alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Undang Ahli, Unikama Pelajari Case Method dan Team Based Project

MALANG KOTA – Penerapan metode pembelajaran inovatif melalui Case Method dan Team Based Project di Indonesia, masih cukup jarang dilakukan. Umumnya, metode ini baru diperkenalkan di jenjang perguruan tinggi. Padahal di beberapa negara, metode ini sudah dikenalkan sejak masa sekolah dasar, bahkan kanak-kanak.

“Jadi mahasiswa kita belum terbiasa dengan metode itu. Di tempat kita sudah saatnya perlu dipelajari, karena tidak semua SD, SMP dan SMA menggunakan metode ini,” terang Prof Richardus Eko Indrajit dalam Workshop bertajuk “Metode Pembelajaran Inovatif Melalui Case Method dan Team Based Project”, via Zoom yang diikuti para dosen Univeristas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Menurutnya, hal ini sebetulnya sudah harus menjadi kultur di jenjang perguruan tinggi. Ketika metode ini sudah dikenalkan sejak sekolah dasar. “Seperti yang disampaikan Mas Menteri, kita itu ingin pendidikan kita tidak sekadar tahu apa, tapi bisa apa,” ungkapnya.

Dua metode yang dipresentasikan oleh Prof Eko ini, pada dasarnya dua pendekatan yang berbeda. Team Based Project, pendekatannya menghasilkan artefak atau produk unik selama kurun waktu tertentu. Sementara Case Method, menggunakan kasus menjadi sebuah fokus studi. Dari kasus itulah akan ada tantangan yang harus diselesaikan.

Ketika penyelenggara pendidikan menggunakan dua metode ini diharapkan para anak didik atau mahasiswa bisa terlatih berpikir kritis. Disisi lain bisa belajar dari kasus yang nyata dengan mengimplementasikan ilmunya.

“Teamwork juga akan terbentuk antara anggota. Dan bisa berpikir secara sistematis dan kemampuan menyelesaikan masalah juga terasah,” pungkasnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana

MALANG KOTA – Penerapan metode pembelajaran inovatif melalui Case Method dan Team Based Project di Indonesia, masih cukup jarang dilakukan. Umumnya, metode ini baru diperkenalkan di jenjang perguruan tinggi. Padahal di beberapa negara, metode ini sudah dikenalkan sejak masa sekolah dasar, bahkan kanak-kanak.

“Jadi mahasiswa kita belum terbiasa dengan metode itu. Di tempat kita sudah saatnya perlu dipelajari, karena tidak semua SD, SMP dan SMA menggunakan metode ini,” terang Prof Richardus Eko Indrajit dalam Workshop bertajuk “Metode Pembelajaran Inovatif Melalui Case Method dan Team Based Project”, via Zoom yang diikuti para dosen Univeristas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Menurutnya, hal ini sebetulnya sudah harus menjadi kultur di jenjang perguruan tinggi. Ketika metode ini sudah dikenalkan sejak sekolah dasar. “Seperti yang disampaikan Mas Menteri, kita itu ingin pendidikan kita tidak sekadar tahu apa, tapi bisa apa,” ungkapnya.

Dua metode yang dipresentasikan oleh Prof Eko ini, pada dasarnya dua pendekatan yang berbeda. Team Based Project, pendekatannya menghasilkan artefak atau produk unik selama kurun waktu tertentu. Sementara Case Method, menggunakan kasus menjadi sebuah fokus studi. Dari kasus itulah akan ada tantangan yang harus diselesaikan.

Ketika penyelenggara pendidikan menggunakan dua metode ini diharapkan para anak didik atau mahasiswa bisa terlatih berpikir kritis. Disisi lain bisa belajar dari kasus yang nyata dengan mengimplementasikan ilmunya.

“Teamwork juga akan terbentuk antara anggota. Dan bisa berpikir secara sistematis dan kemampuan menyelesaikan masalah juga terasah,” pungkasnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru