku-bangku mesum di sepanjang Jalan Ijen, itu adalah sebuah kewajaran. Sebab, meskipun sangat plural dan menghargai perbedaan, masyarakat kota ini juga sangat religius. Mereka tetap berpegang kuat pada nilai-nilai etik keagamaan.

Dan, etika keagamaan mana pun, tidak menoleransi perbuatan mesum. Terlebih dilakukan di tempat terbuka seperti itu. Oleh para pendatang pula. Inilah yang hendak dikoreksi oleh masyarakat atas niat baik pemerintahnya untuk menghadirkan ruang-ruang publik yang nyaman bagi warga.

Bangku-bangku itu, fungsionalitasnya sudah memenuhi. Untuk bersantai. Untuk bercengkerama. Atau sekadar merenung sendirian. Sambil menikmati suasana ruang terbuka kota yang dinaungi pepohonan rindang. Estetikanya demikian pula. Besi berpola ukir, selain kuat dan tahan cuaca, juga cukup indah dipandang mata.

Hanya, barangkali, yang agak terlepas dari desain bangku sekaligus taman pedestrian itu adalah serapan nilai-nilai etik masyarakatnya. Bangku yang memungkinkan orang untuk duduk berpasangan dan berimpitan, ditambah temaram cahaya dari lampu penerangan, ternyata rawan untuk disalahgunakan. Bangku-bangku itu diperebutkan. Oleh mereka yang suka mencuri-curi kesempatan. Untuk bermesraan.

Penyegelan, tentu hanya solusi sementara. Untuk menghalau penyalahgunaan. Warga tetap butuh bangku-bangku dan ruang publik yang nyaman. Karena itu dibutuhkan desain yang mampu menyeimbangkan fungsionalitas, estetika, dan etika yang hidup di tengah masyarakat. Bisa? (*) Editor : Indra Andi
#Buru bangku #jalan ijen #Perspektif #radar malang #opini #bangku ijen #tauhid wijaya