alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Dirjen Vokasi Tuntut Guru SMK Bekali Siswa Dengan Pendidikan Karakter

MALANG KOTA – Tak hanya piawai dibidang hard skill, guru SMK juga dituntut memiliki kreativitas dan inovasi dibidang soft skill. Hal ini ditekankan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI Wikan Sakarinto secara daring, Senin (11/10). Tepatnya pada saat membuka diklat ’Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan Berstandar Industri’ angkatan ketiga di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang.

Diklat tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha Dunia Industri (MITRAS DUDI). Kegiatan yang diikuti 127 guru SMK pusat unggulan dari 25 provinsi di Indonesia itu akan berlangsung hingga 3 November mendatang.

Dalam sambutannya, Wikan menyampaikan adanya keluhan terkait pengguna tenaga kerja lulusan SMK. Keluhan itu muncul karena guru lupa mengajarkan soft skill dan karakter. Semua guru SMK terlalu mengutamakan hard skill. Sementara setelah murid terjun ke dunia kerja, kenyataannya tidak sama dengan praktik di sekolah.

“Terkait dengan komplain pengguna tenaga kerja ini, kami menargetkan dengan memaksimalkan link and match yang tidak hanya seremoni MoU saja, tapi juga dengan link and match 8+i dengan keterlibatan dunia kerja di segala aspek dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi,” terangnya saat memberi sambutan.

Wikan menegaskan, pendidikan vokasi ditekankan pada soft skill dan karakter plus pengenalan teknis dari awal di kelas 1. Hal itu diharapkan akan membentuk passion minat (bakat) siswa. Kemudian di kelas 2 masuk ke hard skill (skill teknis) yang otomatis akan terus berkembang sepanjang hayat yang dimasukkan dalam kurikulum baru. “Guru–guru sebagai ujung tombak bagaimana menciptakan sistem belajar yang menyenangkan, guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar teori dan praktik,” terangnya.

Sementara kurikulum fokus pada keterampilan soft skill dan juga pengembangan karakter. ”Pelajaran berpusat pada siswa. Siswa lah yang mengembangkan dirinya, bukan kita isi kepala mereka, tapi kita latih mereka mengisi diri dengan hal-hal yang baik sepanjang hayat,” tegasnya.

Ending-nya, jelas Wikan, jika 8+i bisa diterapkan, lulusan pendidikan vokasi dari BMW (Bekerja- Melanjutkan studi – Wirausaha) berubah menjadi WBM (Wirausaha-Bekerja-Melanjutkan Studi). “SMK sebagai pusat keunggulan bukan semata-mata gedung baru dan alat baru, tapi lebih pada perubahan mindset baru dan terobosan-terobosan baru,” paparnya.

Sementara itu, Plt Kepala BBPPMPV BOE Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan SE menyampaikan, link and match antara pendidikan vokasi dengan industri sejatinya sudah ada sejak dulu. Hanya saja, saat ini lebih banyak sekadar MoU saja. Kehadiran Dirjen Vokasi ini diharapkan dapat mendorong agar industri terlibat dengan pendidikan vokasi, baik SMK maupun poli teknik. “Link and match ini penting sekali, tidak hanya sekadar MoU tapi harus diimplementasikan. Mulai dari susun kurikulum bersama, kemudian siapkan atau sediakan guru instruktur untuk mengajar,” bebernya.

Tak berhenti sampai di situ, metode yang dipilih bisa menggunakan project based learning sehingga siswa belajar sudah seperti berada di ranah industri. ”Kita berharap jika 8+i diterapkan, lulusan selain memiliki ijazah, mereka juga kompeten. Baik hard skill, soft skill atau karakter,” pungkas pria yang juga menjabat Sekretaris Dirjen Pendidikan Vokasi tersebut.

Sementara itu, Diklat Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan Berstandar Industri angkatan 3 diawali dengan diklat tatap muka mulai 11 Oktober hingga 24 Oktober. Dilanjutkan dengan kegiatan magang yang dilaksanakan di industri mitra mulai 25 Oktober hingga 31 Oktober. Untuk mendapatkan sertifikasi, peserta melakukan uji kompetensi di industri mitra oleh BBPPMPV BOE Malang dengan penguji Industri awal November mendatang. Setelah itu dilakukan pengimbasan dari hasil diklat dan sertifikasi kepada siswa di sekolah asal peserta. (bin/nay/rmc)

MALANG KOTA – Tak hanya piawai dibidang hard skill, guru SMK juga dituntut memiliki kreativitas dan inovasi dibidang soft skill. Hal ini ditekankan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI Wikan Sakarinto secara daring, Senin (11/10). Tepatnya pada saat membuka diklat ’Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan Berstandar Industri’ angkatan ketiga di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang.

Diklat tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha Dunia Industri (MITRAS DUDI). Kegiatan yang diikuti 127 guru SMK pusat unggulan dari 25 provinsi di Indonesia itu akan berlangsung hingga 3 November mendatang.

Dalam sambutannya, Wikan menyampaikan adanya keluhan terkait pengguna tenaga kerja lulusan SMK. Keluhan itu muncul karena guru lupa mengajarkan soft skill dan karakter. Semua guru SMK terlalu mengutamakan hard skill. Sementara setelah murid terjun ke dunia kerja, kenyataannya tidak sama dengan praktik di sekolah.

“Terkait dengan komplain pengguna tenaga kerja ini, kami menargetkan dengan memaksimalkan link and match yang tidak hanya seremoni MoU saja, tapi juga dengan link and match 8+i dengan keterlibatan dunia kerja di segala aspek dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi,” terangnya saat memberi sambutan.

Wikan menegaskan, pendidikan vokasi ditekankan pada soft skill dan karakter plus pengenalan teknis dari awal di kelas 1. Hal itu diharapkan akan membentuk passion minat (bakat) siswa. Kemudian di kelas 2 masuk ke hard skill (skill teknis) yang otomatis akan terus berkembang sepanjang hayat yang dimasukkan dalam kurikulum baru. “Guru–guru sebagai ujung tombak bagaimana menciptakan sistem belajar yang menyenangkan, guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar teori dan praktik,” terangnya.

Sementara kurikulum fokus pada keterampilan soft skill dan juga pengembangan karakter. ”Pelajaran berpusat pada siswa. Siswa lah yang mengembangkan dirinya, bukan kita isi kepala mereka, tapi kita latih mereka mengisi diri dengan hal-hal yang baik sepanjang hayat,” tegasnya.

Ending-nya, jelas Wikan, jika 8+i bisa diterapkan, lulusan pendidikan vokasi dari BMW (Bekerja- Melanjutkan studi – Wirausaha) berubah menjadi WBM (Wirausaha-Bekerja-Melanjutkan Studi). “SMK sebagai pusat keunggulan bukan semata-mata gedung baru dan alat baru, tapi lebih pada perubahan mindset baru dan terobosan-terobosan baru,” paparnya.

Sementara itu, Plt Kepala BBPPMPV BOE Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan SE menyampaikan, link and match antara pendidikan vokasi dengan industri sejatinya sudah ada sejak dulu. Hanya saja, saat ini lebih banyak sekadar MoU saja. Kehadiran Dirjen Vokasi ini diharapkan dapat mendorong agar industri terlibat dengan pendidikan vokasi, baik SMK maupun poli teknik. “Link and match ini penting sekali, tidak hanya sekadar MoU tapi harus diimplementasikan. Mulai dari susun kurikulum bersama, kemudian siapkan atau sediakan guru instruktur untuk mengajar,” bebernya.

Tak berhenti sampai di situ, metode yang dipilih bisa menggunakan project based learning sehingga siswa belajar sudah seperti berada di ranah industri. ”Kita berharap jika 8+i diterapkan, lulusan selain memiliki ijazah, mereka juga kompeten. Baik hard skill, soft skill atau karakter,” pungkas pria yang juga menjabat Sekretaris Dirjen Pendidikan Vokasi tersebut.

Sementara itu, Diklat Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan Berstandar Industri angkatan 3 diawali dengan diklat tatap muka mulai 11 Oktober hingga 24 Oktober. Dilanjutkan dengan kegiatan magang yang dilaksanakan di industri mitra mulai 25 Oktober hingga 31 Oktober. Untuk mendapatkan sertifikasi, peserta melakukan uji kompetensi di industri mitra oleh BBPPMPV BOE Malang dengan penguji Industri awal November mendatang. Setelah itu dilakukan pengimbasan dari hasil diklat dan sertifikasi kepada siswa di sekolah asal peserta. (bin/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/