alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Tim Doktor UB Teliti Mitigasi Bencana Longsor di Kota Batu

RADAR MALANG – Selain praktisi, para akademisi kini juga mulai bergerak untuk melakukan pemetaan terjadap kawasan rawan bencana di Kota Batu. Hal itu ditunjukkan tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya (DM UB) lewat upaya mitigasi bencana tanah gerak yang memicu longsor. Utamanya di wilayah Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Kawasan tersebut dipilih dengan latar belakang bencana tanah longsor yang terjadi pada Februari awal tahun lalu. Saat itu, sejumlah warga harus mengungsi demi keamanan dan keselamatan mereka.

Adapun tim UB yang melakukan mitigasi bencana adalah Prof Dr Sunaryo SSi MSi, Prof Drs Adi Susilo MSi PhD, Dr Ir Runi Asmaranto ST MT dan Arief Andy Soebroto ST MKom. Selain melakukan riset, mereka juga mengedukasi warga.

Prof Sunaryo mengatakan, ada beberapa rekomendasi bagi warga terkait upaya mitigasi bencana. Salah satunya mencari lokasi yang termasuk bidang longsor yang stabil dan tidak stabil. “Lokasi yang bidang longsornya stabil (bagian timur-tenggara dari lokasi penelitian) dapat langsung direkomendasikan untuk digunakan sebagai tempat relokasi warga setempat,” ujarnya Rabu (10/11).

Sedangkan lokasi yang tidak stabil, dilakukan rekayasa sebagai upaya mitigasi. Seperti mengurangi kelebihan ketebalan atau beban batuan yang terdapat di atas bidang longsor pada lintasan yang tidak stabil. Selain itu, upaya lain bisa dilakukan dengan membuat bangunan sipil berupa tembok penahan atau bor pile (paku bumi) sampai pada kedalaman minimal. Termasuk melakukan eco-engineering melalui penanaman vegetasi yang berakar paku dan/atau berakar merayap.

“Lalu melakukan pemasangan rambu-rambu dan EWS (Early Warning System), yang terakhir melakukan edukasi masyarakat tentang penerapan protokol mitigasi bencana,” tambah Sunaryo.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, tim Doktor Mengabdi UB akan membuat sistem peringatan dini yang dilengkapi dengan sensor. Saat hujan turun, tampungan air di dalam tanah akan dialirkan agar mengendap lama di dalam tanah.

Sementara, ada jenis tanah seperti tanah lempung yang cenderung sensitif terhadap air. Saat hujan lebat, dorongan air akan lebih tinggi hingga bisa menyebabkan massa tanah ikut jebol. “Berbeda dengan tanah pasir yang dorongannya rendah, sehingga jika ada retakan, bisa segera ditutup,” kata Dr Runi Asmaranto di sela diskusi.

Sementara Arief Andy Soebroto menambahkan, dari titik-titik kawasan kritis juga bisa diketahui dan diukur risiko terjadinya longsor dengan sensor endapan tanah. “Pendeteksi sensor ini bisa mendeteksi kandungan air di dalam tanah. Kalau terlalu jenuh, akan terjadi longsor,” kata Arief.

Doktor mengabdi sendiri merupakan salah satu program yang diadakan oleh Universitas Brawijaya untuk membantu kebutuhan atau mengatasi permasalahan yang ada di tengah masyarakat. (adk/rmc)

RADAR MALANG – Selain praktisi, para akademisi kini juga mulai bergerak untuk melakukan pemetaan terjadap kawasan rawan bencana di Kota Batu. Hal itu ditunjukkan tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya (DM UB) lewat upaya mitigasi bencana tanah gerak yang memicu longsor. Utamanya di wilayah Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Kawasan tersebut dipilih dengan latar belakang bencana tanah longsor yang terjadi pada Februari awal tahun lalu. Saat itu, sejumlah warga harus mengungsi demi keamanan dan keselamatan mereka.

Adapun tim UB yang melakukan mitigasi bencana adalah Prof Dr Sunaryo SSi MSi, Prof Drs Adi Susilo MSi PhD, Dr Ir Runi Asmaranto ST MT dan Arief Andy Soebroto ST MKom. Selain melakukan riset, mereka juga mengedukasi warga.

Prof Sunaryo mengatakan, ada beberapa rekomendasi bagi warga terkait upaya mitigasi bencana. Salah satunya mencari lokasi yang termasuk bidang longsor yang stabil dan tidak stabil. “Lokasi yang bidang longsornya stabil (bagian timur-tenggara dari lokasi penelitian) dapat langsung direkomendasikan untuk digunakan sebagai tempat relokasi warga setempat,” ujarnya Rabu (10/11).

Sedangkan lokasi yang tidak stabil, dilakukan rekayasa sebagai upaya mitigasi. Seperti mengurangi kelebihan ketebalan atau beban batuan yang terdapat di atas bidang longsor pada lintasan yang tidak stabil. Selain itu, upaya lain bisa dilakukan dengan membuat bangunan sipil berupa tembok penahan atau bor pile (paku bumi) sampai pada kedalaman minimal. Termasuk melakukan eco-engineering melalui penanaman vegetasi yang berakar paku dan/atau berakar merayap.

“Lalu melakukan pemasangan rambu-rambu dan EWS (Early Warning System), yang terakhir melakukan edukasi masyarakat tentang penerapan protokol mitigasi bencana,” tambah Sunaryo.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, tim Doktor Mengabdi UB akan membuat sistem peringatan dini yang dilengkapi dengan sensor. Saat hujan turun, tampungan air di dalam tanah akan dialirkan agar mengendap lama di dalam tanah.

Sementara, ada jenis tanah seperti tanah lempung yang cenderung sensitif terhadap air. Saat hujan lebat, dorongan air akan lebih tinggi hingga bisa menyebabkan massa tanah ikut jebol. “Berbeda dengan tanah pasir yang dorongannya rendah, sehingga jika ada retakan, bisa segera ditutup,” kata Dr Runi Asmaranto di sela diskusi.

Sementara Arief Andy Soebroto menambahkan, dari titik-titik kawasan kritis juga bisa diketahui dan diukur risiko terjadinya longsor dengan sensor endapan tanah. “Pendeteksi sensor ini bisa mendeteksi kandungan air di dalam tanah. Kalau terlalu jenuh, akan terjadi longsor,” kata Arief.

Doktor mengabdi sendiri merupakan salah satu program yang diadakan oleh Universitas Brawijaya untuk membantu kebutuhan atau mengatasi permasalahan yang ada di tengah masyarakat. (adk/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/