alexametrics
18.6 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Mantan Teroris Usul Kampus Perlu Bikin Zona Khusus Maba Radikal

MALANG KOTA- Ini barangkali saran berharga bagi pengelola perguruan tinggi. Untuk menangkal ada mahasiswa terpapar radikalisme, usulan mantan teroris Jack Harun ini patut diperhatikan. Yakni pihak kampus sedini mungkin mendeteksinya dengan cara pengelompokan mahasiswa baru (maba) yang terindikasi ada bibit paham ekstremisme dan radikalisme.

Jadi selama di kampus, mereka dibuatkan zona khusus maba radikal. Lantas bagaimana teknisnya? Dalam diskusi bertajuk Dialog Kebangsaan: Gerakan Filantropi Kedamaian di Sengkaling Convention Hall, kemarin (31/5), mantan teroris kasus bom Bali, Jack Harun memaparkan, momentum pemetaan sejak awal mahasiswa masuk kampus. Biasanya, saat masa orientasi mahasiswa baru (dulu Ospek), itu waktu yang tepat.

DIALOG: Diskusi bertajuk Dialog Kebangsaan: Gerakan Filantropi Kedamaian di Sengkaling Convention Hall, kemarin (31/5). Mantan teroris kasus bom Bali, Jack Harun memaparkan, momentum pemetaan sejak awal mahasiswa masuk kampus. (Andika/Radar Malang)

Kebetulan, Agustus mendatang, mahasiswa baru sudah masuk secara tatap muka. Jadi, salah satu materi dalam orientasi adalah menguji pemikiran masing-masing mahasiswa. Dari situ akan dikenali apakah maba memiliki bibit paham radikalisme atau tidak. Menurut Harun, maba perlu dikasih wadah untuk menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Sepengalaman Harun, karena tulisan itu umumnya mewakili sebuah pikiran. ”Dari tulisan itu kita bisa melihat, apakah mahasiswa ada yang memiliki bibit-bibit radikalisme atau tidak,” terang Harun. Setelah hasil tulisan diteliti lebih lanjut, nantinya baru digolongkan mahasiswa baru yang memiliki bibit-bibit radikalisme harus dijadikan satu. Untuk mendapatkan pengarahan bagaimana menjadi Islam yang moderat. Selain itu, untuk mempermudah pengawasan.

Pria kelahiran Kulonprogo itu juga menjelaskan, bagaimana cara mengajak kembali jika diketahui teman atau sanak saudara terjerat paham radikalisme maupun terorisme. Pertama yang harus dilakukan yakni, kita harus memperdalam ilmu terlebih dahulu. Jadi tidak bisa mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, jika ilmunya masih di bawah pelaku radikalisme maupun terorisme. ”Jadi harus bisa menjawab pendapat mereka dan berdiskusi dengan mereka. Awalnya kita harus ketahui hobi mereka apa, setelah itu baru diajak diskusi bahwa pemikiran mereka salah,” jelas Harun.

Dia menambahkan, hal yang mungkin kurang disadari masyarakat, tetapi berdampak besar kepada kegiatan terorisme, yaitu penyelewengan dana kotak amal untuk pendanaan operasional organisasi teroris. Harun menerangkan, saat ini banyak fenomena kotak amal yang ternyata digunakan untuk mendukung kegiatan teroris. ”Maka kami mengingatkan masyarakat harus lebih selektif. Misalnya ketika ada yang menitip kotak amal. Kita harus tanya dari mana, kemudian kalo perlu ditanya yayasan mana,” tegasnya.

Ketika yayasan atau muara dari sumbangan itu tidak jelas, Harun menghimbau agar masyarakat tidak menyumbangkan sepeser pun uang di kotak amal tersebut. Lebih baik masyarakat mempercayakan amal kepada pihak yang jelas sudah terpercaya dan kredibel. ”Maka pertama harus bertanya lebih dulu, jika dari jawaban kurang meyakinkan, lebih baik amal di lembaga terpercaya,” tandas dia. (adk/abm)

MALANG KOTA- Ini barangkali saran berharga bagi pengelola perguruan tinggi. Untuk menangkal ada mahasiswa terpapar radikalisme, usulan mantan teroris Jack Harun ini patut diperhatikan. Yakni pihak kampus sedini mungkin mendeteksinya dengan cara pengelompokan mahasiswa baru (maba) yang terindikasi ada bibit paham ekstremisme dan radikalisme.

Jadi selama di kampus, mereka dibuatkan zona khusus maba radikal. Lantas bagaimana teknisnya? Dalam diskusi bertajuk Dialog Kebangsaan: Gerakan Filantropi Kedamaian di Sengkaling Convention Hall, kemarin (31/5), mantan teroris kasus bom Bali, Jack Harun memaparkan, momentum pemetaan sejak awal mahasiswa masuk kampus. Biasanya, saat masa orientasi mahasiswa baru (dulu Ospek), itu waktu yang tepat.

DIALOG: Diskusi bertajuk Dialog Kebangsaan: Gerakan Filantropi Kedamaian di Sengkaling Convention Hall, kemarin (31/5). Mantan teroris kasus bom Bali, Jack Harun memaparkan, momentum pemetaan sejak awal mahasiswa masuk kampus. (Andika/Radar Malang)

Kebetulan, Agustus mendatang, mahasiswa baru sudah masuk secara tatap muka. Jadi, salah satu materi dalam orientasi adalah menguji pemikiran masing-masing mahasiswa. Dari situ akan dikenali apakah maba memiliki bibit paham radikalisme atau tidak. Menurut Harun, maba perlu dikasih wadah untuk menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Sepengalaman Harun, karena tulisan itu umumnya mewakili sebuah pikiran. ”Dari tulisan itu kita bisa melihat, apakah mahasiswa ada yang memiliki bibit-bibit radikalisme atau tidak,” terang Harun. Setelah hasil tulisan diteliti lebih lanjut, nantinya baru digolongkan mahasiswa baru yang memiliki bibit-bibit radikalisme harus dijadikan satu. Untuk mendapatkan pengarahan bagaimana menjadi Islam yang moderat. Selain itu, untuk mempermudah pengawasan.

Pria kelahiran Kulonprogo itu juga menjelaskan, bagaimana cara mengajak kembali jika diketahui teman atau sanak saudara terjerat paham radikalisme maupun terorisme. Pertama yang harus dilakukan yakni, kita harus memperdalam ilmu terlebih dahulu. Jadi tidak bisa mengajak mereka kembali ke jalan yang benar, jika ilmunya masih di bawah pelaku radikalisme maupun terorisme. ”Jadi harus bisa menjawab pendapat mereka dan berdiskusi dengan mereka. Awalnya kita harus ketahui hobi mereka apa, setelah itu baru diajak diskusi bahwa pemikiran mereka salah,” jelas Harun.

Dia menambahkan, hal yang mungkin kurang disadari masyarakat, tetapi berdampak besar kepada kegiatan terorisme, yaitu penyelewengan dana kotak amal untuk pendanaan operasional organisasi teroris. Harun menerangkan, saat ini banyak fenomena kotak amal yang ternyata digunakan untuk mendukung kegiatan teroris. ”Maka kami mengingatkan masyarakat harus lebih selektif. Misalnya ketika ada yang menitip kotak amal. Kita harus tanya dari mana, kemudian kalo perlu ditanya yayasan mana,” tegasnya.

Ketika yayasan atau muara dari sumbangan itu tidak jelas, Harun menghimbau agar masyarakat tidak menyumbangkan sepeser pun uang di kotak amal tersebut. Lebih baik masyarakat mempercayakan amal kepada pihak yang jelas sudah terpercaya dan kredibel. ”Maka pertama harus bertanya lebih dulu, jika dari jawaban kurang meyakinkan, lebih baik amal di lembaga terpercaya,” tandas dia. (adk/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/