Banyak orang tua merasa khawatir saat mendapati anaknya tampak “berbeda”—entah sulit fokus, cenderung hiperaktif, atau justru terlihat asyik sendiri serta gangguan belajar di sekolah.
Dua kondisi yang sering dikhawatirkan adalah Autism Spectrum Disorders (ASD) atau yang lebih dikenal dengan Autisme dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH).
Meskipun gejalanya bisa tampak mirip, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Berdasarkan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), anak dengan Autisme mengalami dua kelompok gejala utama: (1) defisit dalam komunikasi dan interaksi sosial seperti kesulitan memulai percakapan dua arah, menjaga kontak mata, serta memahami norma sosial, dan (2) perilaku terbatas serta berulang seperti gerakan stereotip, rutinitas yang sangat kaku, dan minat yang sangat spesifik.
Sementara itu, ADHD ditandai oleh dua kelompok gejala utama yakni inatensi (mudah terdistraksi, sulit fokus) dan hiperaktivitas-impulsif (tidak bisa diam, sering menyela), tanpa gangguan komunikasi sosial yang khas seperti pada autisme.
Gejala Autisme sering kali sudah bisa dikenali sejak dini, misalnya bayi usia 6 bulan yang tidak menoleh saat dipanggil, usia 12 bulan tidak menunjuk, dan usia 18 bulan belum mengeluarkan kata yang berarti. Sedangkan pada ADHD, gejala mulai tampak jelas setelah usia 4 tahun dan harus menetap minimal 6 bulan. Gejala inatensi misalnya anak sering terlihat tidak mendengarkan saat diajak bicara, sering lupa aktivitas, dan sulit fokus.
Sementara gejala hiperaktif-impulsif meliputi sering berlarian di tempat yang tidak tepat, sulit menunggu giliran, dan bicara berlebihan. Keduanya bisa berdampak pada kesulitan akademik, hubungan sosial, hingga emosi anak jika tidak ditangani sejak awal.
Jika orang tua mulai mencurigai gejala-gejala tersebut, sangat disarankan untuk tidak menunda. Konsultasikan segera ke tenaga medis yang memahami tumbuh kembang anak.
Hanania Kidz Clinic di Malang menyediakan layanan konsultasi tumbuh kembang dan juga skrining gangguan perkembangan bersama tim ahli yang terdiri dari dokter anak, psikolog, serta terapis yang siap melakukan asesmen menyeluruh. Setelah diagnosis ditegakkan, Hanania Kidz Clinic menawarkan terapi yang terintegrasi seperti terapi sensori, terapi okupasi, terapi perilaku, terapi wicara, hingga pelatihan bagi orang tua.
Deteksi dan intervensi dini terbukti memperbaiki kualitas hidup anak secara signifikan dan membantu mereka tumbuh optimal sesuai potensinya.
Mengenali dan menangani kondisi tumbuh kembang sejak dini akan memberi peluang yang jauh lebih baik bagi anak untuk tumbuh secara optimal.
Sejalan dengan program dan pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dari Kemenkes RI, bahwa intervensi dini dapat memberikan manfaat yang jauh lebih baik dan mencegah kondisi memburuk. Maka dari itu, peran aktif orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat penting dalam mewujudkan generasi anak Indonesia yang sehat dan berdaya.
Referensi:
Kemenkes RI - Pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang 2022
Regier, D.A., Kuhl, E.A. and Kupfer, D.J., 2013. The DSM‐5: Classification and criteria changes. World psychiatry, 12(2), pp.92-98.
Soetjiningsih, dkk. Tumbuh Kembang Anak. 2023. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Editor : A. Nugroho