alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kemendikbudristek Umumkan Hasil Seleksi PPPK Langsung Ke Akun Peserta

MALANG KOTA – Kekhawatiran banyak guru honorer yang gagal diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) akhirnya terjawab. Kemarin (8/10) hasil seleksi kompetensi I telah diumumkan Kemendikbudristek.

Sayangnya, pengumuman calon guru yang lolos menjadi PPPK diumumkan ke akun masing-masing guru yang menjadi peserta. Sehingga belum diketahui pasti berapa jumlah total calon guru yang masuk formasi.

Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Drs Ema Sumiarti MSi mengakui, pihaknya belum mengetahui jumlah pasti guru yang masuk formasi PPPK. Namun pihaknya berupaya jemput bola dengan mendata per sekolah. Hingga pukul 15.30 WIB kemarin, calon guru PPPK Kota Malang yang sudah diterima baru 30 orang. “Data ini masih sementara, masih bisa ter-update menunggu laporan dari tiap sekolah,” katanya.

Alumnus SMAN 8 Malang itu masih belum bisa memastikan secara detail penerimaan tersebut dari berapa peserta. Sebab jumlah peserta sebanyak 1.756 orang, baik yang bertugas di sekolah negeri maupun swasta. Sehingga pemutakhiran data masih bakal dilakukan olehnya.

Jika jumlah guru yang diterima memang sedikit dan tak sesuai harapan, Ema menyatakan mereka masih bisa melakukan tes seleksi kompetensi tahap dua. Sebab, Kemendikbudristek memberi kelonggaran calon guru PPPK bisa mengikuti penerimaan sebanyak tiga kali dalam setahun. “Karena yang menyelenggarakan dari Kemendikbudristek, maka sistemnya mengikuti dari sana,” jelas Ema.

Di tempat lain, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Malang Burhanuddin MPd memprediksi sedikitnya guru yang lolos seleksi PPPK lantaran passing grade yang terlalu tinggi di tiap mata pelajaran. Belum lagi nilai afirmasi untuk guru dengan masa pengabdian lama yang menjadi kendala. Karena itu, PGRI Kota Malang berharap ada kebijakan khusus yang diberikan pemerintah pusat. “Kami berharap bisa lolos semua, kalau bisa ada peninjauan lagi terkait itu (nilai afirmasi dan passing grade, Red),” harapnya.

Pria yang juga menjabat Kepala SMPN 5 Malang itu berharap pemerintah pusat mau mengakui masa pengabdian guru honorer. Khususnya mereka yang sudah sepuh secara usia. Sesuai persyaratan, batas maksimal usia mengikuti tes PPPK adalah 35 tahun. Sehingga guru dengan usia 35 tahun ke atas semakin tak mempunyai harapan.

Burhan juga berharap peninjauan tersebut bisa merata, baik untuk honorer di sekolah negeri maupun swasta. Namun jika belum ada perubahan, pihaknya hanya bisa berharap guru bisa mengikuti seleksi kompetensi tahap II bersamaan dengan para guru honorer lainnya. “Mau tidak mau harus ikut alurnya, tapi kami berharap juga mungkin ada evaluasi,” tutupnya. (adn/nay/rmc)

MALANG KOTA – Kekhawatiran banyak guru honorer yang gagal diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) akhirnya terjawab. Kemarin (8/10) hasil seleksi kompetensi I telah diumumkan Kemendikbudristek.

Sayangnya, pengumuman calon guru yang lolos menjadi PPPK diumumkan ke akun masing-masing guru yang menjadi peserta. Sehingga belum diketahui pasti berapa jumlah total calon guru yang masuk formasi.

Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu Drs Ema Sumiarti MSi mengakui, pihaknya belum mengetahui jumlah pasti guru yang masuk formasi PPPK. Namun pihaknya berupaya jemput bola dengan mendata per sekolah. Hingga pukul 15.30 WIB kemarin, calon guru PPPK Kota Malang yang sudah diterima baru 30 orang. “Data ini masih sementara, masih bisa ter-update menunggu laporan dari tiap sekolah,” katanya.

Alumnus SMAN 8 Malang itu masih belum bisa memastikan secara detail penerimaan tersebut dari berapa peserta. Sebab jumlah peserta sebanyak 1.756 orang, baik yang bertugas di sekolah negeri maupun swasta. Sehingga pemutakhiran data masih bakal dilakukan olehnya.

Jika jumlah guru yang diterima memang sedikit dan tak sesuai harapan, Ema menyatakan mereka masih bisa melakukan tes seleksi kompetensi tahap dua. Sebab, Kemendikbudristek memberi kelonggaran calon guru PPPK bisa mengikuti penerimaan sebanyak tiga kali dalam setahun. “Karena yang menyelenggarakan dari Kemendikbudristek, maka sistemnya mengikuti dari sana,” jelas Ema.

Di tempat lain, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Malang Burhanuddin MPd memprediksi sedikitnya guru yang lolos seleksi PPPK lantaran passing grade yang terlalu tinggi di tiap mata pelajaran. Belum lagi nilai afirmasi untuk guru dengan masa pengabdian lama yang menjadi kendala. Karena itu, PGRI Kota Malang berharap ada kebijakan khusus yang diberikan pemerintah pusat. “Kami berharap bisa lolos semua, kalau bisa ada peninjauan lagi terkait itu (nilai afirmasi dan passing grade, Red),” harapnya.

Pria yang juga menjabat Kepala SMPN 5 Malang itu berharap pemerintah pusat mau mengakui masa pengabdian guru honorer. Khususnya mereka yang sudah sepuh secara usia. Sesuai persyaratan, batas maksimal usia mengikuti tes PPPK adalah 35 tahun. Sehingga guru dengan usia 35 tahun ke atas semakin tak mempunyai harapan.

Burhan juga berharap peninjauan tersebut bisa merata, baik untuk honorer di sekolah negeri maupun swasta. Namun jika belum ada perubahan, pihaknya hanya bisa berharap guru bisa mengikuti seleksi kompetensi tahap II bersamaan dengan para guru honorer lainnya. “Mau tidak mau harus ikut alurnya, tapi kami berharap juga mungkin ada evaluasi,” tutupnya. (adn/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/