alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 23 January 2022

Pakar Sebut Kurikulum Prototipe Itu Onderdil Klasik Pakai Nama Baru

MALANG- Ada kritikan menarik dari pakar pendidikan Universitas Negeri Malang Prof Dr Djoko Saryono MPd terkait kurikulum baru ini.  Dia menyebut, kurikulum ini seperti onderdil lama yang diberi nama baru.

Artinya memang sesungguhnya tidak ada yang baru. Kritikan lainnya, sepanjang sejarah pembuatan dan penerapan kurikulum di Indonesia, baru kali ini dibuat diam-diam dan sepi dari diskusi publik. ”Pasti alasannya pandemi. Kalau toh ada uji publik berupa FGD (focus group discussion) pasti terbatas dan diam-diam pula,” sesal Djoko Saryono.

Menurut dia, kalangan masyarakat juga kesulitan mengakses naskah atau draf kurikulum sampai diumumkan oleh pemerintah. “Cara begini tak memenuhi asas deliberasi kebijakan publik. Ini rawan mengalami resistensi publik, bahkan internal,” kritik dia.

Sayangnya, menurut dosen yang juga sastrawan ini, kebanyakan guru di Indonesia termasuk di Kota Malang rata-rata guru realistis. Bahkan tak sedikit guru fatalis dan transaksionalis. “Apa pun kebijakan akan diamini dan dilaksanakan sekadarnya dan seperlunya,” ungkap dia.

Dari sini, dia merasa kasihan dengan para guru karena kerap ada perubahan kurikulum. Mereka tampak kelelahan dengan perubahan tertubi-tubi yang diatasnamakan inovasi dan paradigma baru, termasuk kurikulum prototipe ini. ”Ibaratnya, mereka capek disuruh pindah-pindah mobil yang dicat baru (tapi bus lama sejatinya) di tengah jalan belum sampai tujuan,” kata Djoko mengilustrasikan.

Dia mengaku, secara detail belum bisa memahami kelemahan dan kelebihan kurikulum bari ini. Karena memang belum final. Karena itu konstruksi dan perangkat kurikulumnya belum sampai pada kecukupan dan kememadaian. Padahal, keberhasilan sebuah kurikulum ditentukan sangat banyak faktor. Secara teoritis, pakai desain kebijakan Edward dan Mazmanian, keberhasilan ditentukan oleh konstruksi kurikulumnya, kemudian implementasinya, yang meliputi disposisi (semangat) pelaksana, kememadaian sumber daya (manusia dan non-manusia), struktur organisasi pelaksana, dan budaya pelaksanaan. ”Apakah semua itu sudah disiapkan? Setahu saya belum. Jadi tak bisa dadakan,” tegas guru besar UM ini. (dre/abm)

MALANG- Ada kritikan menarik dari pakar pendidikan Universitas Negeri Malang Prof Dr Djoko Saryono MPd terkait kurikulum baru ini.  Dia menyebut, kurikulum ini seperti onderdil lama yang diberi nama baru.

Artinya memang sesungguhnya tidak ada yang baru. Kritikan lainnya, sepanjang sejarah pembuatan dan penerapan kurikulum di Indonesia, baru kali ini dibuat diam-diam dan sepi dari diskusi publik. ”Pasti alasannya pandemi. Kalau toh ada uji publik berupa FGD (focus group discussion) pasti terbatas dan diam-diam pula,” sesal Djoko Saryono.

Menurut dia, kalangan masyarakat juga kesulitan mengakses naskah atau draf kurikulum sampai diumumkan oleh pemerintah. “Cara begini tak memenuhi asas deliberasi kebijakan publik. Ini rawan mengalami resistensi publik, bahkan internal,” kritik dia.

Sayangnya, menurut dosen yang juga sastrawan ini, kebanyakan guru di Indonesia termasuk di Kota Malang rata-rata guru realistis. Bahkan tak sedikit guru fatalis dan transaksionalis. “Apa pun kebijakan akan diamini dan dilaksanakan sekadarnya dan seperlunya,” ungkap dia.

Dari sini, dia merasa kasihan dengan para guru karena kerap ada perubahan kurikulum. Mereka tampak kelelahan dengan perubahan tertubi-tubi yang diatasnamakan inovasi dan paradigma baru, termasuk kurikulum prototipe ini. ”Ibaratnya, mereka capek disuruh pindah-pindah mobil yang dicat baru (tapi bus lama sejatinya) di tengah jalan belum sampai tujuan,” kata Djoko mengilustrasikan.

Dia mengaku, secara detail belum bisa memahami kelemahan dan kelebihan kurikulum bari ini. Karena memang belum final. Karena itu konstruksi dan perangkat kurikulumnya belum sampai pada kecukupan dan kememadaian. Padahal, keberhasilan sebuah kurikulum ditentukan sangat banyak faktor. Secara teoritis, pakai desain kebijakan Edward dan Mazmanian, keberhasilan ditentukan oleh konstruksi kurikulumnya, kemudian implementasinya, yang meliputi disposisi (semangat) pelaksana, kememadaian sumber daya (manusia dan non-manusia), struktur organisasi pelaksana, dan budaya pelaksanaan. ”Apakah semua itu sudah disiapkan? Setahu saya belum. Jadi tak bisa dadakan,” tegas guru besar UM ini. (dre/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru