Pelancong Gigit Jari, Fenomena Frost Gunung Bromo Belum Bisa Dinikmati

Cuaca dingin yang cukup ekstrim di kawasan Gunung Bromo membuat embun yang menempel di dedaunan dan rumput membeku. Fenomena frost (banyu upas) ini merupakan peristiwa alam tahunan di lokasi wisata alam tersebut.

MALANG – Para pelancong yang ingin menikmati fenomena frost (banyu upas) atau embun beku di Gunung Bromo terpaksa gigit jari. Pasalnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang merupakan pengelola wisata Gunung Bromo, masih menutup total kawasan ini. Padahal, fenomena alam tahunan yang muncul kali pertama bulan Juni 2019 selalu dinantikan kehadirannya oleh wisatawan, demi melihat tumbuhan di wisata alam ini yang terselimutkan salju tipis.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Syarif Hidayat mengatakan, saat ini kawasan Bromo belum akan dibuka untuk umum. “Karena Covid-19 kawasan wisata masih ditutup total,” tegas Syarif.

Menurut dia, meski pihaknya saat ini telah menyiapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, namun untuk membuka kembali kawasan wisata TNBTS masih masih menunggu keputusan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Kami harus mematuhi Satgas Covid-19. Sejauh ini, kami sudah membuat protokol kesehatan. Tapi pelaksanaannya perlu dibicarakan lagi melibatkan berbagai pihak,” terangnya.

Syarif menerangkan, fenomena frost ini merupakan fenomena alam tahunan yang pertama kali muncul di Ranupane, Lumajang. Yaitu di jalur pendakian ke Gunung Semeru. Kemudian di Cemorolawang, Probolinggo, yang merupakan kawasan wisata gunung yang memiliki ketinggian 2.329 meter dari permukaan laut (mdpl) ini.

Selanjutnya, cuaca dingin yang cukup ekstrim membuat embun membekukan dedaunan dan rumput di kawasan wisata setempat. Yang mana hal itu malah menjadikan pemulihan ekosistem alami.

“Biasanya, rumput dan tanaman yang terkena frost akan memunculkan regenerasi rumput hijau yang lebih eksotis,” kata Syarif.

Pewarta: Sandra Desi
Foto: Dok Jawa Pos
Editor: Hendarmono Al Sidarto