alexametrics
30C
Malang
Sunday, 7 March 2021

Sekolah Daring Berlanjut, Pasar Buku Wilis Kota Malang Kian Sepi

MALANG KOTA – Biasanya, pedagang Pasar Buku Wilis, Kota Malang meraup untung lumayan memasuki tahun ajaran baru. Namun sepertinya tidak untuk tahun ini. Apalagi tahun ajaran 2020/2021, sekolah daring (dalam jaringan) masih akan berlanjut membuat dagangan mereka sepi.

”Saya hanya kulak 5 pak buku saja kurang laku tahun ini. Padahal tahun kemarin buku-buku tematik banyak sekali dicari oleh anak-anak SD,” ujar Bita, salah seorang pedagang di Pasar Buku Wilis. Dia mengakui, masih ada saja warga yang datang untuk membeli buku. Namun jumlah buku yang laku tak sebarapa.

“Yang membuat penjualan banyak penurunan adalah buku untuk mahasiswa. Kan mahasiswa daring juga. Sepertinya mereka cari buku-buku lewat online. Jadi saingan kami bertambah, sesama pedagang di sini dan pedagang online,” tutur wanita yang sudah berjualan di Pasar Buku Wilis sejak tahun 1997 itu.

Laku atau tidak laku, para pedagang di Pasar Buku Wilis tetap harus membayar retribusi tiap harinya. Belum lagi di musim penghujan seperti saat ini, atap-atap kios banyak yang bocor, sehingga banyak buku yang basah hingga tak layak jual.

“Ya untungnya kami itu tak perlu takut dagangan kami cepat basi seperti penjual makanan. Sebab buku-buku itu masih bisa disimpan. Tapi tetap saja ada buku yang istilahnya “basi”, yaitu buku keluaran tahun 2000-an. Buku-buku itu dikatakan basi karena sudah tidak laku dan tidak ada yang cari,”pungkasnya.

Pewarta: Errica Vannie

MALANG KOTA – Biasanya, pedagang Pasar Buku Wilis, Kota Malang meraup untung lumayan memasuki tahun ajaran baru. Namun sepertinya tidak untuk tahun ini. Apalagi tahun ajaran 2020/2021, sekolah daring (dalam jaringan) masih akan berlanjut membuat dagangan mereka sepi.

”Saya hanya kulak 5 pak buku saja kurang laku tahun ini. Padahal tahun kemarin buku-buku tematik banyak sekali dicari oleh anak-anak SD,” ujar Bita, salah seorang pedagang di Pasar Buku Wilis. Dia mengakui, masih ada saja warga yang datang untuk membeli buku. Namun jumlah buku yang laku tak sebarapa.

“Yang membuat penjualan banyak penurunan adalah buku untuk mahasiswa. Kan mahasiswa daring juga. Sepertinya mereka cari buku-buku lewat online. Jadi saingan kami bertambah, sesama pedagang di sini dan pedagang online,” tutur wanita yang sudah berjualan di Pasar Buku Wilis sejak tahun 1997 itu.

Laku atau tidak laku, para pedagang di Pasar Buku Wilis tetap harus membayar retribusi tiap harinya. Belum lagi di musim penghujan seperti saat ini, atap-atap kios banyak yang bocor, sehingga banyak buku yang basah hingga tak layak jual.

“Ya untungnya kami itu tak perlu takut dagangan kami cepat basi seperti penjual makanan. Sebab buku-buku itu masih bisa disimpan. Tapi tetap saja ada buku yang istilahnya “basi”, yaitu buku keluaran tahun 2000-an. Buku-buku itu dikatakan basi karena sudah tidak laku dan tidak ada yang cari,”pungkasnya.

Pewarta: Errica Vannie

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru