alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Wali Kota Malang Gamang, Kampus Maju Mundur Gelar Kuliah Offline

MALANG KOTA – Rencana kuliah tatap muka atau offline sudah disiapkan sejumlah kampus di Kota Malang semester depan. Berbagai persiapan digeber sejak beberapa bulan lalu. Namun seiring dengan penyebaran Covid-19 yang meningkat di Kota Malang, rencana kuliah tatap muka kembali dikaji ulang.

Dari data Satgas Covid-19, per kemarin (9/6) diketahui ada penambahan 14 pasien baru. Dengan tambahan itu, hingga kini tercatat sudah ada 6.777 warga Kota Malang yang terinfeksi virus korona.

Data yang lain juga menyebutkan bila kemarin ada tambahan 2 pasien Covid-19 yang meninggal. Dengan tambahan data tersebut, hingga saat ini tercatat sudah ada 633 warga Kota Malang yang meninggal usai terinfeksi Covid-19. Kondisi itu membuat Wali Kota Malang, Sutiaji, seolah gamang setelah memberi restu terhadap kuliah offline. ”Angka positive rate masih bertambah. Selanjutnya kami akan data lagi agar semua aman ketika kuliah ataupun sekolah,” kata dia.

Sebelumnya, restu untuk kuliah offline memang sempat disampaikan Sutiaji. Salah satu landasannya adalah keluhan soal tingkat perekonomian di Kota Malang yang masih rendah. Utamanya, sektor ekonomi di sekitar kampus. Seperti kos-kosan yang mengalami penurunan cukup drastis. Gayung sempat bersambut setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Satgas Covid-19 RI memberi lampu hijau terhadap proses kuliah offline.

”Iya, Satgas Covid-19 RI juga telah menyetujui dengan (adanya) pembatasan,” kata Sutiaji kepada Jawa Pos Radar Malang akhir Mei lalu. Pasca lampu hijau didapat, beberapa kampus di Kota Malang sempat berharap Wali Kota Malang bisa mengeluarkan surat edaran (SE) terkait teknis kuliah tatap muka. Rencananya surat itu akan dijadikan salah satu acuan agar mereka dapat menggelar kuliah offline. Sayangnya, harapan itu bertepuk sebelah tangan. Sebab, sampai saat ini, SE yang diharapkan tak kunjung terbit.

Harapan terhadap terbitnya SE itu disampaikan langsung oleh Sub Koordinator Humas Universitas Negeri Malang (UM) Ifa Nursanti. ”Kami harapkan seperti itu (ada surat edaran). Sebab, kami juga tidak mau gegabah demi keselamatan mahasiswa,” kata dia.

Di tempat lain, Universitas Brawijaya (UB) juga sudah memastikan belum akan menggelar kuliah tatap muka. Sebagai gantinya, sistem blended learning akan diterapkan. Sistem itu adalah kombinasi dari daring dan luar jaringan (luring). Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menjelaskan, teknis dari sistem perkuliahan tersebut nantinya bakal mem-plot 25 persen mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran secara luring. Sementara 75 persen lainnya masih akan tetap kuliah secara daring. ”Tentunya ini sebagai langkah mempermudah mahasiswa yang rindu suasana belajar di kampus maupun kesusahan saat daring,” kata Nuhfil beberapa waktu yang lalu. (rmc/adn/c1/by)

MALANG KOTA – Rencana kuliah tatap muka atau offline sudah disiapkan sejumlah kampus di Kota Malang semester depan. Berbagai persiapan digeber sejak beberapa bulan lalu. Namun seiring dengan penyebaran Covid-19 yang meningkat di Kota Malang, rencana kuliah tatap muka kembali dikaji ulang.

Dari data Satgas Covid-19, per kemarin (9/6) diketahui ada penambahan 14 pasien baru. Dengan tambahan itu, hingga kini tercatat sudah ada 6.777 warga Kota Malang yang terinfeksi virus korona.

Data yang lain juga menyebutkan bila kemarin ada tambahan 2 pasien Covid-19 yang meninggal. Dengan tambahan data tersebut, hingga saat ini tercatat sudah ada 633 warga Kota Malang yang meninggal usai terinfeksi Covid-19. Kondisi itu membuat Wali Kota Malang, Sutiaji, seolah gamang setelah memberi restu terhadap kuliah offline. ”Angka positive rate masih bertambah. Selanjutnya kami akan data lagi agar semua aman ketika kuliah ataupun sekolah,” kata dia.

Sebelumnya, restu untuk kuliah offline memang sempat disampaikan Sutiaji. Salah satu landasannya adalah keluhan soal tingkat perekonomian di Kota Malang yang masih rendah. Utamanya, sektor ekonomi di sekitar kampus. Seperti kos-kosan yang mengalami penurunan cukup drastis. Gayung sempat bersambut setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Satgas Covid-19 RI memberi lampu hijau terhadap proses kuliah offline.

”Iya, Satgas Covid-19 RI juga telah menyetujui dengan (adanya) pembatasan,” kata Sutiaji kepada Jawa Pos Radar Malang akhir Mei lalu. Pasca lampu hijau didapat, beberapa kampus di Kota Malang sempat berharap Wali Kota Malang bisa mengeluarkan surat edaran (SE) terkait teknis kuliah tatap muka. Rencananya surat itu akan dijadikan salah satu acuan agar mereka dapat menggelar kuliah offline. Sayangnya, harapan itu bertepuk sebelah tangan. Sebab, sampai saat ini, SE yang diharapkan tak kunjung terbit.

Harapan terhadap terbitnya SE itu disampaikan langsung oleh Sub Koordinator Humas Universitas Negeri Malang (UM) Ifa Nursanti. ”Kami harapkan seperti itu (ada surat edaran). Sebab, kami juga tidak mau gegabah demi keselamatan mahasiswa,” kata dia.

Di tempat lain, Universitas Brawijaya (UB) juga sudah memastikan belum akan menggelar kuliah tatap muka. Sebagai gantinya, sistem blended learning akan diterapkan. Sistem itu adalah kombinasi dari daring dan luar jaringan (luring). Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menjelaskan, teknis dari sistem perkuliahan tersebut nantinya bakal mem-plot 25 persen mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran secara luring. Sementara 75 persen lainnya masih akan tetap kuliah secara daring. ”Tentunya ini sebagai langkah mempermudah mahasiswa yang rindu suasana belajar di kampus maupun kesusahan saat daring,” kata Nuhfil beberapa waktu yang lalu. (rmc/adn/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru