Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Disleksia Itu Bukan Bodoh

Indra Andi • Rabu, 22 Oktober 2025 | 04:05 WIB
Chairani Najmi Mahasiswa Magister Sains Psikologi Univeritas Muhammadiyah Malang
Chairani Najmi Mahasiswa Magister Sains Psikologi Univeritas Muhammadiyah Malang

Malang-  Didunia sekolah banyak berbagai permasalahan salah satunya adalah anak dengan nilai raport rendah atau dibawah nilai kompetensi dasar sering kali dianggap anak yang bodoh, padahal tidak demikian. Dalam KBBI kata bodoh berarti tidak dapat berfikir, atau tidak mengerti serta dianggap tidak memiliki pengetahuan. Menurut welles  (psikologi) definisi kebodohan sebagai mentalitas yang disengaja, terinformsi, dan maladaptive.  Ada beberpa hal yang dapat dipelajari mengapa anak anak  tidak bisa mendapatkan nilai yang baik disekolah,  bisa jadi anak tersebut mengalami disleksia.

Ironisnya saat ini masih banyak orangtua, guru, dan tenaga pendidik tidak mengerti apa arti disleksia. Disleksia  adalah jenis kesulitan belajar pada anak, yaitu berupa ketidak mampuan membaca dan gejala yang tidak disebabkan oleh kemampuan penglihatan maupun pendengaran, serta intelegensia, atau keterampilannya dalam berbahasa, melainkan lebih kepada gangguan dalam proses otak ketika mengolah informasi yang diterimanya. Untuk mengingatkan masyarkat setiap bulan Oktober di peringati sebagai bulan disleksia awareness.

Istilah disleksia atau Kata disleksia diambil dari bahasa yunani, Dys yaitu berarti sulit dalam, dan lex yang berasal dari legian, yang artinya berbicara. Jadi menderita disleksia yaitu menderita kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis (Pratiwi, Hapsari, dan Argo: 156). Sedangkan Dalam Bahasa Inggris, disleksia disebut dengan dyslexia. Secara umum disleksia diartikan sebagai suatu keadaan seseorang yang tidak mampu belajar. dimana kondisi tersebut karena penderita disleksia sulit untuk melakukan aktivitas membaca dan menulis .gangguan ini bukan disebabkan ketidak mampuan penglihatan, pendengaran, intelegensia, atau keterampilannya dalam berbahsa, melainkan lebih kepada gangguan dalam proses otak ketika mengolah informasi yang diterimanya (Rofiah, 2015: 118).

Penderita disleksia secara fisik tampak seperti orang sehat pada umumnya. seseorang didiagnosa menderita disleksia ketika mereka tidak mampu untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik, dari atas kebawah, dari kiri kekanan, serta mereka sulit dalam dalam menerima perindan dan melanjutkannya kememori pada otak (Arif, 2019:19).

Karakteristik anak disleksia secara fisik tidak ada perbedaan dengan anak normal lainnya, ini menyebabkan anak disleksia tidak dengan mudah teridentifikasi. IQ anak disleksia normal dan  diatas rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa anak disleksia juga memiliki bakat yang bisa ditonjolkan. maka itu penting bagi lingkungan, baik orang, tua, tenaga pendidik, maupun masyarakat untuk bisa mengidentifikasi sejak dini anak-anak jika mengalami ciri-ciri sebagai berikut, diantaranya  yaitu :

 

 Disleksia Pada Pra-Sekolah Antara Lain:

 Suka mencampur adukkan kata-kata dan frasa,  Kesulitan mempelajari pengulangan bunyi (rima) dan irama (ritme),  Sulit mengingat nama, perkembangan dalam berbahasa yang terlambat,  Senang dibacakan buku, tetapi tidak tertarik dengan kata-kata atau huruf danSulit untuk berpakaian

 

Disleksia Diusia Sekolah Dasar Antara Lain:

Sulit membaca dan mengeja, Sering tertukar huruf dan angka, Sulit mengingat alfabet atau mempelajari table,  Sulit mengerti tulisan yang ia baca,  Lambat dalam menulis, Sulit konsentrasi, Susah membedakan kanan dan kiri, atau urutan dalam sepekan, Percaya diri yang rendah dan masih tetap kesulitan dalam berpakaian.

Apabila seorang anak menunjukkan kesamaan pada ciri-ciri seperti yang disebutkan di atas, maka anak tersebut kemungkinan besar mengidap disleksia. Namun tetap yang memiliki wewenang untuk mendiagnosa bahwa anak tersebut benar-benar mengidap disleksia adalah seorang psikolog.

Ada beberapa faktor penyebab Disleksia menurut Dardjowidjojo dalam (dalam Hanifa, Mulyadiprana, dan Respati, 2020: 16), mengungkapkan bahwa, disleksia disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor pendidikan, factor psikologis, faktor biologis, dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Faktor pendidikan, yaitu disleksia yang disebabkan oleh penggunaan metode dalam mengajar membaca, terutama metode “whole-word” yang mengajarkan kata-kata sebagai satu kesatuan dari pada mengajarkan kata sebagai bentuk bunyi dari suatu tulisan.
  2. Faktor psikologis, beberapa priset memasukkan disleksia kedalam gangguan psikologis sebagai akibat dari tindakan disiplin orang tua, kurang kerja sama guru dan orang tua,
  3. Faktor biologis, disleksia disebabkan oleh penyimpangan bagian-bagian tertentu otak yang mengalami perbedaan perkembangan dengan anak pada umumnya. Namun juga bukan berarti adalah sebuah kecatatan atau gangguan mental, melainkan anak disleksia hanya berbeda dalam fungsi bagian-bagian otak dan cara belajarnya. Selain itu factor genetik juga ikut mempengaruhinya.

Meteode belajar dan Penanganan disleksia Menurut Meita Shanty (2014: 17) dalam bukunya Semua Hal Yang Harus Diketahui Tentang Disleksia, menjelaskan metode serta penanganan disleksia sebagai berikut:

  1. Metode Multisensori

Metode multisensori mendayagunakan kemampuan penglihatan (kemampuan visual), kemampuan pendengaran (kemampuan auditori), kesadaran pada gerak (kinestetik), dan perabaan (taktil) pada anak.

    2. Metode Fonik (bunyi)

Metode fonik atau bunyi memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf yang sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf “B” dibunyikan “eb”,

Jurnal Buah Hati Vol. 8, No. 1, Maret 2021 |73

    3. Metode Linguistik

Metode linguistik adalah mengajarkan anak untuk mengenal kata secara utuh. Adapun cara yang digunakan yaitu menekan pada kata-kata yang bermiripan. Penekanan ini diharapkan dapat dapat membuat anak mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara dan bunyinya.

Melihat beberapa penyebab disleksia yang sudah di paparkan di atas, maka sebagai orang terdekat baik orang tua, keluarga maupun guru menjadi seorang pendidik serta yang menjadi orang-orang terdekat sangat mendukung dan memungkinkan untuk mengatasi kesulitan belajar yang di alami oleh penderita disleksia. Kesabaran dan ketekunan secara konsisten dari orang-orang terdekat juga dibutuhkan oleh penderita disleksia. bagi orangtua yang memiliki anak disleksia tidak perlu berkecil hati, focus pada bakat yang dimiliki ananda, sebagai motivasi berikut kami cantumkan beberapa tokoh dunia yang menderita disleksia.

 Berikut Tokoh dunia terkenal yang mengalami disleksia

Muhammad Ali, petinju legendaris Amerika yang terkenal dengan julukan "The Greatest", memenangkan medali emas Olimpiade 1960, dan menjadi juara dunia kelas berat tiga kali.

Albert Einstein, fisikawan teoretis kelahiran Jerman yang mengembangkan teori relativitas, menciptakan rumus kesetaraan massa-energi

Leonardo da Vinci, seniman dan ilmuwan Italia yang terkenal dari era Renaisans, yang dikenal karena karyanya sebagai pelukis, pematung, arsitek, penemu, dan ilmuwan.

Steve Jobs. CEO, pebisnis dan Penemu dari Amerika serikat. Pernah menjadi CEO apple inc.

Tokoh diatas mengalami disleksia, tetapi hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk berkembang secara optimal dan sukses dibidangnya masing-masing. Ini merupakan contoh nyata, bagi orang tua anak disleksia focus dan yakinlah bahwa disleksia tidak mengahambat perkembangan anak.


Penulis : Chairani Najmi Mahasiswa Magister Sains Psikologi Univeritas Muhammadiyah Malang

Editor : Indra Andi
#Kesulitan Belajar #psikologi anak