Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Teror lewat Humor

Bayu Mulya Putra • Minggu, 18 Januari 2026 | 10:00 WIB

 

PERSPEKTIF: Bayu Mulya Putra, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
PERSPEKTIF: Bayu Mulya Putra, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

Tudingan yang dialamatkan kepada komika Pandji Pragiwaksono juga datang dari Kota Malang. Dalam dua hari berturut-turut, tepatnya 12 dan 13 Januari lalu, dua kelompok menyampaikan laporan ke Polresta Malang Kota. Yang pertama dari sekelompok orang yang mengatasnamakan Umat Islam Kota Malang.

Selanjutnya dari sekelompok orang yang mengatasnamakan Aliansi Literasi Akademisi Muslim (ALAM). Materi laporannya hampir sama, yakni dugaan penistaan agama. Seperti banyak diketahui, laporan serupa juga sempat tersiar 8 Januari lalu.

Mereka yang mengatasnamakan angkatan dan aliansi muda dari dua organisasi Islam membuat laporan ke Polda Metro Jaya. Tuduhannya ada dua. Selain penistaan agama, ada dugaan penghasutan di muka umum.

Semua laporan itu mengacu pada tayangan Mens Rea di Netflix. Dalam tayangan berdurasi lebih dari dua jam itu, Pandji secara blak-blakan menyinggung beberapa pihak. Sebagian besar yang disinggung yakni para politisi. Ada juga organisasi keagamaan dan sejumlah publik figur.

Banyak yang telinganya panas dengan materi stand-up comedy dari Pandji. Tapi lebih banyak yang mendukungnya. Itu bisa dilihat dari komentar-komentar di sejumlah media sosial yang mengangkat tema berita tentang Pandji. Saya termasuk orang yang mendukung pria berusia 46 tahun itu.

Kasusnya membuktikan bahwa kata-kata dari Mark Twain benar. Penulis asal Amerika Serikat itu pernah menulis bahwa manusia memiliki satu senjata yang benar-benar efektif. Senjata itu adalah tawa. Henri Bergson, filsuf asal Prancis juga pernah menganalisis humor sebagai alat untuk mengkritik pemerintahan.

Analisisnya dituangkan dalam karya berjudul ”Le Rire: Essai sur la signification du comique (Tawa: Sebuah Esai tentang Makna Komik, 1900). Henri menyebut bahwa humor bisa digunakan untuk mengoreksi perilaku mekanis dari pemegang kekuasaan. Dia menyebut bahwa tertawa menjadi bagian dari sanksi sosial atau hukuman ringan agar pemerintah sadar terhadap kesalahannya. 

Memang tidak ada satu pun instansi resmi yang melaporkan Pandji ke polisi. Keabsahan mereka yang mengatasnamakan angkatan dan aliansi muda dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia juga patut dipertanyakan. Sebab, sudah ada bantahan yang menyebut bahwa mereka bukan bagian dari organisasi. 

Dalam kasus Pandji, semua bisa menduga bahwa pemerintah atau pemegang kekuasaan, khususnya orang-orang yang disinggung dalam Mens Rea, merasa gerah. Mereka yang tidak terima, tapi masih punya kekuasaan, tentu tak mau tangannya kotor karena seorang komedian. Memanfaatkan proksi-proksi yang dimiliki adalah solusi. Dugaan bahwa sipil dibenturkan sipil pun mencuat.

Melihat track record yang ada, sah-sah saja dugaan itu muncul. Yang pasti, materi komedi dari Pandji itu lahir dari sesuatu yang normal. Yakni dari keresahannya sebagai warga negara. James Beattie, penyair dan filsuf asal Skotlandia menyebut bahwa humor memang bisa lahir dari respons terhadap keganjilan. Analisis itu dituangkan dalam karyanya yang berjudul "An Essay on Laughter and Ludicrous Composition (1779)".

Ingat, Pandji dalam show Mens Rea-nya punya hak prerogatif sendiri. Itu bisa disikapi sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. Bisa juga dinilai sebagai cara dia untuk mengkritik sikap dan kebijakan pemerintahan.

Kalau memang dia berniat mengkritik, kita juga patut menghargainya. Sebab, sejauh ini, itu adalah cara paling aman untuk menyampaikan kritik tanpa konfrontasi fisik secara langsung. Tak ada korban jiwa seperti demo-demo besar sebelumnya.

Itu sesuai dengan analisis Chris A. Kramer tahun 2015 lalu. Dalam artikelnya bertajuk Subversive Humor as Art and the Art of Subversive Humor, pria asal Amerika Serikat itu menyebut bahwa humor juga berfungsi sebagai metode perlawanan tidak langsung. Yang memungkinkan masyarakat untuk menyuarakan ketidakpuasan, mengkritik ketidakadilan, dan mengungkap absurd-nya kekuasaan. 

Kalau semua jenis kreativitas dibenturkan dengan proksi pemerintah atau sipil melawan sipil, potensi bahaya bakal lebih besar. Gerakan Otpor di Serbia pada tahun 2000 bisa saja menginspirasi sejumlah pihak di Indonesia. Bermula pada 1998, hanya dalam dua tahun gerakan itu bisa menggulingkan Presiden Slobodan Milošević.

Taktik perlawanannya sengaja dirancang tanpa kekerasan. Semua dilakukan lewat jalur kreativitas. Seperti mengadakan teater jalanan, aksi simbolis, dan membuat slogan-slogan khusus. Humor sengaja digunakan mereka untuk mengkritik rezim yang dianggap korup.

Gerakan yang berujung revolusi itu memuncak pada 5 Oktober 2000. Dinamakan dengan Gerakan Buldoser. Sebab, saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran yang melibatkan petani yang membawa buldoser untuk menyingkirkan barikade. Aksi itu kemudian mengarah pada kejatuhan Milošević. 

Dari contoh kasus itu, bisa dilihat bahwa humor bisa menjadi alat teror. Juga bisa menjadi langkah awal menuju revolusi besar. Pemerintah sebaiknya lebih bijak dalam menyikapi kritik yang dibungkus kreativitas. Saya yakin, Pandji hanya ingin menyampaikan keresahannya sebagai warga negara dengan balutan humor. (*)

 

 

 

Editor : Aditya Novrian
#Perspektif #teror