alexametrics
22.4 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

3 Semester Kuliah Daring, 21 Persen Wisudawan ITN Raih Nilai Cumlaude

MALANG KOTA – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar wisuda ke-66 periode II tahun 2021 hari ini (2/10). Sejumlah total 571 wisudawan baik dari sarjana maupun pascasarjana dikukuhkan secara daring oleh Rektor ITN Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE.

Rektor ITN Malang Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE bersyukur pihaknya bisa bertahan dalam situasi pandemi saat ini. Pasalnya, pihaknya telah cukup baik melakukan pembelajaran online selama 3 semester. Hal itu dibuktikan dengan jumlah wisudawan yang berpredikat cumlaude bisa mencapai 21 persen dari total wisudawan. “Jumlah itu sama dengan wisuda sebelumnya, sekitar 21 persen. Dan cukup baiknya lagi jumlah wisudawan cumlaude itu sudah merata, tidak hanya di salah satu program studi (prodi),” tuturnya.

Prof Lomi juga berharap ketika mahasiswa lulus, artinya mereka sudah memperoleh kompetensi sesuai bidang ilmu yang ditekuni. Sehingga nanti ketika terjun ke masyarakat mereka bisa mengimplementasikan. “Bagaimana mereka sebagai masyarakat baru bisa mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan. Oleh karenanya, hari ini (Kamis, 30/9) kami juga memberikan pembekalan kepada wisudawan. Dengan harapan nanti mereka punya modal informasi di masyarakat,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, mereka menghadirkan salah satu narasumber HRD dari perusahaan besar. “Karena saya kira modal komunikasi mahasiswa di masyarakat kurang optimal. Sehingga untuk membantu mereka, setiap mau melaksanakan wisuda selalu ada pembekalan,” tambah dia.

Ditanya soal alasan menggelar wisuda daring, Prof Lomi menjelaskan saat ini belum memungkinkan situasinya untuk tatap muka. Meskipun surat edaran Wali Kota sudah memperbolehkan tatap muka 50 persen. Mengingat mahasiswa ITN yang diwisuda tak hanya dari Malang Raya, bahkan dari luar Jawa sehingga mengambil jalan aman untuk menggelar secara daring saja. “Nanti kalau mereka (wisudawan) ke sini harus karantina dan cari penginapan yang belum tentu diterima oleh pemilik kos karena dari luar kota. Sehingga kami putuskan full daring. Jika sudah menurun, minimal level satu, tatap muka akan diadakan semester yang akan datang,” tandas Prof Lomi.

Dari seluruh wisudawan, delapan wisudawan terbaik menyampaikan hasil karyanya selama menempuh pendidikan di ITN Malang. Di antaranya, Dyah Ayu Girindraswari dari prodi Teknik Elektro. Mahasiswa kelahiran Surabaya tersebut merancang sebuah sistem klasifikasi indeks massa tubuh dengan metode Fuzzy. Dengan metode itu, pengguna bisa melihat kadar lemak, kebutuhan kalori serta makanan atau minuman apa yang bisa dikonsumsi. “Keunggulan metode ini adalah bisa melihat kadar lemak dengan mudah. Saya berharap metode seperti ini bisa dipakai di puskesmas dan RS. Bahkan saat diujicobakan pun hasil error-nya masih 3 persen atau di bawah 5 persen. Sehingga bisa disebut akurat,” ujarnya.

Sementara itu, Muh. Fitra Rizki dari Prodi Teknik Informatika juga menunjukkan karyanya. Dia membuat sistem aplikasi deteksi cyber bullying pada social media Twitter. Alasan dipilihnya sistem tersebut karena pria asal Lombok Barat tersebut merasa prihatin terlalu bebasnya netizen Indonesia untuk berkomentar kasar tanpa menimbang kesopanan dan etika beropini. Padahal dampak dari bullying itu bisa melibatkan gangguan fisik, hingga psikologis bahkan keinginan untuk bunuh diri. “Cara kerja sistem ini yakni dengan menginput data file netizen. Atau melakukan crawling data dengan menulis hashtag twitter yang akan diambil. Misalnya #cebong, kemudian aplikasi akan mendeteksi dan melabeli kata positif dan negatif itu,” ujarnya.

Di sisi lain, ada juga wisudawan S2 Magister Konstruksi Arafah Diniari yang membeberkan pengalaman kerja yang dimiliki. Hampir 17 tahun, Arafah bekerja di bidang marketing dunia farmasi dan alat kesehatan. Dari pengalaman itu, dia menyadari banyak hal bisa terjadi di luar ekspektasi. Apalagi di dunia marketing itu punya usia masa produktif.

“Oleh karenanya saya memutuskan kembali melangkah di dunia pendidikan. Melanjutkan studi saya ke jenjang S2 yakni Teknik Sipil Manajemen Konstruksi. Saya meyakini investasi di dunia pendidikan tidak ada usia produktifnya. Karena dalam belajar tidak mengenal usia tua atau muda. Kalau kita mau kita akan berusaha dan akan diberi jalan,” pesannya. (bin/dik/rmc)

MALANG KOTA – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar wisuda ke-66 periode II tahun 2021 hari ini (2/10). Sejumlah total 571 wisudawan baik dari sarjana maupun pascasarjana dikukuhkan secara daring oleh Rektor ITN Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE.

Rektor ITN Malang Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE bersyukur pihaknya bisa bertahan dalam situasi pandemi saat ini. Pasalnya, pihaknya telah cukup baik melakukan pembelajaran online selama 3 semester. Hal itu dibuktikan dengan jumlah wisudawan yang berpredikat cumlaude bisa mencapai 21 persen dari total wisudawan. “Jumlah itu sama dengan wisuda sebelumnya, sekitar 21 persen. Dan cukup baiknya lagi jumlah wisudawan cumlaude itu sudah merata, tidak hanya di salah satu program studi (prodi),” tuturnya.

Prof Lomi juga berharap ketika mahasiswa lulus, artinya mereka sudah memperoleh kompetensi sesuai bidang ilmu yang ditekuni. Sehingga nanti ketika terjun ke masyarakat mereka bisa mengimplementasikan. “Bagaimana mereka sebagai masyarakat baru bisa mencari pekerjaan atau menciptakan pekerjaan. Oleh karenanya, hari ini (Kamis, 30/9) kami juga memberikan pembekalan kepada wisudawan. Dengan harapan nanti mereka punya modal informasi di masyarakat,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, mereka menghadirkan salah satu narasumber HRD dari perusahaan besar. “Karena saya kira modal komunikasi mahasiswa di masyarakat kurang optimal. Sehingga untuk membantu mereka, setiap mau melaksanakan wisuda selalu ada pembekalan,” tambah dia.

Ditanya soal alasan menggelar wisuda daring, Prof Lomi menjelaskan saat ini belum memungkinkan situasinya untuk tatap muka. Meskipun surat edaran Wali Kota sudah memperbolehkan tatap muka 50 persen. Mengingat mahasiswa ITN yang diwisuda tak hanya dari Malang Raya, bahkan dari luar Jawa sehingga mengambil jalan aman untuk menggelar secara daring saja. “Nanti kalau mereka (wisudawan) ke sini harus karantina dan cari penginapan yang belum tentu diterima oleh pemilik kos karena dari luar kota. Sehingga kami putuskan full daring. Jika sudah menurun, minimal level satu, tatap muka akan diadakan semester yang akan datang,” tandas Prof Lomi.

Dari seluruh wisudawan, delapan wisudawan terbaik menyampaikan hasil karyanya selama menempuh pendidikan di ITN Malang. Di antaranya, Dyah Ayu Girindraswari dari prodi Teknik Elektro. Mahasiswa kelahiran Surabaya tersebut merancang sebuah sistem klasifikasi indeks massa tubuh dengan metode Fuzzy. Dengan metode itu, pengguna bisa melihat kadar lemak, kebutuhan kalori serta makanan atau minuman apa yang bisa dikonsumsi. “Keunggulan metode ini adalah bisa melihat kadar lemak dengan mudah. Saya berharap metode seperti ini bisa dipakai di puskesmas dan RS. Bahkan saat diujicobakan pun hasil error-nya masih 3 persen atau di bawah 5 persen. Sehingga bisa disebut akurat,” ujarnya.

Sementara itu, Muh. Fitra Rizki dari Prodi Teknik Informatika juga menunjukkan karyanya. Dia membuat sistem aplikasi deteksi cyber bullying pada social media Twitter. Alasan dipilihnya sistem tersebut karena pria asal Lombok Barat tersebut merasa prihatin terlalu bebasnya netizen Indonesia untuk berkomentar kasar tanpa menimbang kesopanan dan etika beropini. Padahal dampak dari bullying itu bisa melibatkan gangguan fisik, hingga psikologis bahkan keinginan untuk bunuh diri. “Cara kerja sistem ini yakni dengan menginput data file netizen. Atau melakukan crawling data dengan menulis hashtag twitter yang akan diambil. Misalnya #cebong, kemudian aplikasi akan mendeteksi dan melabeli kata positif dan negatif itu,” ujarnya.

Di sisi lain, ada juga wisudawan S2 Magister Konstruksi Arafah Diniari yang membeberkan pengalaman kerja yang dimiliki. Hampir 17 tahun, Arafah bekerja di bidang marketing dunia farmasi dan alat kesehatan. Dari pengalaman itu, dia menyadari banyak hal bisa terjadi di luar ekspektasi. Apalagi di dunia marketing itu punya usia masa produktif.

“Oleh karenanya saya memutuskan kembali melangkah di dunia pendidikan. Melanjutkan studi saya ke jenjang S2 yakni Teknik Sipil Manajemen Konstruksi. Saya meyakini investasi di dunia pendidikan tidak ada usia produktifnya. Karena dalam belajar tidak mengenal usia tua atau muda. Kalau kita mau kita akan berusaha dan akan diberi jalan,” pesannya. (bin/dik/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/