alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

PLTS ITN Malang Jadi Pertama di Jawa, Kedua di Indonesia

MALANG KOTA – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 500 kilowatt peak (KWp). PLTS tersebut akan menjadi pembangkit listrik terbarukan yang pertama di pulau Jawa dan yang kedua setelah Institut Teknologi Sumatera.

Hal itu disampaikan langsung oleh Rektor ITN Malang Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE. Ia menjelaskan, PLTS tersebut nantinya tak hanya dimanfaatkan untuk lingkup kampus ITN Malang saja. Namun, produksi listrik yang dihasilkan nantinya akan diekspor ke PLN dengan bentuk perjanjian kerja sama, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya.

“Biaya pembangunan PLTS sangat besar. Akhirnya ada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya dan juga PT Sun Energi yang menawarkan kerja sama. Di sisi lain kita punya lahan yang luas, kemudian jadilah kerjasama ini. Untuk proses pembangunan sekitar 4 bulan,” jelasnya.

Direktur Operasi PT Wijaya Karya Harum Akhmad Zuhdi menjelaskan, sebagai pihak yang ditunjuk menjadi leader dalam renewable energy, ia meyakini ada potensi besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia mulai dari energi surya, geothermal, dan lainnya.

“Saya tentu akan campaign itu. Indonesia masih belum bisa mengelola energi terbarukan dengan baik, padahal semua itu ada di Indonesia. Padahal semua itu milik kita tinggal kita saja bagaimana untuk mengelolanya,” ujar Harum Ahmad.

Tentunya dengan energi yang melimpah akan membuat kemajuan yang besar bagi satu bangsa. Pembangunan akan semakin mudah dilanjutkan dengan melimpahnya energi, karena energi menjadi kebutuhan abadi bagi manusia.

“Kita bangkit lewat energi. Saya ingin adik-adik kita sudah paham sejak mulai mahasiswa. Sehingga project ini tentunya bisa menjadi sarana belajar para mahasiswa dan yang lainnya. Sehingga saat mereka keluar nantinya siap dalam dunia kerja,” bebernya.

Sementara, perwakilan PT Sun Energi, Reynaldi Wijaya menambahkan jika PLTS nantinya akan dibangun secara on grid. Sistem ini merupakan sistem fotovoltaik yang hanya menghasilkan daya ketika jaringan daya utilitas PLN tersedia. Sistem ini harus terhubung ke grid agar berfungsi.

Sistem On-Grid merupakan sistem paling sederhana dan paling hemat daya biaya untuk menginstal energi panel surya dibanding sistem Off-Grid. Namun, sistem ini tidak memberikan daya cadangan selama pemadaman jaringan.

“Kapasitasnya tentu bisa di-expand lagi, tergantung kemampuan kampus. Nanti kelebihan dayanya, kita akan ekspor ke PLN melalui kerjasama,” pungkasnya.

Pewarta : M. Ubaidillah

MALANG KOTA – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 500 kilowatt peak (KWp). PLTS tersebut akan menjadi pembangkit listrik terbarukan yang pertama di pulau Jawa dan yang kedua setelah Institut Teknologi Sumatera.

Hal itu disampaikan langsung oleh Rektor ITN Malang Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE. Ia menjelaskan, PLTS tersebut nantinya tak hanya dimanfaatkan untuk lingkup kampus ITN Malang saja. Namun, produksi listrik yang dihasilkan nantinya akan diekspor ke PLN dengan bentuk perjanjian kerja sama, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya.

“Biaya pembangunan PLTS sangat besar. Akhirnya ada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya dan juga PT Sun Energi yang menawarkan kerja sama. Di sisi lain kita punya lahan yang luas, kemudian jadilah kerjasama ini. Untuk proses pembangunan sekitar 4 bulan,” jelasnya.

Direktur Operasi PT Wijaya Karya Harum Akhmad Zuhdi menjelaskan, sebagai pihak yang ditunjuk menjadi leader dalam renewable energy, ia meyakini ada potensi besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia mulai dari energi surya, geothermal, dan lainnya.

“Saya tentu akan campaign itu. Indonesia masih belum bisa mengelola energi terbarukan dengan baik, padahal semua itu ada di Indonesia. Padahal semua itu milik kita tinggal kita saja bagaimana untuk mengelolanya,” ujar Harum Ahmad.

Tentunya dengan energi yang melimpah akan membuat kemajuan yang besar bagi satu bangsa. Pembangunan akan semakin mudah dilanjutkan dengan melimpahnya energi, karena energi menjadi kebutuhan abadi bagi manusia.

“Kita bangkit lewat energi. Saya ingin adik-adik kita sudah paham sejak mulai mahasiswa. Sehingga project ini tentunya bisa menjadi sarana belajar para mahasiswa dan yang lainnya. Sehingga saat mereka keluar nantinya siap dalam dunia kerja,” bebernya.

Sementara, perwakilan PT Sun Energi, Reynaldi Wijaya menambahkan jika PLTS nantinya akan dibangun secara on grid. Sistem ini merupakan sistem fotovoltaik yang hanya menghasilkan daya ketika jaringan daya utilitas PLN tersedia. Sistem ini harus terhubung ke grid agar berfungsi.

Sistem On-Grid merupakan sistem paling sederhana dan paling hemat daya biaya untuk menginstal energi panel surya dibanding sistem Off-Grid. Namun, sistem ini tidak memberikan daya cadangan selama pemadaman jaringan.

“Kapasitasnya tentu bisa di-expand lagi, tergantung kemampuan kampus. Nanti kelebihan dayanya, kita akan ekspor ke PLN melalui kerjasama,” pungkasnya.

Pewarta : M. Ubaidillah

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru