alexametrics
23.9 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Disdik Provinsi Putar Otak Demi Tekan Belanja Internet Saat PJJ

MALANG KOTA – Platform aplikasi pembelajaran Ruang Belajar menjadi formula pembelajaran jarak jauh (PJJ). Didorong oleh tingginya intensitas penggunaan internet dalam pembelajaran daring, Dinas Pendidikan Provinsi Jatim maupun Kota Malang untuk merumuskan formula tersebut.

Ditemui di Gedung Pengendalian Sumber Daya Manusia Malang, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur Dr Ir Wahid Wahyudi MT menerangkan, platform reguler, Ruang Baca didesain untuk lebih mudah diakses dan hemat kuota. ”Saat ini sedang kami uji coba di Kabupaten Ponorogo,” kata Wahid Senin lalu (7/9).

”Dengan demikian kebutuhan kuota internet yang diserap juga bisa diminimalisasi,” sambung Wahid.

Mantan Plt Wali Kota Malang itu menambahkan, aplikasi tersebut bisa dimanfaatkan oleh guru untuk mengisi materi ajar. Didalamnya termasuk melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) daring hingga mengisi materi serta penyusunan soal ujian. ”Guru juga bisa melakukan video conference saat dalam pembelajaran,” ujarnya.

Model pembelajaran berbasis platform ini sebenarnya bukan yang pertama dilaksanakan. Di Kota Malang, program pembelajaran serupa bahkan telah dilaksanakan di SMA Negeri 2 Malang (Smanda). ”Guru-guru SMA Negeri 2 Malang sudah menggunakan sistem blended learning, untuk intrakurikuler namanya e-learning, sedangkan yang ekstrakurikuler namanya e-ekskul,” ujar Kepala Sekolah SMAN 2 Malang Haryanto.

Blended learning sendiri merupakan terobosan dalam bentuk kolaborasi antara pembelajaran daring dan luring. Tujuannya pun sama seperti yang disampaikan Disdik Provinsi Jatim. Yakni menekan penggunaan kuota internet.
Namun karena saat ini sekolahnya tengah melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka, Haryanto menuturkan bahwa penggunaan platform pembelajaran daring tersebut hanya dipakai untuk siswa yang masih belajar di rumah.

Selain Smanda, SMK Negeri 4 Malang pun telah mengembangkan sistem pembelajaran berbasis platform. ”Sebelum pandemi pun kami sudah punya (platform) e-learning dan program sekolah jaringan,” ujar Kepala Sekolah SMK Negeri 4 Malang Dr H Wadib Su’udi.

Hanya, penggunaan sistem tersebut tidak mengikat. Pihak sekolah membebaskan guru maupun murid menggunakan platform lain yang dianggap lebih mudah dan tidak boros. ”Masih ada beberapa yang menggunakan Zoom, Google Classroom, Google Meet, YouTube,” ujar Wadib.

Program serupa bahkan juga telah diadaptasi di jenjang SMP. Yakni SMP Negeri 3 Malang. Sejak pembelajaran daring diterapkan, pihak sekolah mengembangkan learning management system (LMS) sebagai sarana satu pintu pembelajaran.
Kepala Sekolah SMPN 3 Malang Dra Mutmainah Amini MPd mengatakan, LMS dibuat untuk memaksimalkan pembelajaran jarak jauh.

”Semua kegiatan belajar mengajar online dilakukan hanya dengan mengakses LMS di website sekolah,” jelasnya.

Pewarta: Errica Vannie

MALANG KOTA – Platform aplikasi pembelajaran Ruang Belajar menjadi formula pembelajaran jarak jauh (PJJ). Didorong oleh tingginya intensitas penggunaan internet dalam pembelajaran daring, Dinas Pendidikan Provinsi Jatim maupun Kota Malang untuk merumuskan formula tersebut.

Ditemui di Gedung Pengendalian Sumber Daya Manusia Malang, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur Dr Ir Wahid Wahyudi MT menerangkan, platform reguler, Ruang Baca didesain untuk lebih mudah diakses dan hemat kuota. ”Saat ini sedang kami uji coba di Kabupaten Ponorogo,” kata Wahid Senin lalu (7/9).

”Dengan demikian kebutuhan kuota internet yang diserap juga bisa diminimalisasi,” sambung Wahid.

Mantan Plt Wali Kota Malang itu menambahkan, aplikasi tersebut bisa dimanfaatkan oleh guru untuk mengisi materi ajar. Didalamnya termasuk melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) daring hingga mengisi materi serta penyusunan soal ujian. ”Guru juga bisa melakukan video conference saat dalam pembelajaran,” ujarnya.

Model pembelajaran berbasis platform ini sebenarnya bukan yang pertama dilaksanakan. Di Kota Malang, program pembelajaran serupa bahkan telah dilaksanakan di SMA Negeri 2 Malang (Smanda). ”Guru-guru SMA Negeri 2 Malang sudah menggunakan sistem blended learning, untuk intrakurikuler namanya e-learning, sedangkan yang ekstrakurikuler namanya e-ekskul,” ujar Kepala Sekolah SMAN 2 Malang Haryanto.

Blended learning sendiri merupakan terobosan dalam bentuk kolaborasi antara pembelajaran daring dan luring. Tujuannya pun sama seperti yang disampaikan Disdik Provinsi Jatim. Yakni menekan penggunaan kuota internet.
Namun karena saat ini sekolahnya tengah melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka, Haryanto menuturkan bahwa penggunaan platform pembelajaran daring tersebut hanya dipakai untuk siswa yang masih belajar di rumah.

Selain Smanda, SMK Negeri 4 Malang pun telah mengembangkan sistem pembelajaran berbasis platform. ”Sebelum pandemi pun kami sudah punya (platform) e-learning dan program sekolah jaringan,” ujar Kepala Sekolah SMK Negeri 4 Malang Dr H Wadib Su’udi.

Hanya, penggunaan sistem tersebut tidak mengikat. Pihak sekolah membebaskan guru maupun murid menggunakan platform lain yang dianggap lebih mudah dan tidak boros. ”Masih ada beberapa yang menggunakan Zoom, Google Classroom, Google Meet, YouTube,” ujar Wadib.

Program serupa bahkan juga telah diadaptasi di jenjang SMP. Yakni SMP Negeri 3 Malang. Sejak pembelajaran daring diterapkan, pihak sekolah mengembangkan learning management system (LMS) sebagai sarana satu pintu pembelajaran.
Kepala Sekolah SMPN 3 Malang Dra Mutmainah Amini MPd mengatakan, LMS dibuat untuk memaksimalkan pembelajaran jarak jauh.

”Semua kegiatan belajar mengajar online dilakukan hanya dengan mengakses LMS di website sekolah,” jelasnya.

Pewarta: Errica Vannie

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/