alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Merger Kampus Swasta, Ini Saran Unisma

MALANG KOTA – Rencana Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) melakukan merger perguruan tinggi swasta (PTS) menuai respons pro dan kontra. Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah VII Jawa Timur (wilayah Malang Raya) mendukung, tapi ada juga kampus swasta yang keberatan.

Alasan Aptisi Malang Raya mendukung merger atau penggabungan kampus swasta karena diyakini menjadi momen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Apalagi fokus merger tersebut adalah kampus swasta yang mahasiswanya di bawah 1000.

”Itu (merger) adalah sinergi yang bagus. Di sisi lain juga akan bisa menghemat biaya operasional perguruan tinggi,” ujar Ketua Aptisi Malang Raya Prof Dr Dyah Sawitri SE MM kemarin (4/5).

Perempuan yang juga Rektor Universitas Gajayana (Uniga) itu mengungkapkan, selama pandemi Covid-19 ini banyak perguruan tinggi yang tergerus biaya operasionalnya. Dengan merger, dia melanjutkan, biaya operasional bisa ditekan karena ditopang kampus lain yang tergabung dalam merger tersebut.

Lantas, bagaimana dengan nama kampus baru pascamerger? Dyah optimistis Kemendikbud-Ristek sudah menyiapkan regulasinya. Dia yakin, nantinya ada kebijakan lanjutan terkait pemilihan nama kampus baru hasil merger, termasuk manajemennya juga.

Senada dengan Prof Dyah, Rektor Universitas Widyagama Dr Agus Tugas Sudjianto juga merespons positif wacana merger kampus swasta. Menurut dia, cara ini akan mampu menyelamatkan PTS dari ancaman gulung tikar lantaran kekurangan mahasiswa. Sebab, peminat PTS masih kalah jauh dibanding dengan peminat Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

”Malah sebenarnya merger itu lebih bagus untuk menjaga mutu perguruan tinggi daripada harus ditutup,” tutur Agus.

Agus melanjutkan, keberadaan PTS yang dimerger ini akan bisa melakukan fungsinya, yakni mencerdaskan anak bangsa. Ketentuan merger ini akan menguntungkan PTS yang kekurangan mahasiswa daripada dua PTS kecil dengan risiko ditutup akibat kekurangan mahasiswa. Pada intinya, dia menyambut baik rencana penggabungan PTS ini.

Berbeda dengan Dyah dan Agus, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Dr H. Maskuri MSi mengkritisi wacana merger kampus swasta. Menurut Maskuri, mendirikan lembaga pendidikan tidaklah mudah, terutama dari biaya yang harus memadai.

”Saya menyarankan pemerintah lebih baik membina lembaga pendidikan, dalam hal ini PTS, daripada harus merger,” kata Maskuri.

Dosen Pascasarjana Unisma juga menyarankan kepada Kemendikbud-Ristek untuk lebih menghargai usaha suatu yayasan yang peduli dengan pendidikan. Namun, dia tidak memaksakan kehendaknya terkait hal itu. Tentunya harus ada kajian dengan PTS terkait apakah bersedia dimerger. Prof Maskuri pun ingin semua pihak turut andil menyukseskan pendidikan tinggi. (ref/adn/c1/dan/fia)

MALANG KOTA – Rencana Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) melakukan merger perguruan tinggi swasta (PTS) menuai respons pro dan kontra. Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah VII Jawa Timur (wilayah Malang Raya) mendukung, tapi ada juga kampus swasta yang keberatan.

Alasan Aptisi Malang Raya mendukung merger atau penggabungan kampus swasta karena diyakini menjadi momen untuk meningkatkan mutu pendidikan. Apalagi fokus merger tersebut adalah kampus swasta yang mahasiswanya di bawah 1000.

”Itu (merger) adalah sinergi yang bagus. Di sisi lain juga akan bisa menghemat biaya operasional perguruan tinggi,” ujar Ketua Aptisi Malang Raya Prof Dr Dyah Sawitri SE MM kemarin (4/5).

Perempuan yang juga Rektor Universitas Gajayana (Uniga) itu mengungkapkan, selama pandemi Covid-19 ini banyak perguruan tinggi yang tergerus biaya operasionalnya. Dengan merger, dia melanjutkan, biaya operasional bisa ditekan karena ditopang kampus lain yang tergabung dalam merger tersebut.

Lantas, bagaimana dengan nama kampus baru pascamerger? Dyah optimistis Kemendikbud-Ristek sudah menyiapkan regulasinya. Dia yakin, nantinya ada kebijakan lanjutan terkait pemilihan nama kampus baru hasil merger, termasuk manajemennya juga.

Senada dengan Prof Dyah, Rektor Universitas Widyagama Dr Agus Tugas Sudjianto juga merespons positif wacana merger kampus swasta. Menurut dia, cara ini akan mampu menyelamatkan PTS dari ancaman gulung tikar lantaran kekurangan mahasiswa. Sebab, peminat PTS masih kalah jauh dibanding dengan peminat Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

”Malah sebenarnya merger itu lebih bagus untuk menjaga mutu perguruan tinggi daripada harus ditutup,” tutur Agus.

Agus melanjutkan, keberadaan PTS yang dimerger ini akan bisa melakukan fungsinya, yakni mencerdaskan anak bangsa. Ketentuan merger ini akan menguntungkan PTS yang kekurangan mahasiswa daripada dua PTS kecil dengan risiko ditutup akibat kekurangan mahasiswa. Pada intinya, dia menyambut baik rencana penggabungan PTS ini.

Berbeda dengan Dyah dan Agus, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Dr H. Maskuri MSi mengkritisi wacana merger kampus swasta. Menurut Maskuri, mendirikan lembaga pendidikan tidaklah mudah, terutama dari biaya yang harus memadai.

”Saya menyarankan pemerintah lebih baik membina lembaga pendidikan, dalam hal ini PTS, daripada harus merger,” kata Maskuri.

Dosen Pascasarjana Unisma juga menyarankan kepada Kemendikbud-Ristek untuk lebih menghargai usaha suatu yayasan yang peduli dengan pendidikan. Namun, dia tidak memaksakan kehendaknya terkait hal itu. Tentunya harus ada kajian dengan PTS terkait apakah bersedia dimerger. Prof Maskuri pun ingin semua pihak turut andil menyukseskan pendidikan tinggi. (ref/adn/c1/dan/fia)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru