alexametrics
24.1 C
Malang
Thursday, 21 October 2021

888 Sekolah di Kabupaten Malang Belum Gelar PTM

MALANG – Meski kasus baru Covid-19 melandai, mayoritas sekolah di Kabupaten Malang belum menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dari 1.428 sekolah, mulai TK hingga SMP, sebanyak 888 di antaranya masih memilih pembelajaran daring.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Malang Rachmat Hardijono mengatakan, ratusan sekolah tersebut belum menggelar PTM dengan alasan beragam. Beberapa di antaranya karena masih menyiapkan fasilitas penunjang protokol kesehatan (prokes). ”Ada juga yang masih menunggu izin orang tua murid,” terangnya. Sementara, ada juga sekolah yang belum menggelar PTM karena beralasan vaksinasi belum merata.

Menurut Rachmat, pihaknya tak mempermasalahkan sekolah yang belum menggelar PTM. Karena kenyamanan belajar menjadi kewenangan sepenuhnya pihak sekolah. “Kami serahkan keputusannya kepada sekolah. Ada yang sudah tatap muka dengan pembatasan, ada juga yang masih daring,” ungkapnya saat dikonfirmasi kemarin (11/10).

Sementara untuk sekolah yang menggelar PTM, disdik mencatat baru dilakukan 498 sekolah. Pihaknya mendorong pengawas sekolah dan kepala sekolah tunduk pada aturan PTM. Khususnya jumlah siswa tak boleh lebih dari 50 persen.

Tak hanya itu, ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi sekolah yang menggelar PTM. Yakni meminta pengertian pedagang keliling untuk tidak menimbulkan kerumunan. “Sehingga jangan sampai dirusak dengan hal sepele, karena klaster sekolah bisa saja terjadi,” terang mantan Asisten Umum Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang ini.

Rachmat menambahkan, ada sejumlah sekolah yang belum menjawab apakah memilih daring atau luring. Ketika ditelusuri, mereka masih melakukan uji coba secara terbatas. Sehingga pembelajaran mayoritas masih dilakukan daring.

Pelaksanaan PTM di Kabupaten yang terbilang sedikit membuat sejumlah sekolah bisa bernafas lega. Seperti yang ada di SDN 1 Tamansatriyan Tirtoyudo. Mereka telah melakukan PTM selama sebulan. “Kami sudah ancang-ancang dulu dengan membentuk Satgas Licek,” kata Bakhrul Ulum, guru Kelas 6 SDN 1 Tamansatriyan.

Sekolah tersebut memilih PTM karena sudah ada legalitas dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dan Kemendikbud Ristek. Sebab selama daring, para guru dan siswa kerap terkendala jaringan internet. Meski begitu, proses pembelajaran tetap bisa berjalan dengan lancar.

Bakhrul pun ingin PTM bisa terus berjalan. Sebab penyampaian materi dan proses sosialisasi dengan siswa bisa terjalin. Tentu dia dan para siswa mau tak mau harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. “Siswa yang saya ajar akhirnya senang PTM, tapi tentu mereka awalnya kaget harus dengan prokes ketat,” tandas Bakhrul. (adn/nay/rmc)

MALANG – Meski kasus baru Covid-19 melandai, mayoritas sekolah di Kabupaten Malang belum menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Dari 1.428 sekolah, mulai TK hingga SMP, sebanyak 888 di antaranya masih memilih pembelajaran daring.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Malang Rachmat Hardijono mengatakan, ratusan sekolah tersebut belum menggelar PTM dengan alasan beragam. Beberapa di antaranya karena masih menyiapkan fasilitas penunjang protokol kesehatan (prokes). ”Ada juga yang masih menunggu izin orang tua murid,” terangnya. Sementara, ada juga sekolah yang belum menggelar PTM karena beralasan vaksinasi belum merata.

Menurut Rachmat, pihaknya tak mempermasalahkan sekolah yang belum menggelar PTM. Karena kenyamanan belajar menjadi kewenangan sepenuhnya pihak sekolah. “Kami serahkan keputusannya kepada sekolah. Ada yang sudah tatap muka dengan pembatasan, ada juga yang masih daring,” ungkapnya saat dikonfirmasi kemarin (11/10).

Sementara untuk sekolah yang menggelar PTM, disdik mencatat baru dilakukan 498 sekolah. Pihaknya mendorong pengawas sekolah dan kepala sekolah tunduk pada aturan PTM. Khususnya jumlah siswa tak boleh lebih dari 50 persen.

Tak hanya itu, ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi sekolah yang menggelar PTM. Yakni meminta pengertian pedagang keliling untuk tidak menimbulkan kerumunan. “Sehingga jangan sampai dirusak dengan hal sepele, karena klaster sekolah bisa saja terjadi,” terang mantan Asisten Umum Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang ini.

Rachmat menambahkan, ada sejumlah sekolah yang belum menjawab apakah memilih daring atau luring. Ketika ditelusuri, mereka masih melakukan uji coba secara terbatas. Sehingga pembelajaran mayoritas masih dilakukan daring.

Pelaksanaan PTM di Kabupaten yang terbilang sedikit membuat sejumlah sekolah bisa bernafas lega. Seperti yang ada di SDN 1 Tamansatriyan Tirtoyudo. Mereka telah melakukan PTM selama sebulan. “Kami sudah ancang-ancang dulu dengan membentuk Satgas Licek,” kata Bakhrul Ulum, guru Kelas 6 SDN 1 Tamansatriyan.

Sekolah tersebut memilih PTM karena sudah ada legalitas dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dan Kemendikbud Ristek. Sebab selama daring, para guru dan siswa kerap terkendala jaringan internet. Meski begitu, proses pembelajaran tetap bisa berjalan dengan lancar.

Bakhrul pun ingin PTM bisa terus berjalan. Sebab penyampaian materi dan proses sosialisasi dengan siswa bisa terjalin. Tentu dia dan para siswa mau tak mau harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. “Siswa yang saya ajar akhirnya senang PTM, tapi tentu mereka awalnya kaget harus dengan prokes ketat,” tandas Bakhrul. (adn/nay/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru