alexametrics
29.9 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Waspadai! Klaster Pendidikan Masuk Tiga Besar

MALANG KOTA-Keputusan kembali ke pembelajaran tatap muka (PTM) 50 persen harus bisa dipahami. Sebab, penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan juga terus meningkat. Dalam sebulan terakhir, setidaknya tercatat 84 kasus penularan di lembaga pendidikan. Jumlah itu tentu cukup banyak mengingat kasus aktif per kemarin (4/2) mencapai 449 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan bahwa lembaga pendidikan masuk tiga besar klaster penularan Covid-19 di samping klaster perkantoran dan keluarga. ”Untuk rinciannya belum kami rekap. Namun dari hasil tracing (pelacakan) dan testing, tiga klaster ini jadi yang dominan,” katanya.

Meski termasuk tiga besar, Husnul menjelaskan beberapa dari siswa atau mahasiswa tertular lebih dahulu di keluarga. Akibatnya, orang yang pernah kontak erat di lembaga pendidikan menjadi tertular. Jumlah kontak erat yang terpapar Covid-19 juga cukup banyak, namun 90 persen dari mereka terpapar tanpa gejala.

Karena itu, penanganannya cukup dilakukan dengan isolasi mandiri (isoman). Sebagian di rumah masing-masing, sebagian di fasilitas yang disediakan lembaga pendidikan. ”Misalnya MAN 2 yang menyediakan tempat isolasi di gedung aula. Sekarang juga ada beberapa sivitas akademika UM di asrama,” beber mantan direktur RSUD Kota Malang itu.

Direktur Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) sekaligus epidemolog Sri Andarini mengatakan bahwa kebijakan PTM 50 persen memang harus diambil. Hal ini bertujuan agar penularan Covid-19 dapat ditekan. Dia membenarkan bahwa vaksinasi membuat gejala yang ditimbulkan menjadi lebih ringan. Namun, yang dikhawatirkan adalah adanya beberapa orang yang belum vaksin dengan alasan-alasan tertentu.

Siswa yang belum mendapatkan vaksin inilah yang sangat berisiko. Sebab, di dalam tubuhnya belum terbentuk antibodi. Akan sangat berbahaya karena ada varian-varian baru yang bermunculan saat ini. ”Varian Delta juga masih mengancam hingga saat ini,” ujarnya. Sri menambahkan bahwa siswa dengan komorbid juga tidak kalah berisiko. Sebab tubuh harus benar-benar dalam kondisi sehat untuk menang melawan virus. ”Sehat saja masih belum menjamin tubuh akan kuat,” tandasnya. (adk/and/dre/fat)

MALANG KOTA-Keputusan kembali ke pembelajaran tatap muka (PTM) 50 persen harus bisa dipahami. Sebab, penyebaran Covid-19 di lingkungan pendidikan juga terus meningkat. Dalam sebulan terakhir, setidaknya tercatat 84 kasus penularan di lembaga pendidikan. Jumlah itu tentu cukup banyak mengingat kasus aktif per kemarin (4/2) mencapai 449 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan bahwa lembaga pendidikan masuk tiga besar klaster penularan Covid-19 di samping klaster perkantoran dan keluarga. ”Untuk rinciannya belum kami rekap. Namun dari hasil tracing (pelacakan) dan testing, tiga klaster ini jadi yang dominan,” katanya.

Meski termasuk tiga besar, Husnul menjelaskan beberapa dari siswa atau mahasiswa tertular lebih dahulu di keluarga. Akibatnya, orang yang pernah kontak erat di lembaga pendidikan menjadi tertular. Jumlah kontak erat yang terpapar Covid-19 juga cukup banyak, namun 90 persen dari mereka terpapar tanpa gejala.

Karena itu, penanganannya cukup dilakukan dengan isolasi mandiri (isoman). Sebagian di rumah masing-masing, sebagian di fasilitas yang disediakan lembaga pendidikan. ”Misalnya MAN 2 yang menyediakan tempat isolasi di gedung aula. Sekarang juga ada beberapa sivitas akademika UM di asrama,” beber mantan direktur RSUD Kota Malang itu.

Direktur Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) sekaligus epidemolog Sri Andarini mengatakan bahwa kebijakan PTM 50 persen memang harus diambil. Hal ini bertujuan agar penularan Covid-19 dapat ditekan. Dia membenarkan bahwa vaksinasi membuat gejala yang ditimbulkan menjadi lebih ringan. Namun, yang dikhawatirkan adalah adanya beberapa orang yang belum vaksin dengan alasan-alasan tertentu.

Siswa yang belum mendapatkan vaksin inilah yang sangat berisiko. Sebab, di dalam tubuhnya belum terbentuk antibodi. Akan sangat berbahaya karena ada varian-varian baru yang bermunculan saat ini. ”Varian Delta juga masih mengancam hingga saat ini,” ujarnya. Sri menambahkan bahwa siswa dengan komorbid juga tidak kalah berisiko. Sebab tubuh harus benar-benar dalam kondisi sehat untuk menang melawan virus. ”Sehat saja masih belum menjamin tubuh akan kuat,” tandasnya. (adk/and/dre/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/