Kita baru saja melewati momen penuh sukacita.
Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah.
Pada waktu yang sama, kita juga baru saja melalui bencana.
Namun, tak semua orang sadar.
Bencana itu adalah badai hedonia.
Momen Lebaran kini lebih dari sekadar mudik, berkumpul dengan keluarga, baju baru, dan saling bermaaf-maafan.
Lebaran mulai menjelma panggung kontes adu kemewahan.
Baju baru sudah sangat biasa.
Yang luar biasa adalah ketika bisa mengenakan baju dari brand terkenal dengan harga selangit.
Tak hanya itu, gawai yang kita genggam juga turut disorot.
Adakah logo apel kroak di punggung gawainya?
Maka tak heran, menjelang Lebaran banyak pemberitaan tentang penyedia jasa sewa baju premium dan rental iPhone.
Kepemilikan barang-barang tersebut kini menjadi parameter kebahagiaan masyarakat di Indonesia.
Mereka rela tampil sempurna meski harus sewa.
Hedonia bukan sebuah bencana bagi mereka yang bisa menangkap peluang itu sebagai ladang bisnis.
Salah satunya dengan membuka jasa sewa atau rental.
Di Kota Malang, persewaan iPhone sudah ramai sejak memasuki bulan Ramadan.
Penyewa mengaku membutuhkannya untuk keperluan buka bersama (bukber).
Mendekati Lebaran, perangkat iPhone sudah ludes tersewa bahkan hingga H+6 Hari Raya Idulfitri.
Durasi sewa sangat beragam.
Mulai dari durasi pendek yakni tiga jam hingga harian.
Tentu tarifnya akan menyesuaikan durasi dan seri iPhone yang disewa.
Untuk iPhone seri terbaru, tarif sewanya bisa mencapai Rp320 ribu per hari.
Sejumlah pakar dan sosiolog ramai membahas fenomena tersebut.
Mereka mengaitkannya dengan konsep hedonia yang kemudian saya sebut sebagai bencana.
Hedonia merupakan konsep hidup yang mengukur kebahagiaan dari kepemilikan materi.
Dalam buku Perilaku Hedonis: Perspektif Teoretis dan Praktis yang ditulis Iin Mayasari pada 2014 menjelaskan perilaku hedonis melibatkan aspek-aspek seperti pencarian kesenangan, menghindari ketidaknyamanan, dan dorongan menikmati hidup secara maksimal.
Hal itu dapat tercermin dari konsumsi barang-barang mewah, partisipasi dalam hiburan, dan aktivitas lain yang memberikan kepuasan emosional.
Lebih lanjut, perilaku hedonis dipengaruhi beberapa faktor.
Mulai dari budaya, lingkungan, dan media sosial.
Melihat fenomena belakangan ini, bencana hedonia lebih banyak dipengaruhi media sosial.
Maraknya konten flexing membuat kemewahan menjadi tujuan semua orang.
Seperti teori terbentuknya sebuah tradisi.
Sesuatu yang muncul secara terus-menerus atau berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang kemudian menciptakan sebuah tradisi.
Mengapa badai hedonia ini menjadi sebuah bencana?
Tentu saja iya.
Kondisi ekonomi negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Bencana ini datang bertepatan dengan ekonomi yang sedang terpuruk.
Bahkan beberapa peristiwa yang menjadi tanda-tanda resesi mulai bermunculan.
Seperti gelombang PHK besar-besaran akibat laba perusahaan terus merosot.
Konsekuensinya, semakin banyak pengangguran.
Lebih lanjut, konsumsi masyarakat atau daya beli turun dan investasi bisnis lesu.
Bahkan, kini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh rekor terendah yakni Rp17 ribu.
Fenomena itu seharusnya perlu antisipasi sejak dini.
Salah satu caranya adalah menahan diri untuk pengeluaran yang tidak perlu.
Tentu itu bertabrakan dengan badai hedonia.
Bencana itu bukan perkara kesadaran personal.
Tapi urusan bersama yang harus diintervensi negara.
Konsep hedonia bertentangan dengan cita-cita pemerintah yang ingin mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Gaya hidup yang berlebihan dan tidak peduli kemampuan akan terus menurunkan kualitas hidup seseorang.
Pada puncaknya, badai hedonia akan menjadi bom waktu.
Suatu saat jumlah orang yang terlilit utang semakin tinggi.
Itu tidak hanya membuat kemiskinan ekstrem meningkat.
Namun, angka kriminalitas juga turut melonjak.
Pemerintah perlu segera membuat regulasi jangka pendek dan jangka panjang.
Misalnya, membuat kebijakan terkait penggunaan media sosial.
Untuk jangka panjang, tentu intervensi melalui pendidikan menjadi jalan paling efektif.
Literasi keuangan harus segera masuk kurikulum pendidikan nasional.
Anak-anak harus kembali dibiasakan menabung.
Lebih dalam lagi, mereka harus sesegera mungkin diajarkan tentang investasi dan manajemen keuangan.
Kurikulum pendidikan nasional harus terus didekatkan dengan pembentukan karakter dan kedisiplinan anak.
Tidak hanya secara teoritis.
Melainkan secara praktis.
Sebab, badai hedonia tidak hanya membuat seseorang menjadikan kesenangan sebagai tujuan utama.
Namun, juga mendorong seseorang mendapatkan kesenangan dengan cara instan.
Itulah mengapa orang rela sewa untuk tampil sempurna.
Menabung tidak lagi menjadi budaya akibat gempuran layanan pembiayaan beli sekarang, bayar nanti atau pay later. (*)
Editor : A. Nugroho