MENGAPA Kajoetangan heritage mampu menjadi destinasi primadona baru yang berhasil menyedot sekitar 4.000 wisatawan setiap harinya? Padahal, di sudut lain Bumi Arema, banyak destinasi buatan yang dibangun dengan biaya jauh lebih mahal. Jawabannya sederhana. Wisata heritage tidak sekadar menjual pesona bangunan kuno, melainkan memori masa lalu.
Ketika wisatawan menyusuri gang-gang klasik di permukiman Kajoetangan, yang mereka nikmati sebenarnya bukan hanya estetika bangunan. Melainkan mereka sedang mengonsumsi narasi masa lalu yang membentuk identitas hari ini. Filsuf Prancis Paul Ricoeur menyebut fenomena ini sebagai memori kolektif.
Ramainya kunjungan ke wisata heritage juga menjadi kritik keras terhadap tren pariwisata instan. Di saat industri budaya cenderung menyeragamkan pengalaman manusia, wisata heritage justru menawarkan sesuatu yang unik, lokal, dan tidak sepenuhnya bisa direplikasi. Memang ada wahana buatan di Kabupaten Malang yang menyuguhkan nuansa klasik seperti era kerajaan, namun tidak ada nilai sejarahnya. Konstruksi bangunan memang bisa ditiru, tapi sejarah tak bisa direplikasi.
Keistimewaan wisata heritage inilah yang ditangkap Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Dia berusaha menularkan kesuksesan Kajoetangan ke kawasan sekitarnya. Caranya adalah mengintegrasikan Kajoetangan heritage dengan area Pasar Splendid, kompleks sekolahan dan perkantoran di kawasan Tugu, hingga stasiun Malang. Kawasan tersebut mempunyai kesamaan karakter dan potensi, yakni sama-sama mempunyai nilai historis. Juga mempunyai bangunan kuno yang potensial mengundang wisatawan.
Memikat wisatawan dengan pendekatan heritage tentu bukan barang baru. Jauh sebelum Kajoetangan heritage menjadi destinasi primadona baru di Malang, Kota Tua Jakarta dan Malioboro Jogjakarta sudah menjadi magnet kuat wisatawan. Di mancanegara, kota-kota seperti Kyoto di Jepang, Praha di Ceko, dan Barcelona di Spanyol juga sukses menjadikan sejarah sebagai tulang punggung ekonomi tanpa menghilangkan identitas kota tersebut. Bangunan tua di sana bukan objek mati, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan aktivitas warga.
Ada yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang jika ingin integrasi wisata heritage sukses. Bangunan kuno di Splendid, perkantoran dan gedung sekolah di kompleks Tugu, serta stasiun Malang jangan hanya dijadikan latar swafoto semata. Ada baiknya memperkuat narasi historis masa lalu.
Oleh karena itu, perlu melibatkan sejarawan, budayawan, arsitek, hingga warga lokal. Kolaborasi berbagai elemen tersebut diperlukan aga destinasi heritage menyatu dengan aktivitas masyarakat. Di balik kesuksesan Kajoetangan heritage, ada andil besar dari budayawan Malang, sejarawan, arsitek, dan partisipasi masyarakat.
Faktor historisnya sangat kental. Konon, Kajoetangan berada tepat di tengah Kota Malang. Nama Kajoetangan juga lebih dulu dikenal, bahkan sejak era kerajaan Singosari. Selain itu, di Kajoetangan juga ada sosok Mbah Honggo yang masih keturunan Raja Brawijaya V sekaligus guru ngaji Bupati Malang pertama. Kini, makam Mbah Honggo menjadi salah satu destinasi di kampung heritage Kajoetangan. Jejak perjuangan Mbah Honggo dan cerita masa lalu tentang Kajoetangan memperkuat magnet dalam menarik wisatawan.
Demikian juga peran arsitek. Mengungkap kekhasan bangunan-bangunan kuno di kawasan tersebut berpotensi mendulang kehadiran wisatawan. Di samping itu, warga lokal juga turut berkontribusi. Mereka bisa berjualan makanan dan menggelar kegiatan yang relevan dengan konsep heritage.
Lantas bagaimana dengan integrasi heritage yang digagas Pemkot Malang? Apa narasi yang dibangun sehingga Pasar Splendid, kawasan Tugu serta stasiun Malang sukses menjadi Kajoetangan jilid II dan berhasil menyedot wisatawan? Bagaimana dengan warga lokal?
Tanpa menghidupkan nilai historis yang menyatu dengan aktivitas masyarakat, wisata heritage berisiko menjadi dekorasi kosong. Makna historisnya akan luntur dan lama-lama ditinggalkan wisatawan (*)
Editor : Aditya Novrian