FILM drama dari negeri Tiongkok atau kerap disebut dracin memang sulit terbendung. Warganet begitu menggemarinya. Menontonnya. Bahkan sampai jadi candu.
Premis sederhana yang dipadu dengan intrik romansa kerap membuat penontonnya terhanyut.
Apalagi, aspek teknis seperti mudahnya akses dalam berbagai platform media sosial serta pilihan rasio 9:16 alias vertikal, jelas memudahkan penonton yang kebanyakan memang menggunakan telepon seluler (ponsel).
Tak hanya itu, durasi pendek dengan alur cepat yang penuh kejutan membuat penonton mampu menuntaskan puluhan episode tanpa terasa.
Sebuah gebrakan yang bukan hanya mengubah cara pandang dunia perfilman, melainkan juga industri kreatif itu sendiri.
Bagaimana membuat film dengan bujet yang minim, tetapi benar-benar relate dan bisa tembus secara internasional.
Dengan biaya produksi yang tak terlalu tinggi, industri dracin dikabarkan mampu meraih pendapatan lebih dari Rp156 triliun selama 2025. Angkanya bahkan diproyeksikan terus menanjak dalam lima tahun ke depan. Secara global, penetrasinya jauh mengungguli drama korea (drakor) yang lebih dulu eksis. Juga entitas yang lebih stabil, seperti industri per filman Hollywood.
Menjual Mimpi
Sebenarnya nyaris tak ada yang baru dari dracin yang notabene mengambil genre drama. Kisahnya berkutat tentang dina mika percintaan si kaya dan si miskin yang kerap bertukar posisi secara tak terduga.
Mirip zaman telenovela atau sinetron di era 90-an, dracin juga menjual mimpi. Misalnya, tentang orang yang luar biasa kaya, CEO sebuah perusahaan global, yang mendadak hilang ingatan karena kecelakaan. Dia terpaksa memulai semua dari bawah menjadi pekerja kasar. Dia terus dihina dan di perlakukan semena-mena oleh majikannya, bahkan tunangannya yang berasal dari keluarga lebih mapan.
Hingga suatu hari semua berbalik. Ada orang keperca yaan dari perusahaan lama yang mengenalinya. Dia pun perlahan mengingat semuanya.
Kembali datang ke perusahaan miliknya yang telah direbut pesaingnya. Mengembalikan semuanya dan kembali dihormati. Dia pun mendapatkan istri cantik jelita yang baik hati. Tak ada satu pun yang berani. Sorak-sorai pendukungnya. Akhir yang bahagia. "Ternyata dia adalah CEO perusahaan ini".
Beda dengan sinetron, alur perubahan dari kaya ke miskin, berkuasa versus teraniaya, begitu pula sebaliknya, dibuat cepat dan serba instan. Bikin greget, tapi tak sampai mem buat kepala pening. Alhasil, hormon endorfin terus terpacu dan menciptakan sensasi tegang sekaligus bahagia terus-menerus.
Pro dan Kontra
Layaknya segala sesuatu yang viral, dalam fenomena dracin pastilah muncul gejala fear of missing out (FOMO). Kondisi ini membuat banyak orang ikut menonton walau awalnya tidak suka karena tak ingin ketinggalan obrolan dengan teman-temannya. Hal ini tentunya makin memperluas jangkauan dracin hingga menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Ada yang biasa saja dan tak terlalu menyoal segala hal tentangnya. Namun, tak sedikit pula yang menganggap gejala FOMO atas dracin ini bisa mengancam mentalitas bangsa.
Kata mereka, dengan menonton dracin, orang jadi tidak produktif dan terbuai dengan imajinasi yang fana. Mereka enggan berupaya sehingga menciptakan generasi malas.
Kekhawatiran ini muncul karena penikmat dracin dianggap mereka yang berasal dari kalangan bawah. Dinilai mudah terbawa arus dan rentan.
Sementara yang pro atau biasa saja dengan dracin ini menganggapnya sebagai hiburan semata.
Di tengah hiruk-pikuk dan manuver pejabat-pejabat istana serta himpitan ekonomi yang entah disengaja atau tidak oleh penguasa, warga bisa menyandarkan harapannya pada mimpi-mimpi dracin. Mimpi yang teramat sulit, bahkan tidak mungkin menjadi nyata. Orang-orang pastinya sadar akan hal itu.
Namun, mimpi itu setidaknya akan menjadi obat penghilang nyeri. Obat yang menjadikan dada kembali lapang, otak kembali segar, dan hati yang kembali riang hingga mampu menjalani beratnya hidup, esok hari.
Obat yang sangat dibutuhkan di tengah harapan dan kritik yang seolah tak lagi didengar dan harus sopan diutarakan. Bahkan, dracin juga bisa menjadi inspirasi imajinatif di awang-awang. Jangan-jangan apa yang dilakukan penguasa sekarang bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Bukan untuk memperkaya kroni-kroninya dan mengambil keuntungan sesaat, mumpung berkuasa.
Mereka tidak berpikir soal perut nya sendiri dan menyajikan fakta bodong soal sengkarut program di level bawah hanya agar 'bapak senang'. Melainkan ada maksud tersembunyi yang bisa menggetarkan dunia, mensejahterakan Indonesia, serta memakmurkan rakyat suatu saat kelak. "Ternyata dia adalah sang Juru Selamat!".
(Penulis adalah jurnalis Jawa Pos Radar Malang yang bisa disapa via email adinugroho.ohorgunida @gmail.com)
Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian