Ajang Green School Festival (GSF) 2018 melahirkan jawara baru. Berkat inovasi di bidang lingkungan, sekolah yang dulunya kerap diremehkan sekolah lain, kini citranya menjadi terangkat. Apa saja inovasinya?

Wajah Ririn Eka Wahyuni dan Ferry Ardianto terlihat sayu. Bisa dibilang, sudah tidak ada harapan lagi untuk meraih juara, saat lima kategori khusus Green School Festival (GSF) diumumkan di Graha Cakrawala Senin lalu (22/10). Karena tak ada nama SMPN 23 di daftar nominator GSF 2018.
Ririn sempat berdiri dengan wajah gusar, lalu duduk, berdiri lagi dan tetap setia menunggu rangkaian pengumuman GSF selesai. Tepat pada pengumuman kategori terbaik Adiwiyata, wajah Ririn langsung berubah. ”Ya Allah…menang, Pak!” teriak koordinator GSF 2018 itu di depan para muridnya.

Wajah Ririn semringah. Senyum tak henti dia tebar saat berdiri di atas podium dan menerima trofi. Kesepuluh muridnya yang hadir bahkan ada yang menangis melihat sekolah mereka juara. Maklum, selama mengikuti GSF sejak 2014, tidak ada satu pun kategori memuat nama sekolah yang terletak di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang tersebut. Baru tahun ini dia meraih juara.

Bisa dibilang, jawara baru untuk sekolah Adiwiyata di antara para nominator yang sebelumnya terkenal punya inovasi terbaik. Misalnya, ada nama SMPN 10 dan SMPN 20 yang selalu berjaya di ajang lingkungan sekolah. Kali ini, kedua sekolah tersebut harus puas di posisi kedua dan ketiga. Keberhasilan SMPN 23 di ajang tahunan milik dinas pendidikan (disdik) ini diakui tim juri berkat usaha pengolahan limbah mereka yang canggih.

Seluruh limbah organik di lingkungan SMPN 23 diolah melalui alat kompos yang bernama Smart Digester. Alat ini bisa melumatkan sampah organik lebih cepat, tidak menimbulkan bau, dan bisa mengukur kelembapan (pH) secara otomatis. ”Kalau alat kompos pada umumnya, itu membutuhkan waktu berminggu-minggu, pH-nya diukur manual dan baunya cukup menyengat,” jelas Ririn saat ditemui selepas acara.

Nah, dengan Smart Digester, cukup mengolah sampah selama dua minggu dan ada sensor yang memberikan sinyal lampu merah jika kelembapannya sudah tepat. ”Dikatakan komposnya baik kalau sudah di angka 5–7,” kata dia.
Agar tidak bau, ditambahkan zat arang ke dalam alat ini. ”Zat arang ini menetralisasi bau. Sebab, sampah organik baunya kan tidak enak,” tambah guru IPA tersebut. Bahkan, saat ini saja Smart Digester hampir siap dikembangkan untuk bisa menghasilkan etanol atau alkohol untuk keperluan praktikum kimia di sekolah.

Selain sistem pengolahan sampah yang canggih, SMPN 23 merebut hati juri berkat museum pisang dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL)-nya sangat sempurna daripada sekolah lain.

Dia menjelaskan lebih lanjut, oleh salah satu koordinator GSF, Ferry, museum pisang ini merupakan kebun pisang yang ditata rapi dan menarik. Di lahan seluas 200 meter persegi ini, ada tanaman pisang rojo, pisang gepok, pisang susu, pisang talun, yang seluruh pohonnya diolah ke berbagai produk penganan. Misalnya pisang diolah menjadi gentong alias nugget otong, keripik ares atau bagian putih dalam batang pisang. Lalu, ada kerupuk kulit pisang. ”Kalau ditanya kenapa lebih banyak pisang yang ditanam karena seluruh bagian pisang mudah diolah dan bermanfaat,” kata dia.

Jejeran pohon pisang ini ditanam di lahan kosong sekitar IPAL. Ada kolam besar di tengah-tengah museum pisang. Kolam dengan ratusan ikan nila itu memanfaatkan tadahan air bekas limbah kamar mandi dan tempat wudu. Air yang mengalir dari dua tempat itu disaring melalui empat saringan (filter) agar bersih dan dialirkan ke dalam satu kolam.

Di dalam kolam, ada ikan nila yang dibudidayakan. ”Kalau ikan nilanya sudah besar, nanti dimasak dan dibuat gerakan makan ikan untuk siswa kami,” kata Ferry.

Dia menjelaskan, butuh proses besar mengubah siswa SMPN 23 untuk mengenal lingkungannya. Maklum, posisi SMPN 23 yang terletak di pinggiran kota sering kali memiliki stigma sekolah dengan siswa yang nakal dan kurang pintar. ”Alhamdulillah, kami terus mencoba menyadarkan anak-anak dengan pendekatan yang kekeluargaan. Akhirnya mereka jauh lebih inovatif daripada kami,” kata pria alumnus Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Baru-baru ini saja, dari 27 SMP negeri di Kota Malang, hanya SMPN 23 yang berhasil menang di ajang Innovation Promotion Association (Innopa) di Bali September lalu. Ini merupakan ajang inovasi lingkungan di tingkat internasional yang diikuti kampus dan sekolah. Nama SMPN 23 berhasil menggeser Universitas Brawijaya (UB), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan menggondol dua medali emas. ”Ini jadi bukti kalau sekolah kami siap beradu di ajang lingkungan sekolah di tingkat apa pun,” kata Ferry.

Di salah satu kategori lain, ada jawara baru yang belum pernah masuk menjadi nominator GSF sebelumnya. SMPN 25 berhasil menjadi juara pertama kategori non-Adiwiyata menggeser kandidat kuat lain seperti juara bertahan SMPN 8 dan SMPI Sabilillah. ”Saat kami diumumkan menjadi juara, kami kaget dan tidak percaya SMPN kami menang,” kata koordinator umum GSF 2018 SMPN 25 Luluk Dwi Oktrianingsih MPd.

Sekolah yang terletak di Kelurahan Merjosari ini sempat diremehkan sekolah lain. Ada beberapa sekolah yang sempat mencibir ide-ide SMPN 25. Siapa kira, tiga inovasi yang diremehkan malah mengantarkan SMPN 25 juara.

Inovasi mereka, di antaranya eco-technology tepat guna dari panel surya untuk menerangi lampu, inovasi composting, dan literasi eco-technology. Paling unik, edukasi eco-technology.

Seluruh kegiatan ramah lingkungan mereka di-posting di media sosial (medsos). Tujuannya bukan sekadar pamer, tapi posting-an itu menjadi literatur bagi siswa dan guru lain. ”Jadi, satu posting-an ini ibarat artikel ilmiah online,” kata Luluk.

Jadi, akun medsos SMPN 25 di Instagram dan YouTube, kadang kala penuh dengan pertanyaan siswa dan guru dari sekolah lain. Ada yang penasaran dengan sistem composting, limbah cair, hingga manajemen penjualan kompos. Istilahnya, SMPN 25 berhasil menjadi ”guru online” bagi sekolah lain.
Nah, kalau dari sisi teknologi, ada composting dan panel surya. ”Selain lampu di luar kelas, lampu di taman dan tempat lain dinyalakan dari energi surya,” kata guru matematika ini.

Untuk composting, langkah SMPN 25 menjual kompos ke sekitaran sekolah diacungi jempol oleh para juri. Per pack kompos, atau seberat 2,5 kg dihargai Rp 3.000.

Koordinator Sarana dan Prasarana Achmad Fajar SPd yang mengoordinatori composting, menambahkan, kalau dalam sekali pengolahan ada 50 kantong yang dihasilkan. ”Kami konsisten menjual pupuk sejak 2014 lalu, per 2,5 kg dijual Rp 3.000,” kata Achmad.

Nah, uniknya untuk composting ini memiliki alat pencacah daun dan limbah pepohonan. Alat ini dibuat sendiri oleh SMPN 25. Lalu, dimodifikasi ulang oleh salah satu wali murid yang seorang dosen teknik di Universitas Islam Malang (Unisma). ”Lebih cepat, tidak menimbulkan kebisingan dan hemat energi,” kata Achmad. Sebagai jawara baru, SMPN 25 bertekad tahun depan bisa meraih gelar non-Adiwiyata.

”Kami sudah punya dua inovasi dan sedang kami rahasiakan. Tunggu saja,” pungkas Achmad dengan wajah ceria.

Pewarta: Sandra Desi, Naomi
Edito: Dwi Lindawati
Penyunting: Abdul Muntholib