alexametrics
22.6 C
Malang
Wednesday, 23 September 2020

Dilema Belajar Daring: Dituruti Bikin Kantong Jebol, Tak Dituruti…

- Advertisement -
- Advertisement -

MALANG KOTA – Beban orang tua yang anaknya mengikuti pembelajaran via daring (online), dirasakan semakin hari semakin berat. Terutama besarnya biaya kuota internet yang dikeluarkan setiap siswa bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 480 ribu per bulan.

Bagi orangtua siswa yang mampu tidak akan menjadi kendala biaya sebesar itu dikeluarkan untuk biaya belajar daring. Namun, akan menjadi beban berat bagi mereka yang penghasilannya terbatas.

Jawa Pos Radar Malang yang mencoba menggali data dari orangtua siswa, rata-rata mengeluhkan atas tingginya biaya paket data internet untuk memenuhi pembelajaran daring ini.

Contohnya, Aisyah, wali murid yang anaknya sekolah di salah satu SD di kawasan Purwantoro, Kecamatan Blimbing. Dia mengungkapkan rata-rata sekitar Rp 480.000 per bulan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan anaknya mengerjakan tugas dan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Per hari, anak saya butuh paket data untuk mengikuti PJJ sekitar 1,5 – 2 GB seharga Rp 24 ribu. Dengan asumsi sabtu dan minggu libur atau 20 hari dalam sebulan mengikuti pelajaran, saya menghitung pengeluaran pulsa itu sekitar Rp 480.000 per bulan (24.000 x 20). Itu karena anak saya belajar mulai jam 8 pagi sampai 2 siang,” papar Aisyah yang ditemui Jawa Pos Radar Malang di rumahnya, kawasan Purwantoro, kemarin (4/8).

Ibu dua anak itu pernah berusaha meminimalisasi pengeluaran untuk pulsa. Caranya, dia memakai paket data dari proiver yang mematok harga miring. Selisihnya sekitar Rp 9 ribu untuk paket data 1,5 – 2 GB. Jika memakai provider mahal dia membayar Rp 24.000. Tapi setelah menggunakan provider murah itu hanya menghabiskan sekitar Rp 15.000. Tapi kelemahannya, menurut dia, jaringannya tidak luas sehingga sulit mencari sinyal. ”Habis sekitar Rp 300 ribu per bulan. Tapi ya lemot sinyalnya,” keluh dia.

Tingginya biaya paket data internet juga dikeluhkan oleh Dina, orang tua siswa yang anaknya masih kelas V SD di kawasan Blimbing, Kecamatan Blimbing tersebut. Hanya saja, pengeluaran Dina untuk paket data internet tidak sebesar Aisyah. Jika setiap bulannya rata-rata Aisyah menghabiskan biaya Rp 300 ribu-Rp 480 ribu per anak, Dina hanya Rp 50 ribu per bulan.

”Jumlah ini perkiraan saya saja, karena tiap bulannya tidak tentu habisnya. Tapi yang bikin pusing, kadang saat kirim tugas, sinyalnya tidak ada,” tutur ibu dari Ameera Hanin Khansa itu.

Perempuan yang berdomisili di kawasan Blimbing itu mengatakan, hingga kini tidak ada bantuan dari pemerintah. Pihaknya juga tidak menerima bantuan pulsa, meski Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membolehkan uang BOS (bantuan operasional sekolah) dari APBN untuk biaya paket internet siswa.

Bagaimana dengan orang tua siswa yang sudah memasang wifi? Sita Arum, salah satu wali murid yang anaknya kelas II SMP itu mengatakan, pihaknya menghabiskan sekitar Rp 320 ribu per bulan untuk paket data internet. ”Itu dipakai orang satu rumah sih. Untuk saya WFH (Work From Home) juga, karena setiap hari saya on line class,” kata perempuan yang juga guru itu.

Aisyah, Dina, dan Sita Arum itu hanyalah sebagian kecil dari puluhan ribu wali murid di Kota Malang yang terimbas pembelajaran via daring. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengungkap, di Kota Malang ada 41.600 siswa SD, SMP, SMA/SMK. Rinciannya, 21.396 siswa SD, 3.823 siswa di jenjang SMP, 5.035 siswa SMA, dan 11.346 siswa.

Semuanya mengikuti pembelajaran via daring. Hal itu karena Kota Malang masuk kategori zona merah sebaran Covid-19, sehingga tidak boleh melakukan pembelajaran tatap muka.

Jika diambil rata-rata setiap siswa mengeluarkan biaya Rp 300 ribu untuk paket data internet, berarti ada sekitar Rp 12,4 miliar per bulan (300.000 x 41.600). Sementara proses pembelajaran via daring ini sudah berlangsung selama lima bulan, yakni sejak April 2020 lalu. Dengan demikian, jika dikalkulasi selama lima bulan, maka wali murid sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp 62,4 miliar (Rp 12,4 miliar x 5).

Beban para orang tua siswa itu akan bertambah jika Kemendikbud memperpanjang pembelajaran melalui daring. Di satu sisi, program tersebut memang menjadi salah satu cara efektif untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona. Tapi di sisi lain, menambah beban orang tua siswa sehingga menjadikan dilematis.

Pewarta: Errica Vannie
Foto: Darmono
Editor: Hendarmono Al S

- Advertisement -

Latest news

Pakar: ‘Pecahnya’ Suara NU Untungkan Incumbent

“Tapi kalau pengamatan saya, “pecahnya” suara NU akan untungkan incumbent. Dia bisa dapat dukungan kalangan NU dan nasional karena diusung partai nasional," kata pria yang juga menjadi Ketua Program Studi Magister Ilmu Sosial FISIP UB ini, Rabu (23/9).
- Advertisement -

PKKMB Uniga, Ajak Maba Tetap Semangat di Tengah Pandemi Covid-19

MALANG – Universitas Gajayana Malang menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2020 -2021. Dalam kegiatan yang digelar secara daring dan luring selama tiga hari tersebut, Uniga mengangkat tema Tetap Semangat di Era Pandemi Covid-19, Bersama Uniga Menjadi yang Terdepan dan Berkarakter.

PLN UP3 Malang Salurkan 50 Tong Sampah di Pantai Selatan

MALANG - Sebanyak 50 tong sampah dibagikan di daerah wilayah pantai selatan yakni, Pantai Balekambang dan Sendang Biru, kabupaten Malang dalam rangka “Word Clean Up Day 2020”, Selasa (22/9). Sebagai wujud kepedulian PLN terhadap lingkungan sekitar, karena saat ini sampah menjadi masalah serius terutama di daerah wisata terbuka seperti pantai.

Besok Pengundian Nomor Urut, KPU Batasi Tiap Paslon Bawa 12 Pendukung

Ketua KPU Kabupaten Malang Anis Suhartini menambahkan, semua yang hadir dalam kegiatan pengundian nomor urut paslon juga harus mengenakan protap kesehatan. Hal ini juga sudah diatur dalam aturan Pilkada serentak.

Related news

PKKMB Uniga, Ajak Maba Tetap Semangat di Tengah Pandemi Covid-19

MALANG – Universitas Gajayana Malang menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2020 -2021. Dalam kegiatan yang digelar secara daring dan luring selama tiga hari tersebut, Uniga mengangkat tema Tetap Semangat di Era Pandemi Covid-19, Bersama Uniga Menjadi yang Terdepan dan Berkarakter.

UIN Malang Mengabdi, Ajari Petani Olah Sayur Demi Dongkrak Penjualan

MESKI proses belajar mengajar lewat daring, sejumlah dosen UIN Malang tak di rumah saja. Sejak Agustus lalu mereka yang terbagi dalam 50 kelompok mengikuti program UIN Mengabdi bertajuk Qoryah Thoyibah (Kampung Tangguh). Tugasnya mendampingi warga bidang pemberdayaan ekonomi dan sosialnya. Mereka juga melaporkam hasil aktivitasnya yang dimuat berseri di Jawa Pos Radar Malang.

Jadikan Mapel Kimia Disukai, Dosen UM Latih Avogadro Siswa SMAN 10

“Konsepnya menyenangkan. Saya berharap Avogadro bisa diterapkan di sekolah sebagai penunjang siswa dalam memahami mapel (mata pelajaran) kimia,” kata Agam Priambodo SPd, salah satu peserta pelatihan, Senin (21/9).

Belum Terdaftar PDPT, Maba Jangan Ngarep Dapat Kuota Gratis 50GB

"Itu adalah syarat utama untuk mendapatkan kuota internetnya Kemendikbud. Saat ini belum semua mahasiswa baru telah teregistrasi ke PDPT Kemendikbud. Jadi begitu nanti data ke seluruh maba tervalidasi, maka Pak Rektor akan memberikan surat pengantar ke Kemendikbud," jelas dia.
- Advertisement -