alexametrics
22.1 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Inovatif, Mahasiswa UMM Sulap Kulit Kopi Jadi Pewarna Makanan Alami

MALANG KOTA – Ide kreatif bisa muncul dari hal sepele yang ada di lingkungan sekitar. Seperti hasil riset mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Mereka menciptakan inovasi membuat pewarna makanan alami dari bahan kulit kopi.

Riset dilakukan oleh mereka yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa dan Bidang Riset(PKM-R) UMM. Mereka adalah Nur Meliana Ramadhani, Carrisa Ratri Kusuma Dewi, dan Maharani Dewi Wulan. Sejak proposalnya lolos pendanaan dari Direktoral Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) bulan Mei lalu, ketiga mahasiswa itu langsung melakukan penelitian. Mereka melihat peluang kulit kopi yang bisa dijadikan pewarna alami.

Penelitian mereka bermula dari keprihatinan atas maraknya penggunaan pewarna pada makanan, terutama pewarna sintetis pada permen. Karena jika terus dikonsumsi, khususnya anak-anak akan memberi dampak berbahaya bagi kesehatan tubuh. Misalnya saja dapat menimbulkan gatal-gatal, meningkatkan kemungkinan munculnya sel tumor, bahkan juga bisa merusak mood seseorang.

Meliana menyatakan, timnya memilih kulit kopi sebagai bahan riset karena bahan tersebut selama ini masih dianggap sebagai limbah saja. ”Belum ada pemanfaatan secara maksimal, padahal jika dikaji kulit kopi memiliki banyak kelebihan,” terangnya.

Dari rasa penasaran itu, ketiga anggota ini mencari tahu dan menemukan bahwa kulit kopi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pigmen untuk makanan. “Melihat selama ini kulit kopi hanya menjadi limbah produksi pembuatan kopi, kami akhirnya berinisiatif untuk memanfaatkannya sebagai pewarna alamu untuk permen dan makanan lainnya,” jelas Meliana Minggu (11/7).

Mahasiswi dari jurusan Teknologi Pangan ini juga membeberkan tentang kulit kopi yang memiliki zat antioksidan yang tinggi . Selain itu, di dalamnya juga ada nutrisi yang dapat meningkatkan kesehatan jantung dan memperlancar peredaran darah pada tubuh.

Sebelumnya, mereka sempat mencoba kulit nangka dan manggis. Namun, sayangnya nutrisi yang ada di dalamnya tidak sebaik kulit kopi. “Selain menjadi rekomendasi pengganti warna sintetis yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, kulit kopi juga memiliki khasiat yang baik karena dapat melindungi lambung dari kerusakan serta menghambat perkembangan sel tumor pada tubuh,”tambahnya.

Perempuan kelahiran Tuban ini juga berharap penelitian dan hasil riset yang sudah dilakukan dapat berguna dalam produksi makanan yang lebih sehat.

Ia juga mengatakan dengan adanya inovasi pengganti pewarna sintetis ini bisa menjadi alternatif dan menghindari penggunaan pewarna sintetis yang berbahaya bagi keberlangsungan hidup manusia.
“Semoga hasil riset yang kami temukan ini bisa memberikan pilihan pewarna alami pada makanan. Kini sudah saatnya kita beralih dari pewarna sintetis ke pewarna alami, salah satunya dengan kulit kopi ini,” tutupnya.

Pewarta: Mega Annisa Ni’mais

MALANG KOTA – Ide kreatif bisa muncul dari hal sepele yang ada di lingkungan sekitar. Seperti hasil riset mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Mereka menciptakan inovasi membuat pewarna makanan alami dari bahan kulit kopi.

Riset dilakukan oleh mereka yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa dan Bidang Riset(PKM-R) UMM. Mereka adalah Nur Meliana Ramadhani, Carrisa Ratri Kusuma Dewi, dan Maharani Dewi Wulan. Sejak proposalnya lolos pendanaan dari Direktoral Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) bulan Mei lalu, ketiga mahasiswa itu langsung melakukan penelitian. Mereka melihat peluang kulit kopi yang bisa dijadikan pewarna alami.

Penelitian mereka bermula dari keprihatinan atas maraknya penggunaan pewarna pada makanan, terutama pewarna sintetis pada permen. Karena jika terus dikonsumsi, khususnya anak-anak akan memberi dampak berbahaya bagi kesehatan tubuh. Misalnya saja dapat menimbulkan gatal-gatal, meningkatkan kemungkinan munculnya sel tumor, bahkan juga bisa merusak mood seseorang.

Meliana menyatakan, timnya memilih kulit kopi sebagai bahan riset karena bahan tersebut selama ini masih dianggap sebagai limbah saja. ”Belum ada pemanfaatan secara maksimal, padahal jika dikaji kulit kopi memiliki banyak kelebihan,” terangnya.

Dari rasa penasaran itu, ketiga anggota ini mencari tahu dan menemukan bahwa kulit kopi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pigmen untuk makanan. “Melihat selama ini kulit kopi hanya menjadi limbah produksi pembuatan kopi, kami akhirnya berinisiatif untuk memanfaatkannya sebagai pewarna alamu untuk permen dan makanan lainnya,” jelas Meliana Minggu (11/7).

Mahasiswi dari jurusan Teknologi Pangan ini juga membeberkan tentang kulit kopi yang memiliki zat antioksidan yang tinggi . Selain itu, di dalamnya juga ada nutrisi yang dapat meningkatkan kesehatan jantung dan memperlancar peredaran darah pada tubuh.

Sebelumnya, mereka sempat mencoba kulit nangka dan manggis. Namun, sayangnya nutrisi yang ada di dalamnya tidak sebaik kulit kopi. “Selain menjadi rekomendasi pengganti warna sintetis yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, kulit kopi juga memiliki khasiat yang baik karena dapat melindungi lambung dari kerusakan serta menghambat perkembangan sel tumor pada tubuh,”tambahnya.

Perempuan kelahiran Tuban ini juga berharap penelitian dan hasil riset yang sudah dilakukan dapat berguna dalam produksi makanan yang lebih sehat.

Ia juga mengatakan dengan adanya inovasi pengganti pewarna sintetis ini bisa menjadi alternatif dan menghindari penggunaan pewarna sintetis yang berbahaya bagi keberlangsungan hidup manusia.
“Semoga hasil riset yang kami temukan ini bisa memberikan pilihan pewarna alami pada makanan. Kini sudah saatnya kita beralih dari pewarna sintetis ke pewarna alami, salah satunya dengan kulit kopi ini,” tutupnya.

Pewarta: Mega Annisa Ni’mais

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/