alexametrics
18.5 C
Malang
Wednesday, 29 June 2022

Mahasiswa UB Malang Ubah Limbah Agar-agar Jadi Pembalut Eco Friendly

MALANG KOTA – Limbah agar-agar yang kaya kandungan selulosa diubah oleh mahasiswa Universitas Brawijaya Malang menjadi pembalut. Produk inovatif ini diklaim selain menjalankan fungsinya sebagai penampung darah menstruasi, juga bisa menjadi “penangkal” kanker serviks sekaligus ramah lingkungan alias eco friendly.

Pembalut ini dibuat dari limbah agar-agar karena memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Yakni berkisar 27,38 persen hingga 39,45 persen. Selulosa inilah yang diubah menjadi hydrogel, kemudian dicampur dengan kitosan.

”Inti penyerap ini memiliki sifat yang ramah lingkungan, sehingga akan lebih mudah didegradasi oleh bakteri pengurai,” kata Galuh Zhafirah Gafnie, salah satu anggota tim penelitian.

”Selain itu, inti penyerap ini juga aman bagi pengguna karena mengandung kitosan di dalamnya,” tambah Galuh.

Dalam penelitian itu, Galuh tidak sendirian. Ada empat mahasiswa lain. Yakni Riska Sulistianti Putri, Rafifa Bunga Jashinta, Nur Amalani Saputri, dan Abdul Gafur. Semuanya berasal dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB.

Galuh menambahkan, kandungan kitosan memiliki sifat sebagai anti-bakteri yang tidak berbau dan tidak berbahaya bagi tubuh. Dia berharap penelitian ini menjadi solusi atas keresahan masyarakat tentang ancaman kanker serviks.

Seperti diketahui, perempuan mengalami siklus bulanan secara alami yang biasa disebut menstruasi. Pada periode tersebut, pembalut menjadi kebutuhan utama. Meski sudah ada beberapa alternatif lainnya seperti menstrual cup dan pembalut kain, tapi mayoritas wanita di Indonesia masih banyak menggunakan pembalut pada saat menstruasi.

Penggunaan bahan sintetis seperti dioxin, pewangi, dan pemutih yang sering diaplikasikan pada pembalut memiliki efek samping yang kurang baik bagi kesehatan tubuh. Salah satunya adalah risiko terkena kanker serviks.

“Berdasarkan data dan informasi Kemenkes pada 2015 lalu, jumlah penderita kanker serviks di Indonesia mencapai 98.692 jiwa. Mayoritas dalam usia subur,” tandas Galuh.(adn/dan/rmc)

MALANG KOTA – Limbah agar-agar yang kaya kandungan selulosa diubah oleh mahasiswa Universitas Brawijaya Malang menjadi pembalut. Produk inovatif ini diklaim selain menjalankan fungsinya sebagai penampung darah menstruasi, juga bisa menjadi “penangkal” kanker serviks sekaligus ramah lingkungan alias eco friendly.

Pembalut ini dibuat dari limbah agar-agar karena memiliki kandungan selulosa yang tinggi. Yakni berkisar 27,38 persen hingga 39,45 persen. Selulosa inilah yang diubah menjadi hydrogel, kemudian dicampur dengan kitosan.

”Inti penyerap ini memiliki sifat yang ramah lingkungan, sehingga akan lebih mudah didegradasi oleh bakteri pengurai,” kata Galuh Zhafirah Gafnie, salah satu anggota tim penelitian.

”Selain itu, inti penyerap ini juga aman bagi pengguna karena mengandung kitosan di dalamnya,” tambah Galuh.

Dalam penelitian itu, Galuh tidak sendirian. Ada empat mahasiswa lain. Yakni Riska Sulistianti Putri, Rafifa Bunga Jashinta, Nur Amalani Saputri, dan Abdul Gafur. Semuanya berasal dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB.

Galuh menambahkan, kandungan kitosan memiliki sifat sebagai anti-bakteri yang tidak berbau dan tidak berbahaya bagi tubuh. Dia berharap penelitian ini menjadi solusi atas keresahan masyarakat tentang ancaman kanker serviks.

Seperti diketahui, perempuan mengalami siklus bulanan secara alami yang biasa disebut menstruasi. Pada periode tersebut, pembalut menjadi kebutuhan utama. Meski sudah ada beberapa alternatif lainnya seperti menstrual cup dan pembalut kain, tapi mayoritas wanita di Indonesia masih banyak menggunakan pembalut pada saat menstruasi.

Penggunaan bahan sintetis seperti dioxin, pewangi, dan pemutih yang sering diaplikasikan pada pembalut memiliki efek samping yang kurang baik bagi kesehatan tubuh. Salah satunya adalah risiko terkena kanker serviks.

“Berdasarkan data dan informasi Kemenkes pada 2015 lalu, jumlah penderita kanker serviks di Indonesia mencapai 98.692 jiwa. Mayoritas dalam usia subur,” tandas Galuh.(adn/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/