JawaPos.com – Pemilu mestinya menjadi momentum untuk perubahan peradaban demokrasi. Semakin baiknya pelaksanaan pemilu maka akan berimbas pada kecerdasan publik dalam berdemokrasi.

Sekretaris Jenderal Mata Rakyat (Mara) Bayu Adi Permana menuturkan Pemilu 2019 harus bisa menjadi momentum bagi peradaban demokrasi Indonesia. Pemilu harus dipahami sebagai komitmen bagi masyarakat pada demokrasi, hukum, dan etika kebangsaan.

“Oleh karena itu masyarakat sipil harus bersatu mengawal pemilu,” ujar Bayu Adi di Jakarta Kamis (14/3). Pernyataan itu dikemukakannya di sela-sela Seminar tentang “Peta Konflik dan Ancaman Delegitimasi Hasil Pemilu. Seminar itu juga dihadiri anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk menciptakan peradaban demokrasi yang baik, penyelenggara pemilu harus menyelesaikan berbagai persoalan menyangkut pesta demokrasi tersebut. Contohnya data pemilih yang tidak akurat, munculnya warga negara asing (WNA) dalam daftar pemilih tetap (DPT), minimnya kepercayaan publik kepada penyelenggara, serta netralitas aparat pemerintahan.

“Persoalan-persoalan itu jika tidak segera dibenahi akan menjadi bom waktu bagi legitimasi pemilu,” ujarnya.

Sementara itu, Mochammad Afifuddin menyoroti maraknya informasi hoax yang menyudutkan kredibilitas penyelenggara pemilu. Hasilnya, lebih banyak masyarakat yang memberikan respons negatif lewat caci maki di media sosial.

“Kalau ada berita bohong yang diyakini publik bahwa penyelenggara pemilu tidak netral maka dampaknya ke kami,” aku Afif.

Editor           : Ilham Safutra