alexametrics
30.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Kisah Mahasiswa UMM Berlebaran di Luar Negeri, Jadi Pelopor Salat Id

Ini kisah lebaran di luar negeri yang dirasakan beberapa anggota civitas academica Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ada beragam cara yang dilakukan mereka untuk mengobati kerinduan terhadap perayaan Idul Fitri di Indonesia. Berikut kisahnya.

MALANG KOTA – Nuansa Ramadan dan Lebaran yang berbeda dirasakan beberapa anggota civitas academica Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri harus rela berjauhan dengan keluarganya. Beberapa cerita menarik pun diutarakan mereka. Seperti sulitnya menemukan makanan halal untuk sahur dan berbuka hingga rela menempuh jarak yang cukup jauh agar bisa bertemu dan berbuka bersama dengan kawan-kawan dari Indonesia.

Suasana Lebaran di negeri orang juga tidak semeriah di tanah air. Seruan takbir tidak bisa ditemui dengan mudah. Pun dengan makanan khas Indonesia yang biasa tersaji saat Lebaran. Salah satu contoh cerita menarik disampaikan Septifa Leiliano Ceria. Alumnus Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM itu kini tengah menempuh pendidikan di Australian National University. Selama bulan Ramadan, dia mengaku cukup kesulitan untuk mengunjungi masjid.

Sebab, di Canberra, Australia, protokol kesehatan (prokes) diterapkan cukup ketat. ”Intinya, suasana bulan suci dan Lebaran tentu tidak semeriah di Indonesia,” kata Ano–sapaan akrabnya.

Beruntung, salah satu kerinduannya terhadap menu makanan khas Indonesia sempat terwujud. Tepatnya ketika ada bazar dan festival kuliner makanan halal di Canberra. Dalam kegiatan itu, selain makanan khas Indonesia, ada pula beberapa varian makanan khas dari Turki, India, dan Pakistan.

”Meski begitu, makanan Indonesia masih menjadi nomor satu di hati saya, terutama soto,” kata dia.

Di Australia, perempuan yang memiliki hobi hiking itu juga sempat menjadi volunteer guru mengaji bagi anak-anak di sana. Tugas itu membuat dia merasa beruntung pernah menempuh studi di UMM. Sebab, di Kampus Putih tersebut dia sempat mengikuti kegiatan internasional yang tersaji di International Relation Office (IRO) dan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Dari program-program itulah dia menjadi terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari belahan dunia lain.

Cerita berikutnya datang dari Adjar Yusrandi Akbar, salah satu pengajar UMM yang sedang menuntut ilmu di Taiwan. Berbeda dengan Ano, Adjar mengaku cukup mudah melakukan ibadah di sana. Sebab, di dekat tempat tinggalnya sudah ada musala yang disediakan untuk mahasiswa muslim. Selain itu, jumlah penganut Islam di Asia University, tempatnya menuntut ilmu, juga cukup banyak.

Saat Lebaran, dia bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam Asia University Moslem Association berinisiatif untuk menggelar salat Idul Fitri di kawasan kampus. Tepatnya di sebuah lapangan bola voli.

”Alhamdulillah saya masih bisa merasakan suasana Idul Fitri dengan nyaman meskipun jauh dari kampung halaman,” kata Adjar.

Dia juga mengaku aktif memeriahkan agenda Ramadan dan Lebaran di kampusnya. Seperti mengikuti kajian dan beberapa sempat menjadi pemateri.

Di Polandia, ada Firdaus Faraj Ba-Gharib, mahasiswa akuntansi UMM yang menjalani pertukaran pelajar di SGH Warsaw School of Economics. Dia merupakan salah satu mahasiswa yang diberangkatkan oleh UMM melalui beasiswa Erasmus beberapa bulan lalu.

Di Polandia, Faraj mengaku cukup kesulitan dalam menjalani ibadah puasa. Di sana, durasi puasanya lebih lama, yakni 17 sampai 18 jam. Belum lagi jarak berbuka, salat Tarawih, dan sahur yang berdekatan. ”Saya jadi satu-satunya muslim yang ada di kampus. Jadi hampir tidak ada suasana Ramadan dan Lebaran yang saya temui,” kata dia.

Beranjak dari itu, Faraj mengaku sering berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk ikut dalam beberapa kegiatan. Dia juga mengisi kegiatan dengan menjadi volunteer dalam kegiatan berbagi makanan secara gratis kepada teman-teman yang ada di Polandia. ”Beruntungnya, beberapa program dan organisasi di UMM sudah saya ikuti. Jadinya saya lebih mudah dalam beradaptasi dan bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa dari negara lain. Saya juga bangga bisa menjadi representasi dari UMM dan Islam di kampus ini,” papar Faraj.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Ilham, mahasiswa Bahasa Inggris UMM yang tengah menjalani pertukaran mahasiswa di Braga, Portugal. Dia menempuh studi di Universidade do Minho. Saat Lebaran, dia bersama sejumlah temannya melaksanakan salat Id di salah satu kediaman mahasiswa Indonesia. Selain dia, ada pula mahasiswa dari Indonesia lainnya yang juga ikut. ”Ada juga mahasiswa dari Timor Leste yang diundang sebagai bentuk silaturahmi,” kata Ilham.

Dia mengaku bila suasana Lebaran itu baru pertama dia rasakan. ”Perasaan rindu akan keluarga di rumah jadi sangat terasa. Namun kalau tidak begini, tidak akan ada cerita berbeda terkait perayaan Idul Fitri di negara lain,” kata dia.

Tidak jauh berbeda dengannya, Dion Maulana Prasetya, dosen Hubungan Internasional UMM, juga merasakan rasa rindu terhadap tanah air di momen lebaran. Dia diketahui sedang menyelesaikan studi doktoral di Ankara Yıldırım Beyazıt Üniversitesi.

”Sangat rindu tentunya dengan orang tua di Indonesia. Apalagi beberapa waktu lalu ayah saya meninggal, sebulan sebelum Ramadan,” kata dia.

Dia menceritakan bahwa etos kerja yang selama ini dia dapat dari UMM turut memberikan kemudahan selama studi di Turki. Utamanya ketika dia dihadapkan dengan tugas dan kegiatan kampus yang menumpuk.

Pengalaman menarik lainnya datang dari Salim Toshboyev, salah satu alumnus program BIPA UMM asal Uzbekistan. Dia merasakan beberapa perbedaan dalam menjalani puasa dan Lebaran di kedua negara. Menurutnya, suasana Ramadan di Indonesia lebih terasa beserta pernak-pernik yang menghiasinya. Begitu pula dengan budaya mudik yang tidak dia temui di negara asalnya.

”Saya rindu sekali dengan Indonesia, khususnya Malang dan UMM. Teman-teman, dosen, juga dengan program-program internasional yang ada. Begitu pula dengan makanan asli Indonesia. Saya suka sekali dengan nasi goreng, soto dan juga pecel. Semoga bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat,” harap pria yang kini sibuk menjadi tour leader Asia di Uzbekistan tersebut. (c1/by/fia)

Ini kisah lebaran di luar negeri yang dirasakan beberapa anggota civitas academica Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ada beragam cara yang dilakukan mereka untuk mengobati kerinduan terhadap perayaan Idul Fitri di Indonesia. Berikut kisahnya.

MALANG KOTA – Nuansa Ramadan dan Lebaran yang berbeda dirasakan beberapa anggota civitas academica Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri harus rela berjauhan dengan keluarganya. Beberapa cerita menarik pun diutarakan mereka. Seperti sulitnya menemukan makanan halal untuk sahur dan berbuka hingga rela menempuh jarak yang cukup jauh agar bisa bertemu dan berbuka bersama dengan kawan-kawan dari Indonesia.

Suasana Lebaran di negeri orang juga tidak semeriah di tanah air. Seruan takbir tidak bisa ditemui dengan mudah. Pun dengan makanan khas Indonesia yang biasa tersaji saat Lebaran. Salah satu contoh cerita menarik disampaikan Septifa Leiliano Ceria. Alumnus Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM itu kini tengah menempuh pendidikan di Australian National University. Selama bulan Ramadan, dia mengaku cukup kesulitan untuk mengunjungi masjid.

Sebab, di Canberra, Australia, protokol kesehatan (prokes) diterapkan cukup ketat. ”Intinya, suasana bulan suci dan Lebaran tentu tidak semeriah di Indonesia,” kata Ano–sapaan akrabnya.

Beruntung, salah satu kerinduannya terhadap menu makanan khas Indonesia sempat terwujud. Tepatnya ketika ada bazar dan festival kuliner makanan halal di Canberra. Dalam kegiatan itu, selain makanan khas Indonesia, ada pula beberapa varian makanan khas dari Turki, India, dan Pakistan.

”Meski begitu, makanan Indonesia masih menjadi nomor satu di hati saya, terutama soto,” kata dia.

Di Australia, perempuan yang memiliki hobi hiking itu juga sempat menjadi volunteer guru mengaji bagi anak-anak di sana. Tugas itu membuat dia merasa beruntung pernah menempuh studi di UMM. Sebab, di Kampus Putih tersebut dia sempat mengikuti kegiatan internasional yang tersaji di International Relation Office (IRO) dan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Dari program-program itulah dia menjadi terbiasa berinteraksi dengan orang-orang dari belahan dunia lain.

Cerita berikutnya datang dari Adjar Yusrandi Akbar, salah satu pengajar UMM yang sedang menuntut ilmu di Taiwan. Berbeda dengan Ano, Adjar mengaku cukup mudah melakukan ibadah di sana. Sebab, di dekat tempat tinggalnya sudah ada musala yang disediakan untuk mahasiswa muslim. Selain itu, jumlah penganut Islam di Asia University, tempatnya menuntut ilmu, juga cukup banyak.

Saat Lebaran, dia bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam Asia University Moslem Association berinisiatif untuk menggelar salat Idul Fitri di kawasan kampus. Tepatnya di sebuah lapangan bola voli.

”Alhamdulillah saya masih bisa merasakan suasana Idul Fitri dengan nyaman meskipun jauh dari kampung halaman,” kata Adjar.

Dia juga mengaku aktif memeriahkan agenda Ramadan dan Lebaran di kampusnya. Seperti mengikuti kajian dan beberapa sempat menjadi pemateri.

Di Polandia, ada Firdaus Faraj Ba-Gharib, mahasiswa akuntansi UMM yang menjalani pertukaran pelajar di SGH Warsaw School of Economics. Dia merupakan salah satu mahasiswa yang diberangkatkan oleh UMM melalui beasiswa Erasmus beberapa bulan lalu.

Di Polandia, Faraj mengaku cukup kesulitan dalam menjalani ibadah puasa. Di sana, durasi puasanya lebih lama, yakni 17 sampai 18 jam. Belum lagi jarak berbuka, salat Tarawih, dan sahur yang berdekatan. ”Saya jadi satu-satunya muslim yang ada di kampus. Jadi hampir tidak ada suasana Ramadan dan Lebaran yang saya temui,” kata dia.

Beranjak dari itu, Faraj mengaku sering berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk ikut dalam beberapa kegiatan. Dia juga mengisi kegiatan dengan menjadi volunteer dalam kegiatan berbagi makanan secara gratis kepada teman-teman yang ada di Polandia. ”Beruntungnya, beberapa program dan organisasi di UMM sudah saya ikuti. Jadinya saya lebih mudah dalam beradaptasi dan bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa dari negara lain. Saya juga bangga bisa menjadi representasi dari UMM dan Islam di kampus ini,” papar Faraj.

Hal senada juga disampaikan Muhammad Ilham, mahasiswa Bahasa Inggris UMM yang tengah menjalani pertukaran mahasiswa di Braga, Portugal. Dia menempuh studi di Universidade do Minho. Saat Lebaran, dia bersama sejumlah temannya melaksanakan salat Id di salah satu kediaman mahasiswa Indonesia. Selain dia, ada pula mahasiswa dari Indonesia lainnya yang juga ikut. ”Ada juga mahasiswa dari Timor Leste yang diundang sebagai bentuk silaturahmi,” kata Ilham.

Dia mengaku bila suasana Lebaran itu baru pertama dia rasakan. ”Perasaan rindu akan keluarga di rumah jadi sangat terasa. Namun kalau tidak begini, tidak akan ada cerita berbeda terkait perayaan Idul Fitri di negara lain,” kata dia.

Tidak jauh berbeda dengannya, Dion Maulana Prasetya, dosen Hubungan Internasional UMM, juga merasakan rasa rindu terhadap tanah air di momen lebaran. Dia diketahui sedang menyelesaikan studi doktoral di Ankara Yıldırım Beyazıt Üniversitesi.

”Sangat rindu tentunya dengan orang tua di Indonesia. Apalagi beberapa waktu lalu ayah saya meninggal, sebulan sebelum Ramadan,” kata dia.

Dia menceritakan bahwa etos kerja yang selama ini dia dapat dari UMM turut memberikan kemudahan selama studi di Turki. Utamanya ketika dia dihadapkan dengan tugas dan kegiatan kampus yang menumpuk.

Pengalaman menarik lainnya datang dari Salim Toshboyev, salah satu alumnus program BIPA UMM asal Uzbekistan. Dia merasakan beberapa perbedaan dalam menjalani puasa dan Lebaran di kedua negara. Menurutnya, suasana Ramadan di Indonesia lebih terasa beserta pernak-pernik yang menghiasinya. Begitu pula dengan budaya mudik yang tidak dia temui di negara asalnya.

”Saya rindu sekali dengan Indonesia, khususnya Malang dan UMM. Teman-teman, dosen, juga dengan program-program internasional yang ada. Begitu pula dengan makanan asli Indonesia. Saya suka sekali dengan nasi goreng, soto dan juga pecel. Semoga bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat,” harap pria yang kini sibuk menjadi tour leader Asia di Uzbekistan tersebut. (c1/by/fia)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru