Derita Covid-19, Sopir Angkot Takut Istri Kecewa hingga Pedagang Rindu Tawa Anak Sekolah

Rektor UIN Malang Abdul Haris (baju batik) berbagi cerita dengan para pekerja harian di Graha Rektorat UIN Malang.

KOTA MALANG – Senin (13/4) pagi, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang mengundang para pekerja informal di Graha Rektorat untuk berbagi cerita. Menariknya, para pekerja harian itu tak hanya menceritakan hidupnya yang susah di tengah pandemi Covid-19, tapi juga mengharukan.

Kerok Kustamaji, 52, pria yang sudah berumur paruh baya itu terlihat tegar ketika menceritakan kondisinya saat ini kepada Rektor UIN Malang Abdul Haris. Di tengah pandemi, penghasilannya sebagai sopir angkot di Kota Batu sangat mengenaskan.

“Biasanya sehari penghasilan bersih saya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, yang Rp 50 ribu buat setoran pinjam angkot orang,” cerita bapak 3 anak itu.

Namun sejak pandemi, penghasilannya sehari hanya Rp 20 ribu. Lantaran anak sekolah, wisatawan, yang jadi pelanggan setiap harinya, tidak terlihat batang hidungnya lagi.

“Ya untungnya yang punya mobil baik, saya nggak papa nggak nyetorin mobil. Tapi ya kalau sampai rumah agak nggak enak sama istri. Cuma bisa bilang, Buk, saya dapat segini jangan marah ya,” ungkapnya sedih.

Cerita lain datang juga dari pedagang sate telur, Ngatimin. Pria berusia 48 tahun itu mengaku dagangannya bahkan belum tentu sehari laku. Karena konsumennya mahasiswa dan anak sekolah tak ada lagi.

“Biasanya saya jual di daerah sekitar UIN Malang, di sekolah sekitar sini juga. Pulang bisa bawa uang 100 ribu lah. Sekarang Rp 50 ribu aja susah, nggak sampai,” bebernya.

Namun hal yang paling membuatnya sedih bukan perkara penghasilannya saja. Namun ia bercerita bahwa ia rindu canda tawa anak sekolah.

“Biasanya, siang itu anak-anak sekolah beli. Cuma 2.000 atau 3.000 rupiah sambil bercanda. Kadang ada yang lupa bayar juga karena keasikan bercanda. Saya kangen,” tuturnya sambil berkaca-kaca.

Rektor UIN Malang Abdul Haris mengatakan, diskusi pagi itu memberinya banyak ilmu. Bahkan di antara pekerja tersebut, ada yang bekerja dengan modal ayat kursi agar lancar.

“Saya belajar dari mereka, bukan saya yang jadi guru mereka. Ternyata orang-orang seperti ini adalah guru terbaik,” tegasnya sambil terharu mengingat.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Rida Ayu
Editor: Hendarmono Al Sidarto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here