alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Unisma Berharap Kepemimpinan NU Bisa Jadi Lokomotif Perubahan

MALANG KOTA – Universitas Islam Malang (Unisma) tiada henti berkontribusi baik dalam sumbangsih pemikiran terhadap kelangsungan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) yang akan datang.

Hal ini dikatakan oleh Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi dalam sambutannya di acara webinar kebangsaan yang bertajuk “Sosok Ideal Pemimpin NU Menjelang Satu Abad” di ruang sidang gedung pusat lantai-2, pada Sabtu (16/10). “Kepemimpinan NU dengan kriteria yang ideal, yang bisa mengayomi, yang bisa menjadi lokomotif perubahan dari berbagai macam bidang,” ungkap Maskuri. Dalam acara yang disiarkan secara langsung di channel YouTube Humas Unisma Official Prof Marsuki juga berharap dengan diselenggarakannya forum intelektual ini, diharapkan dapat melahirkan suatu formulasi sekaligus profil kepemimpinan yang ideal untuk NU menjelang satu abad. “Kita ingin bawa NU semakin memiliki kharisma yang lebih tinggi, ibaratkan padi semakin tua semakin menunduk, tapi sesungguhnya memiliki kualitas yang bagus,” imbuhnya.

Kegiatan webinar yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ini menghadirkan narasumber di antaranya, KH H Miftah Maulana Habiburrahman, Prof Dr KH H Nadirsyah Hosen dari Monash University, Prof Lik Arifin Mansyur Mansurnoor BG SPS dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Pastor Romo Antonius Benny Susetyo.

Sementara itu, di kesempatan yang sama, KH H Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Mifta memaparkan, bahwa Ketum PB NU harus memiliki tiga hal. Di antaranya harus menguasai aspek manegerial dan leadeship, memiliki jejaring yang luas yang tidak hanya dibidang agama tapi juga dibidang kebangsaan, perekonemian, budaya, sosial dan politik. “Terakhir sosok pemimpin NU harus memiliki visi dan misi yang relevan terhadap permasalahan umat saat ini,” terangnya.

Gus Mifta menekankan, pemimpin NU ke depannya harus melek teknologi, adaptif terhadap perubahan zaman, serta bisa masuk ke lingkaran milenial. “Maka saya harapkan, sipapun pemimpin yan terpilih harus lebih fokus dan memperhatikan kelompok milenial,” tambahnya.

Pewarta: Anugrah Budiamin

MALANG KOTA – Universitas Islam Malang (Unisma) tiada henti berkontribusi baik dalam sumbangsih pemikiran terhadap kelangsungan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) yang akan datang.

Hal ini dikatakan oleh Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi dalam sambutannya di acara webinar kebangsaan yang bertajuk “Sosok Ideal Pemimpin NU Menjelang Satu Abad” di ruang sidang gedung pusat lantai-2, pada Sabtu (16/10). “Kepemimpinan NU dengan kriteria yang ideal, yang bisa mengayomi, yang bisa menjadi lokomotif perubahan dari berbagai macam bidang,” ungkap Maskuri. Dalam acara yang disiarkan secara langsung di channel YouTube Humas Unisma Official Prof Marsuki juga berharap dengan diselenggarakannya forum intelektual ini, diharapkan dapat melahirkan suatu formulasi sekaligus profil kepemimpinan yang ideal untuk NU menjelang satu abad. “Kita ingin bawa NU semakin memiliki kharisma yang lebih tinggi, ibaratkan padi semakin tua semakin menunduk, tapi sesungguhnya memiliki kualitas yang bagus,” imbuhnya.

Kegiatan webinar yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ini menghadirkan narasumber di antaranya, KH H Miftah Maulana Habiburrahman, Prof Dr KH H Nadirsyah Hosen dari Monash University, Prof Lik Arifin Mansyur Mansurnoor BG SPS dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Pastor Romo Antonius Benny Susetyo.

Sementara itu, di kesempatan yang sama, KH H Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Mifta memaparkan, bahwa Ketum PB NU harus memiliki tiga hal. Di antaranya harus menguasai aspek manegerial dan leadeship, memiliki jejaring yang luas yang tidak hanya dibidang agama tapi juga dibidang kebangsaan, perekonemian, budaya, sosial dan politik. “Terakhir sosok pemimpin NU harus memiliki visi dan misi yang relevan terhadap permasalahan umat saat ini,” terangnya.

Gus Mifta menekankan, pemimpin NU ke depannya harus melek teknologi, adaptif terhadap perubahan zaman, serta bisa masuk ke lingkaran milenial. “Maka saya harapkan, sipapun pemimpin yan terpilih harus lebih fokus dan memperhatikan kelompok milenial,” tambahnya.

Pewarta: Anugrah Budiamin

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/