alexametrics
22.5 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Mahasiswa ITN Malang Juara 2 Kompetisi Animasi Convey Day

MALANG KOTA – Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menyabet juara 2 Kompetisi Animasi Online Convey Day 2021 yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bersama UNDP Indonesia. Lomba yang diselenggarakan lewat media sosial Instagram ini dimulai sejak bulan Januari hingga Februari 2021 dan diumumkan Jumat lalu (05/03).

Mengangkat tema “Berbeda Tetap Bersama” Convey Day mendorong generasi muda menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika. Melalui kompetisi ini diharapkan generasi muda bisa menjadi duta moderasi beragama yang menghargai keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan di Indonesia.

Semangat tersebut ditunjukkan oleh Al Maulana Salong (Animator) dan Farida Novia (penulis scrip) mahasiswa Arsitektur ITN Malang yang berkolaborasi dengan Ardhea Maya Sari (voice over/pengisi suara) mahasiswa Seni Rupa Universitas Telkom Bandung. Mereka bertiga secara daring membangun relasi dengan membuat video animasi dengan sub tema “Toleransi”.

“Sebenarnya ada beberapa kategori lomba, tapi saya memilih animasi. Karena kebetulan saya bisa sedikit (ilmu) membuat animasi. Untuk penulis scrip Farida teman satu angkatan di Arsitektur ITN dan pengisi suaranya Dhea (panggilan akrab Ardhea Maya Sari) teman dari Telkom Bandung. Ya, saya kenalnya Dhea suaranya bagus, meski kami belum pernah bertemu,” terang Alan panggilan akrab Al Maulana Salong.

Berdurasi tiga menit, video explainer yang dilengkapi subtitle buatan Alan tersebut memudahkan penonton memahami pesan yang ingin disampaikan. Berisi penjelasan mengenai cara bertoleransi antar agama, dampak yang ditimbulkan jika tanpa toleransi, hingga pentingnya penerapan toleransi di masyarakat.

“Video ada tiga bagian. Di menit pertama menceriterakan Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan agama. Penting bagi kita bersosialisasi menerima lingkungan baru yang berbeda dari kita. Menit ke 2, intinya bagaimana kita menangapi perbedaan tersebut dengan memasukkan konsep toleransi, cara bersikap kepada orang lain yang berbeda agama,” beber Alan.
Sementara di menit ke 3 merupakan bagian kesimpulan. ”Hasil dari konsep toleransi yang telah kita terapkan di kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat,” tambahnya.

Senada dengan Alan, Farida Novia (penulis script) mengatakan Indonesia sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Dimana toleransi inilah yang menjadi kunci perdamaian bagi masyarakat Indonesia. Dengan adanya sikap toleransi, konflik dan perpecahan antar individu maupun kelompok dapat dihindari.

“Pesan yang bisa di ambil dari video animasi tersebut ialah kata toleransi jangan hanya menjadi slogan saja. Toleransi harus sama-sama kita wujudkan dalam dalam kehidupan sehari-hari. Manusia berbeda-beda, tapi harus saling menghargai. Dan juga harus menyadari bahwa kita sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan,” imbuh Farida.

Sementara itu, kolaborasi lintas universitas ini juga disambut baik Ardhea Maya Sari (pengisi suara) dari Telkom Bandung. Menurutnya ia sangat senang bisa membantu teman-temannya dari ITN Malang. “Saya di Telkom juga kuliah di jurusan seni, Alan dan Farida jurusan Arsitektur. Jadi kami sama-sama tertarik dalam industri kreatif. Kami bertiga berbeda daerah, jadi kami semakin paham bahwa urgensi toleransi di Indonesia cukup penting, perlu dipupuk dan dijaga (toleransi),” jelas Dhea.

Pewarta: Andika Satria Perdana

MALANG KOTA – Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menyabet juara 2 Kompetisi Animasi Online Convey Day 2021 yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bersama UNDP Indonesia. Lomba yang diselenggarakan lewat media sosial Instagram ini dimulai sejak bulan Januari hingga Februari 2021 dan diumumkan Jumat lalu (05/03).

Mengangkat tema “Berbeda Tetap Bersama” Convey Day mendorong generasi muda menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika. Melalui kompetisi ini diharapkan generasi muda bisa menjadi duta moderasi beragama yang menghargai keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan di Indonesia.

Semangat tersebut ditunjukkan oleh Al Maulana Salong (Animator) dan Farida Novia (penulis scrip) mahasiswa Arsitektur ITN Malang yang berkolaborasi dengan Ardhea Maya Sari (voice over/pengisi suara) mahasiswa Seni Rupa Universitas Telkom Bandung. Mereka bertiga secara daring membangun relasi dengan membuat video animasi dengan sub tema “Toleransi”.

“Sebenarnya ada beberapa kategori lomba, tapi saya memilih animasi. Karena kebetulan saya bisa sedikit (ilmu) membuat animasi. Untuk penulis scrip Farida teman satu angkatan di Arsitektur ITN dan pengisi suaranya Dhea (panggilan akrab Ardhea Maya Sari) teman dari Telkom Bandung. Ya, saya kenalnya Dhea suaranya bagus, meski kami belum pernah bertemu,” terang Alan panggilan akrab Al Maulana Salong.

Berdurasi tiga menit, video explainer yang dilengkapi subtitle buatan Alan tersebut memudahkan penonton memahami pesan yang ingin disampaikan. Berisi penjelasan mengenai cara bertoleransi antar agama, dampak yang ditimbulkan jika tanpa toleransi, hingga pentingnya penerapan toleransi di masyarakat.

“Video ada tiga bagian. Di menit pertama menceriterakan Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan agama. Penting bagi kita bersosialisasi menerima lingkungan baru yang berbeda dari kita. Menit ke 2, intinya bagaimana kita menangapi perbedaan tersebut dengan memasukkan konsep toleransi, cara bersikap kepada orang lain yang berbeda agama,” beber Alan.
Sementara di menit ke 3 merupakan bagian kesimpulan. ”Hasil dari konsep toleransi yang telah kita terapkan di kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat,” tambahnya.

Senada dengan Alan, Farida Novia (penulis script) mengatakan Indonesia sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Dimana toleransi inilah yang menjadi kunci perdamaian bagi masyarakat Indonesia. Dengan adanya sikap toleransi, konflik dan perpecahan antar individu maupun kelompok dapat dihindari.

“Pesan yang bisa di ambil dari video animasi tersebut ialah kata toleransi jangan hanya menjadi slogan saja. Toleransi harus sama-sama kita wujudkan dalam dalam kehidupan sehari-hari. Manusia berbeda-beda, tapi harus saling menghargai. Dan juga harus menyadari bahwa kita sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan,” imbuh Farida.

Sementara itu, kolaborasi lintas universitas ini juga disambut baik Ardhea Maya Sari (pengisi suara) dari Telkom Bandung. Menurutnya ia sangat senang bisa membantu teman-temannya dari ITN Malang. “Saya di Telkom juga kuliah di jurusan seni, Alan dan Farida jurusan Arsitektur. Jadi kami sama-sama tertarik dalam industri kreatif. Kami bertiga berbeda daerah, jadi kami semakin paham bahwa urgensi toleransi di Indonesia cukup penting, perlu dipupuk dan dijaga (toleransi),” jelas Dhea.

Pewarta: Andika Satria Perdana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/