alexametrics
22.5 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Perguruan Tinggi Islam Wajib Bangun Rumah Moderasi Agama

MALANG – Demi mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islan Negeri (PTKIN) dalam membentuk moderasi keagamaan yang toleran di tengah pandemi, Pascasarjana UIN Malang pada Rabu, (2/12) mengadakan Webinar Nasional dengan tema Mainstreaming Moderasi Beragama di PTKI dan Tantangannya di Era New Normal Life.

Pada webinar ini, Rektor UIN Malang, Prof Dr H Abdul Haris M Ag, dalam sambutannya mengatakan, PTKIN wajib membentuk membentuk individu yang moderat dan toleran sesuai dengan ajaran Agaman Islam. Apalagi di tengah pandemi covid yang mengharuskan saling menjaga antara satu dengan lainnya.

“Kita harus moderat dan toleran, jika ini diangkat di PTKIN ini bagus sebagai representasi Islam yang toleran,” ucap Abdul Haris.

Rektor UIN Malang, Prof Dr H Abd Haris M Ag (screenshot)

Direktur PTKI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Prof Dr Suyitno M Ag menambahkan, program Moderasi Beragama Ini sudah menjadi bagian yang harus ada di lembaga, sekalipun berdasarkan data tahun ini, dinyatakan hanya ada 19 PTKIN yang meresmikan tentang rumah moderasi agama yang di update setiap 14 Juli.

“Sampai saat ini, ada 19 PTKIN yang meresmikan rumah moderasi agama dan saya harapkan semuanya sudah berproses meresmikan karena hal ini penting,” ucap Suyitno.

Selain itu, ia juga menambahkan fungsi dari adanya rumah moderasi agama secara umum ada tiga hal yaitu riset, diklat dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Dalam pelaksanaannya juga harus terstruktur, dan tidak mengandalkan LP2M, sebab hal ini memang sudah ada dalam kementerian pusat.

Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA menambahkan, dalam pendahuluannya bahwa dari dulu kasus-kasus beragama ini banyak terjadi, misalnya: konflik Sampang, pembakaran rumah ibadah di Tolikara, konflik Ambon yang sampai saat ini masih ada dan lainnya, dan untuk mengasi tersebut rumah moderasi agama ini wajib direalisasikan dalam PTKIN. Sebab hal tersebut merupakan salah satu bentuk upaya dalam menciptakan kerukunan dan keharmonisan di masyarakat.

“Kasus-kasus intoleran seperti konflik di Sampang, Tolikara, Ambon yang sampai saat ini belum selesai dan lainnya perlu diatasi, dan salah satunya dengan membuat rumah moderasi agama ini karena hal tersebut merupakan prasyarat menciptakan kerukunan dan keharmonisan,” ucap Ahmad Rofiq.

Dengan penjelasan yang rinci dan detail tersebut, dalam penutupannya, Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang, Prof Dr Hj Umi Sumbulah, M Ag mengaku wawasan yang diberikan oleh para narasumber menjadi modal besar bagi para PTKIN untuk terus berkembang dan berkontribusi menjaga kerukunan bangsa Indonesia.

Ia menambahkan, sikap keberagamaan moderat harus dimiliki oleh semua dosen dan mahasiswa, sehingga mereka memiliki kontribusi signifikan dalam menyebarkan semangat moderasi beragama kepada masyarakat dan bangsa ini.

“Apa yg disampaikan sangat multi perspektif, sangat bagus, dan membuat kita lebih memahami tentang apa yang harus dilakukan oleh PTKIN. Dan kami sangat terimakasih telah hadirnya para direktur, dosen, peneliti, fkub dan semua peserta yang telah mengikuti acara ini,” pungkas Umi.

Pewarta: Ali Hasan Assidiqi

MALANG – Demi mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islan Negeri (PTKIN) dalam membentuk moderasi keagamaan yang toleran di tengah pandemi, Pascasarjana UIN Malang pada Rabu, (2/12) mengadakan Webinar Nasional dengan tema Mainstreaming Moderasi Beragama di PTKI dan Tantangannya di Era New Normal Life.

Pada webinar ini, Rektor UIN Malang, Prof Dr H Abdul Haris M Ag, dalam sambutannya mengatakan, PTKIN wajib membentuk membentuk individu yang moderat dan toleran sesuai dengan ajaran Agaman Islam. Apalagi di tengah pandemi covid yang mengharuskan saling menjaga antara satu dengan lainnya.

“Kita harus moderat dan toleran, jika ini diangkat di PTKIN ini bagus sebagai representasi Islam yang toleran,” ucap Abdul Haris.

Rektor UIN Malang, Prof Dr H Abd Haris M Ag (screenshot)

Direktur PTKI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Prof Dr Suyitno M Ag menambahkan, program Moderasi Beragama Ini sudah menjadi bagian yang harus ada di lembaga, sekalipun berdasarkan data tahun ini, dinyatakan hanya ada 19 PTKIN yang meresmikan tentang rumah moderasi agama yang di update setiap 14 Juli.

“Sampai saat ini, ada 19 PTKIN yang meresmikan rumah moderasi agama dan saya harapkan semuanya sudah berproses meresmikan karena hal ini penting,” ucap Suyitno.

Selain itu, ia juga menambahkan fungsi dari adanya rumah moderasi agama secara umum ada tiga hal yaitu riset, diklat dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Dalam pelaksanaannya juga harus terstruktur, dan tidak mengandalkan LP2M, sebab hal ini memang sudah ada dalam kementerian pusat.

Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA menambahkan, dalam pendahuluannya bahwa dari dulu kasus-kasus beragama ini banyak terjadi, misalnya: konflik Sampang, pembakaran rumah ibadah di Tolikara, konflik Ambon yang sampai saat ini masih ada dan lainnya, dan untuk mengasi tersebut rumah moderasi agama ini wajib direalisasikan dalam PTKIN. Sebab hal tersebut merupakan salah satu bentuk upaya dalam menciptakan kerukunan dan keharmonisan di masyarakat.

“Kasus-kasus intoleran seperti konflik di Sampang, Tolikara, Ambon yang sampai saat ini belum selesai dan lainnya perlu diatasi, dan salah satunya dengan membuat rumah moderasi agama ini karena hal tersebut merupakan prasyarat menciptakan kerukunan dan keharmonisan,” ucap Ahmad Rofiq.

Dengan penjelasan yang rinci dan detail tersebut, dalam penutupannya, Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang, Prof Dr Hj Umi Sumbulah, M Ag mengaku wawasan yang diberikan oleh para narasumber menjadi modal besar bagi para PTKIN untuk terus berkembang dan berkontribusi menjaga kerukunan bangsa Indonesia.

Ia menambahkan, sikap keberagamaan moderat harus dimiliki oleh semua dosen dan mahasiswa, sehingga mereka memiliki kontribusi signifikan dalam menyebarkan semangat moderasi beragama kepada masyarakat dan bangsa ini.

“Apa yg disampaikan sangat multi perspektif, sangat bagus, dan membuat kita lebih memahami tentang apa yang harus dilakukan oleh PTKIN. Dan kami sangat terimakasih telah hadirnya para direktur, dosen, peneliti, fkub dan semua peserta yang telah mengikuti acara ini,” pungkas Umi.

Pewarta: Ali Hasan Assidiqi

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/