alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Novi Hanabi, Arek Gadang Malang Jadi Publisis Film Ternama

Dia bukan sutradara. Bukan pula aktor/aktris film. Namun, perannya sangat vital untuk meraih sukses atau tidaknya sebuah film di pasaran. Dialah Novi Hanabi, publisis serial Keluarga Garuda di Dadaku, Filosofi Kopi, Dear Nathan, dan Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI).

Wajahnya tampak bahagia saat menyapa Jawa Pos Radar Malang melalui sambungan video call kemarin (6/7). Dia adalah Novi Hanabi. Wanita asal Kota Malang itu merupakan publisis film yang sudah mengorbitkan sejumlah film di bioskop. Hebatnya, sejumlah film yang digarapnya tayang cukup lama di bioskop se-Indonesia.

Alumnus Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah terjun ke dunia perfilman sejak duduk di bangku kuliah pada 2008 silam. Novi–sapaan akrabnya– bercerita bahwa awalnya ingin terjun ke jurusan desain ataupun ilmu eksak. Namun, karena sang ibu tidak ingin anaknya menekuni ilmu ”kelas berat” itu, dia banting setir ke jurusan ilmu komunikasi.

”Untuk urusan film, saya pernah ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub,” cerita Novi.

Wanita berusia 31 tahun itu bercerita bahwa tak sengaja belajar mengenai promosi film ketika sedang mengalami ”kecelakaan” data skripsi. Novi berkata, pada saat itu data skripsinya hilang dan harus mengerjakan dari awal. Untuk menghibur diri, dia pergi ke Jogja dan iseng-iseng melamar pekerjaan. Dari sana jaringan Novi meluas dan dia mengenal pekerjaan sebagai publisis (ahli promosi) film.

Relasi dengan klien terjalin ketika dia bekerja di Jogja. Dia tidak hanya mengerjakan konten promosi film, namun juga festival film, promosi konser, dan konten promosi bioskop online. Semua itu Novi lakukan supaya menjadi bekal ketika dia ingin mendirikan agensi sendiri.

Ketika klien telah terbilang banyak, Novi diajak oleh salah satu production house (PH) di Jakarta untuk menggarap series Keluarga Garuda di Dadaku. Ilmu yang didapatkannya menjadi titik balik di sini. Dia memanfaatkan betul dengan detail bagaimana film ini dapat diterima oleh masyarakat.

”Saat itu ya ngalir saja seperti promosi media dan saya harus menonton terlebih dahulu filmnya,” ceritanya.

Suksesnya penayangan Garuda di Dadaku terdengar hingga ke sutradara kondang Angga Sasongko. Dia dipercaya oleh Angga pada 2015 untuk mempromosikan film Filosofi Kopi. Kala itu film yang dibintangi oleh Rio Dewanto itu berhasil mendatangkan penonton sebanyak 229.680 pasang mata. Prestasi tersebut membuatnya yakin untuk melebarkan sayap di dunia perfilman.

Pada 2017 silam, dia memberanikan diri membentuk sebuah perusahaan publisis film dengan nama Goodwork. Dibantu oleh rekannya, jabatan yang dia emban yakni co-founder. Sejumlah film pun berhasil dia orbitkan dan mendatangkan jutaan pasang mata ke bioskop.

”Kami (Goodwork) selalu mengedepankan analisis dulu film yang akan dipromosikan seperti apa supaya masyarakat mau menonton,” tuturnya.

Wanita asal Kelurahan Gadang itu juga sempat berkesempatan terbang ke Tokyo, Jepang, pada 2017 dan Busan, Korea Selatan, pada 2018. Terutama di Tokyo, dia berhasil membawa film Ziarah karya BW Purbanegara menarik simpati penonton di Tokyo International Festival Film. Dia menceritakan, para penonton Jepang mengetahui konteks sosial, politik, dan sejarah dalam film Ziarah meski tidak sepenuhnya memahami semua aspek budaya dalam film tersebut. Novi mengatakan, salah satu alasannya adalah penggambaran masyarakat Jawa dalam Ziarah berbeda dengan apa yang digambarkan media pada umumnya.

Keberhasilan tersebut membuat Novi terus dipercaya oleh beberapa sutradara ternama di Indonesia. Pada 2019 misalnya, film berjudul Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCHTI) berhasil memukau penonton. Film yang menceritakan terkait kisah keluarga mampu membawa penonton trenyuh. Pasalnya, dalam cerita tersebut mengisahkan hubungan seorang kakak yang harus menjaga adik bungsunya. Itu lantaran sang ayah trauma pernah kehilangan sang kembaran anaknya pada proses kelahiran.

Untuk itu, publisis film yang dia emban merupakan salah satu posisi yang berpengaruh. Sukses atau tidaknya sutradara dan produser dalam menggarap sebuah film menurutnya juga harus ditunjang publisis film. Pekerjaan ini menurut Novi sangat menarik karena tak jauh bedanya dengan marketing sebuah produk.

”Sangat senang berada di pekerjaan ini dan ini sudah menjadi cita-cita saya,” imbuh dia.

Ke depan, dia juga masih mempunyai beberapa project film yang harus dituntaskan. Hanya, kendala pandemi Covid-19 membuat dunia film sempat terhenti. Namun, dia optimistis industri perfilman Indonesia dapat bangkit lagi. (adn/c1/abm/rmc)

Dia bukan sutradara. Bukan pula aktor/aktris film. Namun, perannya sangat vital untuk meraih sukses atau tidaknya sebuah film di pasaran. Dialah Novi Hanabi, publisis serial Keluarga Garuda di Dadaku, Filosofi Kopi, Dear Nathan, dan Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI).

Wajahnya tampak bahagia saat menyapa Jawa Pos Radar Malang melalui sambungan video call kemarin (6/7). Dia adalah Novi Hanabi. Wanita asal Kota Malang itu merupakan publisis film yang sudah mengorbitkan sejumlah film di bioskop. Hebatnya, sejumlah film yang digarapnya tayang cukup lama di bioskop se-Indonesia.

Alumnus Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah terjun ke dunia perfilman sejak duduk di bangku kuliah pada 2008 silam. Novi–sapaan akrabnya– bercerita bahwa awalnya ingin terjun ke jurusan desain ataupun ilmu eksak. Namun, karena sang ibu tidak ingin anaknya menekuni ilmu ”kelas berat” itu, dia banting setir ke jurusan ilmu komunikasi.

”Untuk urusan film, saya pernah ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kine Klub,” cerita Novi.

Wanita berusia 31 tahun itu bercerita bahwa tak sengaja belajar mengenai promosi film ketika sedang mengalami ”kecelakaan” data skripsi. Novi berkata, pada saat itu data skripsinya hilang dan harus mengerjakan dari awal. Untuk menghibur diri, dia pergi ke Jogja dan iseng-iseng melamar pekerjaan. Dari sana jaringan Novi meluas dan dia mengenal pekerjaan sebagai publisis (ahli promosi) film.

Relasi dengan klien terjalin ketika dia bekerja di Jogja. Dia tidak hanya mengerjakan konten promosi film, namun juga festival film, promosi konser, dan konten promosi bioskop online. Semua itu Novi lakukan supaya menjadi bekal ketika dia ingin mendirikan agensi sendiri.

Ketika klien telah terbilang banyak, Novi diajak oleh salah satu production house (PH) di Jakarta untuk menggarap series Keluarga Garuda di Dadaku. Ilmu yang didapatkannya menjadi titik balik di sini. Dia memanfaatkan betul dengan detail bagaimana film ini dapat diterima oleh masyarakat.

”Saat itu ya ngalir saja seperti promosi media dan saya harus menonton terlebih dahulu filmnya,” ceritanya.

Suksesnya penayangan Garuda di Dadaku terdengar hingga ke sutradara kondang Angga Sasongko. Dia dipercaya oleh Angga pada 2015 untuk mempromosikan film Filosofi Kopi. Kala itu film yang dibintangi oleh Rio Dewanto itu berhasil mendatangkan penonton sebanyak 229.680 pasang mata. Prestasi tersebut membuatnya yakin untuk melebarkan sayap di dunia perfilman.

Pada 2017 silam, dia memberanikan diri membentuk sebuah perusahaan publisis film dengan nama Goodwork. Dibantu oleh rekannya, jabatan yang dia emban yakni co-founder. Sejumlah film pun berhasil dia orbitkan dan mendatangkan jutaan pasang mata ke bioskop.

”Kami (Goodwork) selalu mengedepankan analisis dulu film yang akan dipromosikan seperti apa supaya masyarakat mau menonton,” tuturnya.

Wanita asal Kelurahan Gadang itu juga sempat berkesempatan terbang ke Tokyo, Jepang, pada 2017 dan Busan, Korea Selatan, pada 2018. Terutama di Tokyo, dia berhasil membawa film Ziarah karya BW Purbanegara menarik simpati penonton di Tokyo International Festival Film. Dia menceritakan, para penonton Jepang mengetahui konteks sosial, politik, dan sejarah dalam film Ziarah meski tidak sepenuhnya memahami semua aspek budaya dalam film tersebut. Novi mengatakan, salah satu alasannya adalah penggambaran masyarakat Jawa dalam Ziarah berbeda dengan apa yang digambarkan media pada umumnya.

Keberhasilan tersebut membuat Novi terus dipercaya oleh beberapa sutradara ternama di Indonesia. Pada 2019 misalnya, film berjudul Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCHTI) berhasil memukau penonton. Film yang menceritakan terkait kisah keluarga mampu membawa penonton trenyuh. Pasalnya, dalam cerita tersebut mengisahkan hubungan seorang kakak yang harus menjaga adik bungsunya. Itu lantaran sang ayah trauma pernah kehilangan sang kembaran anaknya pada proses kelahiran.

Untuk itu, publisis film yang dia emban merupakan salah satu posisi yang berpengaruh. Sukses atau tidaknya sutradara dan produser dalam menggarap sebuah film menurutnya juga harus ditunjang publisis film. Pekerjaan ini menurut Novi sangat menarik karena tak jauh bedanya dengan marketing sebuah produk.

”Sangat senang berada di pekerjaan ini dan ini sudah menjadi cita-cita saya,” imbuh dia.

Ke depan, dia juga masih mempunyai beberapa project film yang harus dituntaskan. Hanya, kendala pandemi Covid-19 membuat dunia film sempat terhenti. Namun, dia optimistis industri perfilman Indonesia dapat bangkit lagi. (adn/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/