alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Pingin Jadi Kasek? 69 Guru Penggerak Wajib Punya Ilmu Tambahan

MALANG KOTA – Dinas pendidikan dan kebudayaan (disdikbud) Kota Malang membuat syarat tambahan bagi calon kepala sekolah (kasek). Selain harus lulusan program guru penggerak (PGP) dari pemerintah pusat, juga harus memenuhi beberapa ketentuan yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Misalnya mempunyai pengetahuan dasar lainnya seperti ilmu manajemen. Itulah menu komplet untuk menjadi kasek.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM, kemarin (13/2). Pejabat eselon II B itu memaparkan, modal lulusan PGP saja tidak cukup untuk menjadi kasek. Sebab, memimpin satuan pendidikan itu sifatnya komplek, mulai dari mengatur administrasi, manajemen sekolah, hingga mengatur para tenaga pendidik. Karena itu, guru lulusan program PGP harus mengikuti pelatihan tambahan untuk menjadi kasek. ”Memang kebijakan pemerintah pusat, untuk guru penggerak adalah sim atau syarat sebagai calon kasek. Namun tentu mereka harus memiliki pengetahuan dasar lainnya,” kata Suwarjana.

Dia mengaku pernah melakukan beberapa tes kesiapan guru penggerak untuk menjadi kasek. Hasilnya, guru penggerak masih membutuhkan beberapa pendidikan pengetahuan lainnya untuk menyempurnakan kemampuan mereka memimpin satuan pendidikan. “Ini masukkan bagi masukkan fasilitator P4TK (penyelenggara program guru penggerak). Ke depannya, mungkin dari testimoni ini bisa menambah materi manajemen kasek,” kata Suwarjana.

Selain pengetahuan yang masih harus dikembangkan lagi, kata dia, syarat lain calon kasek terkait tingkat kepangkatan. Dia menyebut, kebanyakan kepangkatan guru penggerak belum memenuhi untuk menjadi kasek. Sehingga tidak bisa mengisi kursi kasek yang kosong, meski di satu daerah itu memiliki banyak guru penggerak.  ”Kami setuju teman-teman yang lulus guru penggerak bisa jadi kasek, tapi harus sesuai ketentuan yang berlaku,” tutur mantan Kabag Umum Setda Kota Malang itu.

Lebih lanjut, pihaknya memastikan akan mendukung penuh kebijakan guru penggerak di Kota Malang. Bahkan nantinya dia ingin semua guru di Kota Malang mengikuti program guru penggerak. Sebab, hal itu akan mempermudah implementasi kurikulum prototipe. “Guru penggerak harus mengimbaskan ilmu yang didapat di wilayahnya. Untuk mendiseminasikan (menginformasikan) kepada para komunitas guru, baik lewat MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) atau KKG (kelompok kerja guru),” tandas Suwarjana.

Untuk saat ini, guru penggerak di Kota Malang berjumlah 69 orang. Terdiri atas 65 lulusan angkatan pertama dan 4 guru lulusan angkatan kedua. Selain guru penggerak, sebagai akselerasi menuju penerapan kurikulum prototipe, tahun ini diskdikbud menargetkan memiliki 25 sekolah penggerak.(adk/dan)

MALANG KOTA – Dinas pendidikan dan kebudayaan (disdikbud) Kota Malang membuat syarat tambahan bagi calon kepala sekolah (kasek). Selain harus lulusan program guru penggerak (PGP) dari pemerintah pusat, juga harus memenuhi beberapa ketentuan yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Misalnya mempunyai pengetahuan dasar lainnya seperti ilmu manajemen. Itulah menu komplet untuk menjadi kasek.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM, kemarin (13/2). Pejabat eselon II B itu memaparkan, modal lulusan PGP saja tidak cukup untuk menjadi kasek. Sebab, memimpin satuan pendidikan itu sifatnya komplek, mulai dari mengatur administrasi, manajemen sekolah, hingga mengatur para tenaga pendidik. Karena itu, guru lulusan program PGP harus mengikuti pelatihan tambahan untuk menjadi kasek. ”Memang kebijakan pemerintah pusat, untuk guru penggerak adalah sim atau syarat sebagai calon kasek. Namun tentu mereka harus memiliki pengetahuan dasar lainnya,” kata Suwarjana.

Dia mengaku pernah melakukan beberapa tes kesiapan guru penggerak untuk menjadi kasek. Hasilnya, guru penggerak masih membutuhkan beberapa pendidikan pengetahuan lainnya untuk menyempurnakan kemampuan mereka memimpin satuan pendidikan. “Ini masukkan bagi masukkan fasilitator P4TK (penyelenggara program guru penggerak). Ke depannya, mungkin dari testimoni ini bisa menambah materi manajemen kasek,” kata Suwarjana.

Selain pengetahuan yang masih harus dikembangkan lagi, kata dia, syarat lain calon kasek terkait tingkat kepangkatan. Dia menyebut, kebanyakan kepangkatan guru penggerak belum memenuhi untuk menjadi kasek. Sehingga tidak bisa mengisi kursi kasek yang kosong, meski di satu daerah itu memiliki banyak guru penggerak.  ”Kami setuju teman-teman yang lulus guru penggerak bisa jadi kasek, tapi harus sesuai ketentuan yang berlaku,” tutur mantan Kabag Umum Setda Kota Malang itu.

Lebih lanjut, pihaknya memastikan akan mendukung penuh kebijakan guru penggerak di Kota Malang. Bahkan nantinya dia ingin semua guru di Kota Malang mengikuti program guru penggerak. Sebab, hal itu akan mempermudah implementasi kurikulum prototipe. “Guru penggerak harus mengimbaskan ilmu yang didapat di wilayahnya. Untuk mendiseminasikan (menginformasikan) kepada para komunitas guru, baik lewat MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) atau KKG (kelompok kerja guru),” tandas Suwarjana.

Untuk saat ini, guru penggerak di Kota Malang berjumlah 69 orang. Terdiri atas 65 lulusan angkatan pertama dan 4 guru lulusan angkatan kedua. Selain guru penggerak, sebagai akselerasi menuju penerapan kurikulum prototipe, tahun ini diskdikbud menargetkan memiliki 25 sekolah penggerak.(adk/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/