alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Tak Layak, Calon Rektor UIN Malang Terancam Coret Komsel Kemenag

MALANG KOTA – Pemilihan Rektor UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim) Malang masih menunggu tahapan di Kementerian Agama (Kemenag). Setelah enam berkas kandidat diajukan, Kemenag membentuk komisi seleksi (komsel) untuk mengerecutkan nama. Praktis, calon rektor Maliki UIN Malang yang dianggap tak layak harus siap dicoret Komsel Kemenang.

Sebelumnya, Senat UIN Maliki Malang telah menuntaskan tugasnya membuat pertimbangan kualitatif calon rektor pertengahan April lalu. Berkas hasil penilaian senat tersebut juga telah diserahkan kepada Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris. Oleh Prof Haris, berkas tersebut juga telah diserahkan ke Kemenag.

Nah, sesuai tahapan, dari Kemenag akan membentuk komisi seleksi (Komsel). “Tentang Komsel, bukan pansel (panitia seleksi) ya itu sepenuhnya wewenang menteri agama. Artinya ditunjuk dan ditetapkan oleh Menag, jadi kita tidak tahu,” jelas Ketua Senat UIN Maliki Prof Dr Muhtadi Ridwan.

Sementara itu, tahapan pilrek di tangan Kemenag sesuai dengan Keputusan Dirjen Pendidikan Islam No 3151 Tahun 2020 tentang Pedoman Penjaringan, Pemberian Pertimbangan dan Penyeleksian Rektor/Ketua PTKIN, Bab IV bagian B.

Dalam surat keputusan tersebut terlihat bahwa komsel yang dibentuk Menag berjumlah ganjil, minimal 7 orang. Komsel tersebut terdiri dari beberapa unsur antara lain Pejabat Eselon I Kemenag, akademisi perguruan tinggi dan tokoh masyarakat.

Selanjutnya, dalam mekanisme seleksi, komsel menyelenggarakan seleksi selambat-lambatnya 21 hari kerja, setelah menerima hasil pertimbangan kualitatif dari Menag. Komsel pun juga dapat mengundang calon rektor untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan.

“Kalau untuk undangan calon rektor sepertinya mereka (carek UIN Maliki) belum ada yang menerima undangan,” lanjut Prof Muhtadi. Yang jelas, sambungnya, uji kepatutan dan kelayakan tersebut juga akan melibatkan lembaga profesional dan pakar.

Seperti diketahui, perebutan kursi Rektor UIN Maliki Malang periode 2021-2025 awalnya diikuti oleh tujuh kandidat. Mereka adalah Prof Abdul Haris, Prof Zainuddin, Prof Umi Sumbulah, Prof Bayyinatul Muchtaromah, Prof Dr Mohamad Nur Yasin, Prof Roibin dan Prof Dr Suhartono. Namun saat pembahasan di senat, Prof Dr Mohamad Nur Yasin menyatakan mundur dari pencalonan. Sehingga jumlah kandidat pilrek tinggal 6 orang.

Pewarta: Intan Refa Setiana

MALANG KOTA – Pemilihan Rektor UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim) Malang masih menunggu tahapan di Kementerian Agama (Kemenag). Setelah enam berkas kandidat diajukan, Kemenag membentuk komisi seleksi (komsel) untuk mengerecutkan nama. Praktis, calon rektor Maliki UIN Malang yang dianggap tak layak harus siap dicoret Komsel Kemenang.

Sebelumnya, Senat UIN Maliki Malang telah menuntaskan tugasnya membuat pertimbangan kualitatif calon rektor pertengahan April lalu. Berkas hasil penilaian senat tersebut juga telah diserahkan kepada Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris. Oleh Prof Haris, berkas tersebut juga telah diserahkan ke Kemenag.

Nah, sesuai tahapan, dari Kemenag akan membentuk komisi seleksi (Komsel). “Tentang Komsel, bukan pansel (panitia seleksi) ya itu sepenuhnya wewenang menteri agama. Artinya ditunjuk dan ditetapkan oleh Menag, jadi kita tidak tahu,” jelas Ketua Senat UIN Maliki Prof Dr Muhtadi Ridwan.

Sementara itu, tahapan pilrek di tangan Kemenag sesuai dengan Keputusan Dirjen Pendidikan Islam No 3151 Tahun 2020 tentang Pedoman Penjaringan, Pemberian Pertimbangan dan Penyeleksian Rektor/Ketua PTKIN, Bab IV bagian B.

Dalam surat keputusan tersebut terlihat bahwa komsel yang dibentuk Menag berjumlah ganjil, minimal 7 orang. Komsel tersebut terdiri dari beberapa unsur antara lain Pejabat Eselon I Kemenag, akademisi perguruan tinggi dan tokoh masyarakat.

Selanjutnya, dalam mekanisme seleksi, komsel menyelenggarakan seleksi selambat-lambatnya 21 hari kerja, setelah menerima hasil pertimbangan kualitatif dari Menag. Komsel pun juga dapat mengundang calon rektor untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan.

“Kalau untuk undangan calon rektor sepertinya mereka (carek UIN Maliki) belum ada yang menerima undangan,” lanjut Prof Muhtadi. Yang jelas, sambungnya, uji kepatutan dan kelayakan tersebut juga akan melibatkan lembaga profesional dan pakar.

Seperti diketahui, perebutan kursi Rektor UIN Maliki Malang periode 2021-2025 awalnya diikuti oleh tujuh kandidat. Mereka adalah Prof Abdul Haris, Prof Zainuddin, Prof Umi Sumbulah, Prof Bayyinatul Muchtaromah, Prof Dr Mohamad Nur Yasin, Prof Roibin dan Prof Dr Suhartono. Namun saat pembahasan di senat, Prof Dr Mohamad Nur Yasin menyatakan mundur dari pencalonan. Sehingga jumlah kandidat pilrek tinggal 6 orang.

Pewarta: Intan Refa Setiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru