alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Syiar Ramadan Bareng Rektor UIN Malang, Begini Pesan Habib Luthfi

MALANG KOTA – Syiar Ramadan Universitas Negeri Islam Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menghadirkan narasumber spesial, Minggu (2/5). Yakni Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI.

Dalam momen diskusi bersama Rektor UIN Maliki Prof Abdul Haris tersebut, Habib Luthfi mengapresiasi nama Maulana Malik Ibrahim merupakan sosok yang dikaguminya secara pribadi.

Ia menyatakan, dakwah yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim pada eranya terbilang tidak mudah. Perjuangan yang dilakukannya tentu dengan persiapan manajemen yang baik, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi yang lain.
”Bekal pengalaman dengan ilmu yang mumpuni, beliau mengetahui dunia pertanian dan ilmu obat sesuai zaman itu. Pola dakwah beliau yang rapi, memiliki pola yang cukup bisa memajukan peradaban pada saat itu,” jelas Habib Luthfi.

Menurutnya, Malik Ibrahim merupakan salah satu guru besar dari para ulama di masanya. Beliau mampu memberikan berbagai ilmu kepada bakal penerus yang dapat bermanfaat bagi umat yang akan datang.

Dalam perkembangan pendidikan, ia menyinggung jika perkembangan zaman turut menjadi salah satu tantangan dalam perkembangan kader pemimpin di masa depan. Karena itu, perlu dalam pengembangan itu membuka lebih jauh isi Al-Qur’an, yang isinya bukan hanya akidah dan tauhid, melainkan juga kaya akan ilmu pengetahuan.

“Supaya siap melahirkan generasi yang siap menjawab tantangan umat dan tantangan zaman, itu yang pokok. Sudah seharusnya generasi kita dalam dunia akademis maupun non-akademis memberikan kebermanfaatan luar biasa,” tegasnya.

Menurutnya, para sarjana ketika lulus dari perguruan tinggi tak perlu lagi membahas khilafiyah, sebab hal itu sering kali menimbulkan ketertinggalan karena masih terpengaruh dari isi bahasan tersebut.

Lebih lanjut, Habib Luthfi menjelaskan jika kepintaran tidak hanya di otak, namun juga harus pintar di hati. Artinya, hati harus diisi dengan dzikir untuk membersihkan kotoran maupun sifat yang kurang terpuji yang telah tertanam di hati.

“Dzikir mampu mencerahkan hati, kemudian harus membangun mental melalui spiritual. Tentu ini juga membantu untuk membangun karakter maupun keimanan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Pewarta: M. Ubaidillah

MALANG KOTA – Syiar Ramadan Universitas Negeri Islam Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menghadirkan narasumber spesial, Minggu (2/5). Yakni Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI.

Dalam momen diskusi bersama Rektor UIN Maliki Prof Abdul Haris tersebut, Habib Luthfi mengapresiasi nama Maulana Malik Ibrahim merupakan sosok yang dikaguminya secara pribadi.

Ia menyatakan, dakwah yang dilakukan oleh Maulana Malik Ibrahim pada eranya terbilang tidak mudah. Perjuangan yang dilakukannya tentu dengan persiapan manajemen yang baik, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi yang lain.
”Bekal pengalaman dengan ilmu yang mumpuni, beliau mengetahui dunia pertanian dan ilmu obat sesuai zaman itu. Pola dakwah beliau yang rapi, memiliki pola yang cukup bisa memajukan peradaban pada saat itu,” jelas Habib Luthfi.

Menurutnya, Malik Ibrahim merupakan salah satu guru besar dari para ulama di masanya. Beliau mampu memberikan berbagai ilmu kepada bakal penerus yang dapat bermanfaat bagi umat yang akan datang.

Dalam perkembangan pendidikan, ia menyinggung jika perkembangan zaman turut menjadi salah satu tantangan dalam perkembangan kader pemimpin di masa depan. Karena itu, perlu dalam pengembangan itu membuka lebih jauh isi Al-Qur’an, yang isinya bukan hanya akidah dan tauhid, melainkan juga kaya akan ilmu pengetahuan.

“Supaya siap melahirkan generasi yang siap menjawab tantangan umat dan tantangan zaman, itu yang pokok. Sudah seharusnya generasi kita dalam dunia akademis maupun non-akademis memberikan kebermanfaatan luar biasa,” tegasnya.

Menurutnya, para sarjana ketika lulus dari perguruan tinggi tak perlu lagi membahas khilafiyah, sebab hal itu sering kali menimbulkan ketertinggalan karena masih terpengaruh dari isi bahasan tersebut.

Lebih lanjut, Habib Luthfi menjelaskan jika kepintaran tidak hanya di otak, namun juga harus pintar di hati. Artinya, hati harus diisi dengan dzikir untuk membersihkan kotoran maupun sifat yang kurang terpuji yang telah tertanam di hati.

“Dzikir mampu mencerahkan hati, kemudian harus membangun mental melalui spiritual. Tentu ini juga membantu untuk membangun karakter maupun keimanan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Pewarta: M. Ubaidillah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru