alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 23 January 2022

IDAI Malang: TK-SD Jangan Tatap Muka 100 Persen

MALANG KOTA – Rencana digelarnya pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di Kota Malang mengundang sorotan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Malang Raya merekomendasikan agar pembelajaran untuk jenjang TK dan SD (anak usia 6-11 tahun) tetap dilakukan secara hybrid. Hal itu karena munculnya varian Omicron yang terkonfirmasi masuk ke Jawa Timur, yaitu Kota Surabaya.

Ketua IDAI Jatim Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono SpA(K) menyatakan, sekolah tatap muka 100 persen untuk jenjang SD dan TK cukup berisiko untuk dilakukan saat ini. Pasalnya, vaksinasi dosis pertama baru dilakukan pada Desember lalu. Sehingga, estimasi rampungnya vaksinasi dosis kedua baru pada Februari mendatang. “Ketika Februari sudah semua mendapatkan dosis kedua, maka untuk dijalankan PTM 100 persen lebih aman. Mungkin tatap muka 100 persen bisa dilakukan akhir Februari atau Maret,” terang Haryoedi.

Sebelumnya, Pemkot Malang melalui dinas pendidikan dan kebudayaan berencana melaksanakan tatap muka 100 persen pada pekan depan. Hal itu juga didasari vaksinasi yang terus dilakukan. Sementara untuk pelajar SMP dan SMA serta para guru juga sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

Namun Haryoedi mengingatkan, varian baru Omicron telah terdeteksi masuk Jawa Timur. Itu menjadi hal yang harus dipertimbangkan, ketika akan melaksanakan tatap muka 100 persen. Pasalnya, anak usia 6-11 tahun belum mendapatkan suntikan vaksin dosis kedua. “Maka dari itu, kalau 6-11 tahun harus hybrid dulu. Karena ada temuan kasus Omicron, meskipun di Malang belum ada laporan,” ucap Haryoedi.

Imbauan IDAI agar tidak terburu-buru melaksanakan PTM 100 persen di Kota Malang itu, jelas Haryoedi, untuk berjaga-jaga agar tidak memicu gelombang ketiga Covid-19. Karena varian baru Omicron ini lebih cepat penularannya, meskipun gejala yang ditimbulkan tidak separah varian Delta. “Kita harus jaga, jangan sampai meledak seperti kemarin. Kalau sampai terulang, hal itu menjadi gelombang tiga yang lebih dahsyat. Tenaga kesehatan akan kembali kewalahan dan rumah sakit penuh seperti beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Lebih lanjut Haryoedi menerangkan, untuk sekolah tatap muka 100 persen jenjang SMP dan SMA (usia 12-18 tahun) bisa dilakukan dengan beberapa syarat. Di antaranya, yakni tidak ada peningkatan Covid-19 dan temuan kasus Omicron di daerah tersebut. Sedangkan pelaksanaan secara hybrid ketika ditemukan kasus Covid-19, namun positivity rate di bawah 8 persen. Serta ditemukan kasus Omicron, tetapi bisa dikendalikan. “Untuk di bawah usia 6 tahun agar jangan dilakukan dahulu tatap muka 100 persen. Karena belum ada dan belum mendapatkan vaksinasi Covid-19 secara penuh,” pungkasnya. (adk/nay)

MALANG KOTA – Rencana digelarnya pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen di Kota Malang mengundang sorotan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Malang Raya merekomendasikan agar pembelajaran untuk jenjang TK dan SD (anak usia 6-11 tahun) tetap dilakukan secara hybrid. Hal itu karena munculnya varian Omicron yang terkonfirmasi masuk ke Jawa Timur, yaitu Kota Surabaya.

Ketua IDAI Jatim Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adji Tjahjono SpA(K) menyatakan, sekolah tatap muka 100 persen untuk jenjang SD dan TK cukup berisiko untuk dilakukan saat ini. Pasalnya, vaksinasi dosis pertama baru dilakukan pada Desember lalu. Sehingga, estimasi rampungnya vaksinasi dosis kedua baru pada Februari mendatang. “Ketika Februari sudah semua mendapatkan dosis kedua, maka untuk dijalankan PTM 100 persen lebih aman. Mungkin tatap muka 100 persen bisa dilakukan akhir Februari atau Maret,” terang Haryoedi.

Sebelumnya, Pemkot Malang melalui dinas pendidikan dan kebudayaan berencana melaksanakan tatap muka 100 persen pada pekan depan. Hal itu juga didasari vaksinasi yang terus dilakukan. Sementara untuk pelajar SMP dan SMA serta para guru juga sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

Namun Haryoedi mengingatkan, varian baru Omicron telah terdeteksi masuk Jawa Timur. Itu menjadi hal yang harus dipertimbangkan, ketika akan melaksanakan tatap muka 100 persen. Pasalnya, anak usia 6-11 tahun belum mendapatkan suntikan vaksin dosis kedua. “Maka dari itu, kalau 6-11 tahun harus hybrid dulu. Karena ada temuan kasus Omicron, meskipun di Malang belum ada laporan,” ucap Haryoedi.

Imbauan IDAI agar tidak terburu-buru melaksanakan PTM 100 persen di Kota Malang itu, jelas Haryoedi, untuk berjaga-jaga agar tidak memicu gelombang ketiga Covid-19. Karena varian baru Omicron ini lebih cepat penularannya, meskipun gejala yang ditimbulkan tidak separah varian Delta. “Kita harus jaga, jangan sampai meledak seperti kemarin. Kalau sampai terulang, hal itu menjadi gelombang tiga yang lebih dahsyat. Tenaga kesehatan akan kembali kewalahan dan rumah sakit penuh seperti beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Lebih lanjut Haryoedi menerangkan, untuk sekolah tatap muka 100 persen jenjang SMP dan SMA (usia 12-18 tahun) bisa dilakukan dengan beberapa syarat. Di antaranya, yakni tidak ada peningkatan Covid-19 dan temuan kasus Omicron di daerah tersebut. Sedangkan pelaksanaan secara hybrid ketika ditemukan kasus Covid-19, namun positivity rate di bawah 8 persen. Serta ditemukan kasus Omicron, tetapi bisa dikendalikan. “Untuk di bawah usia 6 tahun agar jangan dilakukan dahulu tatap muka 100 persen. Karena belum ada dan belum mendapatkan vaksinasi Covid-19 secara penuh,” pungkasnya. (adk/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru