alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Guru Reni, Guru Tunggal Selamatkan Sekolah yang Nyaris Gulung Tikar

Ketelatenan dan kesabaran Reni Nur Farida mempromosikan metode pembelajaran tematik akhirnya membawa hasil. Sekolah yang dulu terancam gulung tikar karena hanya memiliki 6 murid, kini telah mempunyai 200 siswa. Bahkan para muridnya sudah terbiasa berinteraksi dengan pelajar di luar negeri.

PADA 2004 lalu, SD Aisyiyah yang terletak di Jalan Gajayana, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, nyaris gulung tikar. Jumlah murid yang belajar di sana terlalu sedikit. Hanya enam 6 orang. Kala itu, pengelola yayasan bahkan sudah merasa pesimistis. Mereka kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan operasional sekolah lantaran pemasukan yang sangat minim tersebut. Satu per satu para pengajarnya ”pergi”. Yang tersisa hanya kepala sekolah.

Dalam kondisi seperti itulah Reni datang. Menjadi satu-satunya guru yang mengajar di sekolah tersebut. Dia tidak terlalu peduli meski pihak yayasan hanya mampu memberikan gaji Rp 150 ribu per bulan. Di benaknya hanya tebersit raya sayang jika sebuah lembaga pendidikan terpaksa berhenti menyalurkan ilmu pengetahuan.

”Ada kerabat yang meminta saya menjadi guru di sekolah itu (SD Aisyiyah). Tawaran itu langsung saya terima,” ujarnya.

Dalam kondisi serba terbatas, Reni terus memutar otak agar sekolah tersebut bisa menarik minat siswa. Yang pertama terlintas adalah pendekatan terhadap para orang tua. Karena untuk level SD, keputusan untuk memilih sepenuhnya masih berada di tangan orang tua.

Sampai akhirnya, perempuan kelahiran 18 April 1980 itu memutuskan untuk mempromosikan sekolahnya ke TK-TK di Kota Malang. Promosi itu disertai dengan penawaran metode pengajaran dan penghafalan Alquran Qur’an serta hadis secara tematik.

Dengan tekun dia mendatangi sejumlah TK yang ada di Kota Malang. Kadang naik angkutan umum, kadang diantar oleh suaminya menggunakan sepeda motor. Di setiap TK yang dia kunjungi, Reni memperkenalkan metode belajar dan menghafal Alquran serta hadis sesuai tema yang telah ditentukan oleh sekolah.

Di luar dugaan, metode promosi semacam itu mendapat sambutan positif. Tak hanya dari pihak sekolah, wali murid yang melihat langsung penawaran metode pembelajaran itu juga antusias. ”Biasanya kan banyak orang tua yang mendampingi anak-anaknya selama mengikuti kegiatan di TK. Mereka antusias dengan metode pembelajaran, menghafal Alquran, serta menghafal hadis secara tematis,” ujarnya.

Reni menjelaskan, metode menghafal Alquran yang ia tawarkan kala itu memang berdasar tema-tema tertentu. Misalnya untuk murid kelas satu SD, tema yang diambil adalah kisah Nabi Ibrahim. Maka selama setahun, mereka akan diajak untuk memahami dan menghafalkan surat Ibrahim yang ada di Alquran.

”Kalau di sekolah lain, konsep menghafal Alquran itu biasanya per juz. Misalnya juz 30 dulu, lalu juz 29, kemudian juz 28, dan seterusnya,” terangnya.

Perempuan yang kini menjabat Kepala SD Aisyiyah itu menjelaskan, anak-anak SD tidak mungkin paham atau hafal sepenuhnya dengan apa yang diajarkan di sekolah. Namun dia meyakini bahwa dengan metode tematik, murid bisa mendapatkan pesan moral penting yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lewat metode itu pula, semakin tahun semakin banyak wali murid yang tertarik mendaftarkan anaknya ke SD Aisyiyah. Saat ini sekolah itu bahkan sudah memiliki 200 murid yang terdiri dari 9 rombongan belajar.

Ibu tiga anak itu menambahkan, saat ini sekolahnya juga terus mengembangkan jaringan komunikasi sekolah. Misalnya selama enam bulan terakhir, SD Aisyiyah telah melakukan international collaboration dengan beberapa sekolah di luar negeri. Para siswa bisa secara langsung berinteraksi dengan murid dari luar negeri melalui Zoom atau aplikasi panggilan video lainnya. Imbasnya, murid akan lebih terdorong untuk belajar bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi yang baik dengan orang asing.

Kepada generasi muda, dia memberikan pesan agar tak ragu untuk berjuang menjadi seorang pengajar. Menurutnya, yang pertama harus dilakukan ketika seorang menjadi pendidik adalah ikhlas dalam menjalankan tugas. Dengan begitu, murid yang menerima pengajaran juga akan lebih merasakan manfaatnya.

”Rezeki sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanya bekerja secara maksimal,” pungkasnya. (fik/fat)

Ketelatenan dan kesabaran Reni Nur Farida mempromosikan metode pembelajaran tematik akhirnya membawa hasil. Sekolah yang dulu terancam gulung tikar karena hanya memiliki 6 murid, kini telah mempunyai 200 siswa. Bahkan para muridnya sudah terbiasa berinteraksi dengan pelajar di luar negeri.

PADA 2004 lalu, SD Aisyiyah yang terletak di Jalan Gajayana, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, nyaris gulung tikar. Jumlah murid yang belajar di sana terlalu sedikit. Hanya enam 6 orang. Kala itu, pengelola yayasan bahkan sudah merasa pesimistis. Mereka kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan operasional sekolah lantaran pemasukan yang sangat minim tersebut. Satu per satu para pengajarnya ”pergi”. Yang tersisa hanya kepala sekolah.

Dalam kondisi seperti itulah Reni datang. Menjadi satu-satunya guru yang mengajar di sekolah tersebut. Dia tidak terlalu peduli meski pihak yayasan hanya mampu memberikan gaji Rp 150 ribu per bulan. Di benaknya hanya tebersit raya sayang jika sebuah lembaga pendidikan terpaksa berhenti menyalurkan ilmu pengetahuan.

”Ada kerabat yang meminta saya menjadi guru di sekolah itu (SD Aisyiyah). Tawaran itu langsung saya terima,” ujarnya.

Dalam kondisi serba terbatas, Reni terus memutar otak agar sekolah tersebut bisa menarik minat siswa. Yang pertama terlintas adalah pendekatan terhadap para orang tua. Karena untuk level SD, keputusan untuk memilih sepenuhnya masih berada di tangan orang tua.

Sampai akhirnya, perempuan kelahiran 18 April 1980 itu memutuskan untuk mempromosikan sekolahnya ke TK-TK di Kota Malang. Promosi itu disertai dengan penawaran metode pengajaran dan penghafalan Alquran Qur’an serta hadis secara tematik.

Dengan tekun dia mendatangi sejumlah TK yang ada di Kota Malang. Kadang naik angkutan umum, kadang diantar oleh suaminya menggunakan sepeda motor. Di setiap TK yang dia kunjungi, Reni memperkenalkan metode belajar dan menghafal Alquran serta hadis sesuai tema yang telah ditentukan oleh sekolah.

Di luar dugaan, metode promosi semacam itu mendapat sambutan positif. Tak hanya dari pihak sekolah, wali murid yang melihat langsung penawaran metode pembelajaran itu juga antusias. ”Biasanya kan banyak orang tua yang mendampingi anak-anaknya selama mengikuti kegiatan di TK. Mereka antusias dengan metode pembelajaran, menghafal Alquran, serta menghafal hadis secara tematis,” ujarnya.

Reni menjelaskan, metode menghafal Alquran yang ia tawarkan kala itu memang berdasar tema-tema tertentu. Misalnya untuk murid kelas satu SD, tema yang diambil adalah kisah Nabi Ibrahim. Maka selama setahun, mereka akan diajak untuk memahami dan menghafalkan surat Ibrahim yang ada di Alquran.

”Kalau di sekolah lain, konsep menghafal Alquran itu biasanya per juz. Misalnya juz 30 dulu, lalu juz 29, kemudian juz 28, dan seterusnya,” terangnya.

Perempuan yang kini menjabat Kepala SD Aisyiyah itu menjelaskan, anak-anak SD tidak mungkin paham atau hafal sepenuhnya dengan apa yang diajarkan di sekolah. Namun dia meyakini bahwa dengan metode tematik, murid bisa mendapatkan pesan moral penting yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lewat metode itu pula, semakin tahun semakin banyak wali murid yang tertarik mendaftarkan anaknya ke SD Aisyiyah. Saat ini sekolah itu bahkan sudah memiliki 200 murid yang terdiri dari 9 rombongan belajar.

Ibu tiga anak itu menambahkan, saat ini sekolahnya juga terus mengembangkan jaringan komunikasi sekolah. Misalnya selama enam bulan terakhir, SD Aisyiyah telah melakukan international collaboration dengan beberapa sekolah di luar negeri. Para siswa bisa secara langsung berinteraksi dengan murid dari luar negeri melalui Zoom atau aplikasi panggilan video lainnya. Imbasnya, murid akan lebih terdorong untuk belajar bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi yang baik dengan orang asing.

Kepada generasi muda, dia memberikan pesan agar tak ragu untuk berjuang menjadi seorang pengajar. Menurutnya, yang pertama harus dilakukan ketika seorang menjadi pendidik adalah ikhlas dalam menjalankan tugas. Dengan begitu, murid yang menerima pengajaran juga akan lebih merasakan manfaatnya.

”Rezeki sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanya bekerja secara maksimal,” pungkasnya. (fik/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/