Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Keikhlasanku, Prestasi Muridku (Komentar, Refleksi, dan Curhat)

Indra Andi • Senin, 26 Februari 2024 | 23:40 WIB
Fatah Nasikh Aryawan
Fatah Nasikh Aryawan

ESEMKA: Sore itu hari Kamis pertengahan bulan dua tahun 2024, rintik hujan menahanku di ruang kerja. Dari kantor tempatku bertugas tambahan, gemericik hujan samar-samar terdengar. Kulirik jam menunjukkan pukul 16.57. Daripada bengong, kubuat saja kopi dan raih kembali gawai yang sudah sempat masuk ke dalam tas punggung. Lalu kumulai scroll Instagram di hape.

Ah..ternyata ada berita viral. Kali ini kabar tentang Marga Cistha seorang guru SD yang gemar bersedekah. Masih di Jawa Timur, berita berasal dari Kabupaten Kediri. Keikhlasan sang guru yang telah menarik perhatian kepala daerah. Bahkan, tawaran sebagai staf ahli pun segera disampaikan oleh orang nomor satu di Kabupaten Kediri.

Bupati Kediri menilai kebiasaaan guru berstatus honorer itu luar biasa "keren". Alih-alih larut dengan keadaan ekonomi guru yang biasanya pas-pasan, personil korps Umar Bakri satu ini justru tampakkan keikhlasan dan jiwa besar. Kerelaan berkorban yang dibarengi inisiatif dengan tetap melakukan aksi nyata. Sederhana, tapi langsung berdampak. Marga sang guru hebat. Guru yang punya hobi membantu siswa miskin. Ia dilaporkan telah membantu secara langsung atau pun memfasilitasi siswa yang kesulitan memiliki perlengkapan sekolah, seperti tas, sepatu, bahkan uang saku.

Aksi guru muda tersebut sontak menamparku. Betapa tidak. Semakin lama masa dinasku, semakin tinggi golongan dan jabatan fungsionalku, kadang kurasa semakin tipis nuraniku sebagai pendidik. Beberapa tahun belakangan, aku kadang lupa siapa diriku sebenarnya.

Sibuk dalam hiruk pikuk manajemen sekolah, terkadang menggeser kepribadian seorang guru. Terlepas diakui atau tidak. Karakter pelayan, seharusnya serba lembut dan ikhlas. Mengabdi demi kebaikan peserta didik. Ciri itu pelan-pelan tercampur dengan berbagai 'racun birokrasi'. 'Virus-virus' kekakuan, khas mental penguasa yang secara top down menginfiltrasi. Masuk ke alam bawah sadar, mengubah sifat, dan mengambil alih jati diri.

Ingatan pun melayang ke belasan tahun yang lalu. Saat itu tahun 2007. Usiaku kurang lebih sama dengan pak guru Marga, si calon staf ahli Bupati Kediri. Rasa syukur dan ekspresi kegembiraanku lolos dari seleksi CPNS jalur umum langsung kutunjukkan. Seluruh tugas sekolah dari yang wajib hingga yang 'sunnah' semuanya kukerjakan. Tidak peduli tugas utama, tugas tambahan, atau bahkan yang bersifat pribadi dari pimpinan pun kutuntaskan.

Waktu itu, kebanggaan profesi masih melekat kuat. Maklum UU Guru dan Dosen baru saja disahkan, dan citra guru meningkat drastis di tengah masyarakat. Lulusan terbaik perguruan tinggi antre dan berbondong ingin menjadi guru. Janji politik pemerintah era itu begitu menggelora, sukses mendongkrak harapan karir dan kinerja. Pada titik ini, sikap ikhlas seorang abdi pun bertemu dengan semangat guru profesional. Alhasil, kerja kerasku banyak berbuah.

Aku ingat dengan jelas. Salah satunya ketika membimbing seorang siswa mengikuti lomba jurnalistik. Siswa ini kulatih dari nol hingga mampu meliput dan menulis berita. Kubimbing mati-matian. Pagi, siang sampai menjelang malam. Tidak ada kata lelah. Persetan omongan-omongan miring dari sejawat. Tidak kupikirkan pula uang pribadiku yang terpakai..

Singkat cerita, usaha itu berhasil. Muridku ini sukses meraih prestasi. Ia mendapatkan Juara II lomba menulis berita SMA/SMK/MA se-Malang Raya, mengalahkan puluhan peserta lainnya.

Kenangan manis tadi lumayan membuatku tersenyum, tapi juga tertegun. Entah kapan mampu kuukir kembali, gumamku dalam hati. Yang pasti sekarang, kebanggaan profesi yang semakin menurun. Mulai dari tingkat kesejahteraan guru yang terendah diantara aparatur negara, hingga penempatan jabatan guru pada "kasta nomor dua". Dewasa ini, tiada lagi formasi CPNS untuk fungsional guru dan digantikan PPPK.

Entah bagaimana kubangkitkan lagi semangat itu. Semangat profesional dengan keikhlasan super yang mencipta murid berprestasi itu. Wallaahualambishawab. Kutengok hujan telah reda. Matahari pun tenggelam di peraduannya. Kulangkahkan kaki ke tempat parkir, dimana sepeda motor tua Suzuki Smash menungguku. Tidak lupa presensi pulang di face screen sekolah, plus check out dari aplikasi android milik Provinsi Jawa Timur. Bismillah, akan tetap kujalani hari-hari esok yang menantang, dengan selalu mengingat sumpah jabatan. Insyaallah!

 

Editor : Indra Andi
#Marga Cistha #personil korps Umar Bakri