alexametrics
21.4 C
Malang
Saturday, 28 May 2022

Utak-atik Kans Rektor UB. Candra-Imam di Atas Angin, Unti Ludigdo Kuda Hitam

M A L ANG KOTA– Siapa sosok yang bakal menjadi Rektor Universitas Brawijaya periode 2022-2027 mendatang? Jawaban pastinya terungkap pada 26 Juni mendatang. Saat itu, rektor terpilih bakal dilantik.

Namun berdasar sejumlah prediksi, dari enam bakal calon yang sudah ditetapkan panitia pemilihan rektor (pilrek) UB, hanya dua yang berpeluang besar terpilih. Yakni mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, Prof Candra Fajri Ananda SE MSc dan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Prof Dr Ir Imam Santoso MP.

Ada sejumlah alasan yang membuat kedua guru besar tersebut berada di “atas angin” dalam pilrek kali ini. Keduanya bisa mengungguli peluang empat bakal calon rektor UB yang lain. Yakni Mantan Direktur Pasca Sarjana UB Prof Dr Marjono M Phil, Prof Dr Unti Ludigdo SE MSi Ak yang menjabat Dekan Fakultas Vokasi. Kemudian Prof Widodo, SSi MSi PhD MedSc yang kini tercatat sebagai Dekan Fakultas MIPA dan Drs Andy Fefta Wijaya MDA Ph D, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi.

Lantas apa alasannya Candra dan Imam Santoso pantas dijagokan? Salah satu sumber kuat Jawa Pos Radar Malang di internal UB menyebut karena soal track record atau rekam jejak. Keduanya punya prestasi yang memang patut jika menjadi orang nomor 1 di UB. Setidaknya ada tiga keunggulan yang dimiliki masing-masing kandidat, sebagai modal besar untuk memimpin UB selama lima tahun ke depan.

Keunggulan pertama, baik Candra dan Imam Santoso sama-sama pernah menjabat sebagai Ketua Forum Dekan Universitas Brawijaya. Prof Candra pada periode 2013-2017, sementara Prof Imam menjabat sebagai ketua pada 2021-sekarang. Dengan pengalaman mengkoordinasi dekan dari seluruh fakultas di UB, ini menjadi salah satu modal penting yang dimiliki keduanya. Karena pada saat menjadi rektor, nantinya juga dibutuhkan sinergitas yang baik antara pihak rekorat dan seluruh fakultas yang ada.

Dengan beralihnya status UB menjadi Perguruan Tinggi NegeriBerbadan Hukum (PTN-BH), membuat saat ini pemilihan rektor UB dilakukan oleh Majelis Wali Amanah (MWA). Dalam keanggotaan MWA tersebut, ada sejumlah tokoh nasional. Di antaranya Mendikbudristek Nadiem Makariem, Menko Polhukam Machfud MD, Menko PMK Muhadjir Effendy dan Sekjen Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mohammad Zainal Fatah.

Bercokolnya mereka di sana, tentu membuat standar untuk menjadi Rektor UB akan semakin tinggi. Yakni bakal calon rektor minimal harus memiliki kiprah di tingkat nasional untuk memikat hati tokoh nasional tersebut. Dalam tingkat nasional, keduanya sama-sama memiliki track record cukup baik.

Prof Candra pernah menjadi aggota dalam pembahasan RUU Bank Indonesia dan menjadi Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sementara Imam Santoso menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Seluruh Indonesia dan Sekretaris Penasihat Ikatan Pesantren Indonesia. Selain track record, ada hal lainnya yang semakin menguatkan dua kandidat tersebut menjadi calon terkuat.

Prof Candra mendapat dukungan dari mantan Rektor Universitas Brawijaya yakni Prof Moh Bisri. Tentunya pengalaman Bisri pernah memenangkan kontestasi rektor, dan kemungkinan masih ada pengaruh di internal kampus menjadi keuntungan bagi Candra. ”Saya tidak punya suara di senat maupun MWA. Tetapi saya memberikan saran kepada Prof Candra tentang bagaimana mengelola UB, berdasar pengalaman saya menjadi rektor dulu,” kata Prof Bisri ketika dikofirmasi.

Sementara itu, Prof Imam dengan usia yang baru menginjak 54 tahun, jika terpilih pada tahun ini, nanti pada periode selanjutnya bisa melanjutkan dua periode. Pasalnya, pada tahun 2027 mendatang, usianya masih 59 tahun. Sedang batas usia mencalonkan rektor UB yakni 60 tahun. Kepemimpinan dua periode itu seperti yang diidamkan oleh Pimpinan Senat Universitas Brawijaya pada pembukaan pendaftaran Rektor UB beberapa waktu lalu.

Terkait latar belakang organisasi, nampaknya Imam Santoso lebih kuat dibanding Candra. Karena Imam merupakan kader Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Sementara Prof Candra merupakan kader independen. Bukan lahir dari organisasi kemahasiswaan tertentu. Sebagai informasi, Rektor UB saat ini, yakni Prof Nuhfil Hanani juga merupakan elemen dari KAHMI. Beredar kabar, Prof Imam ini memang sudah dari awal disiapkan sebagai suksesor Prof Nuhfil dengan masih membawa bendera organisasi KAHMI.

Berdasarkan keterangan salah satu guru besar di UB yang tak mau disebutkan namanya, Prof Imam memang dijagokan KAHMI untuk memenangi kontestasi Pilrek UB tahun ini. ”Untuk suksesi rektor periode ini, KAHMI merekomendasi empat nama. Tapi nanti yang dijagokan untuk menang adalah Prof Imam,” bebernya.

Tiga nama lainnya yang merupakan anggota KAHMI dan juga sudah diresmikan menjadi bakal calon rektor yaitu Prof Unti Ludigdo, Prof Widodo dan Andy Fefta Wijaya. Dari tiga nama ini, nama Unti Ludigdo karena kesenioran disiapkan menjadi “kuda hitam”. Bisa saja dia yang akan menang. (adk/dre/abm)

M A L ANG KOTA– Siapa sosok yang bakal menjadi Rektor Universitas Brawijaya periode 2022-2027 mendatang? Jawaban pastinya terungkap pada 26 Juni mendatang. Saat itu, rektor terpilih bakal dilantik.

Namun berdasar sejumlah prediksi, dari enam bakal calon yang sudah ditetapkan panitia pemilihan rektor (pilrek) UB, hanya dua yang berpeluang besar terpilih. Yakni mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, Prof Candra Fajri Ananda SE MSc dan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Prof Dr Ir Imam Santoso MP.

Ada sejumlah alasan yang membuat kedua guru besar tersebut berada di “atas angin” dalam pilrek kali ini. Keduanya bisa mengungguli peluang empat bakal calon rektor UB yang lain. Yakni Mantan Direktur Pasca Sarjana UB Prof Dr Marjono M Phil, Prof Dr Unti Ludigdo SE MSi Ak yang menjabat Dekan Fakultas Vokasi. Kemudian Prof Widodo, SSi MSi PhD MedSc yang kini tercatat sebagai Dekan Fakultas MIPA dan Drs Andy Fefta Wijaya MDA Ph D, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi.

Lantas apa alasannya Candra dan Imam Santoso pantas dijagokan? Salah satu sumber kuat Jawa Pos Radar Malang di internal UB menyebut karena soal track record atau rekam jejak. Keduanya punya prestasi yang memang patut jika menjadi orang nomor 1 di UB. Setidaknya ada tiga keunggulan yang dimiliki masing-masing kandidat, sebagai modal besar untuk memimpin UB selama lima tahun ke depan.

Keunggulan pertama, baik Candra dan Imam Santoso sama-sama pernah menjabat sebagai Ketua Forum Dekan Universitas Brawijaya. Prof Candra pada periode 2013-2017, sementara Prof Imam menjabat sebagai ketua pada 2021-sekarang. Dengan pengalaman mengkoordinasi dekan dari seluruh fakultas di UB, ini menjadi salah satu modal penting yang dimiliki keduanya. Karena pada saat menjadi rektor, nantinya juga dibutuhkan sinergitas yang baik antara pihak rekorat dan seluruh fakultas yang ada.

Dengan beralihnya status UB menjadi Perguruan Tinggi NegeriBerbadan Hukum (PTN-BH), membuat saat ini pemilihan rektor UB dilakukan oleh Majelis Wali Amanah (MWA). Dalam keanggotaan MWA tersebut, ada sejumlah tokoh nasional. Di antaranya Mendikbudristek Nadiem Makariem, Menko Polhukam Machfud MD, Menko PMK Muhadjir Effendy dan Sekjen Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mohammad Zainal Fatah.

Bercokolnya mereka di sana, tentu membuat standar untuk menjadi Rektor UB akan semakin tinggi. Yakni bakal calon rektor minimal harus memiliki kiprah di tingkat nasional untuk memikat hati tokoh nasional tersebut. Dalam tingkat nasional, keduanya sama-sama memiliki track record cukup baik.

Prof Candra pernah menjadi aggota dalam pembahasan RUU Bank Indonesia dan menjadi Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sementara Imam Santoso menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Seluruh Indonesia dan Sekretaris Penasihat Ikatan Pesantren Indonesia. Selain track record, ada hal lainnya yang semakin menguatkan dua kandidat tersebut menjadi calon terkuat.

Prof Candra mendapat dukungan dari mantan Rektor Universitas Brawijaya yakni Prof Moh Bisri. Tentunya pengalaman Bisri pernah memenangkan kontestasi rektor, dan kemungkinan masih ada pengaruh di internal kampus menjadi keuntungan bagi Candra. ”Saya tidak punya suara di senat maupun MWA. Tetapi saya memberikan saran kepada Prof Candra tentang bagaimana mengelola UB, berdasar pengalaman saya menjadi rektor dulu,” kata Prof Bisri ketika dikofirmasi.

Sementara itu, Prof Imam dengan usia yang baru menginjak 54 tahun, jika terpilih pada tahun ini, nanti pada periode selanjutnya bisa melanjutkan dua periode. Pasalnya, pada tahun 2027 mendatang, usianya masih 59 tahun. Sedang batas usia mencalonkan rektor UB yakni 60 tahun. Kepemimpinan dua periode itu seperti yang diidamkan oleh Pimpinan Senat Universitas Brawijaya pada pembukaan pendaftaran Rektor UB beberapa waktu lalu.

Terkait latar belakang organisasi, nampaknya Imam Santoso lebih kuat dibanding Candra. Karena Imam merupakan kader Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Sementara Prof Candra merupakan kader independen. Bukan lahir dari organisasi kemahasiswaan tertentu. Sebagai informasi, Rektor UB saat ini, yakni Prof Nuhfil Hanani juga merupakan elemen dari KAHMI. Beredar kabar, Prof Imam ini memang sudah dari awal disiapkan sebagai suksesor Prof Nuhfil dengan masih membawa bendera organisasi KAHMI.

Berdasarkan keterangan salah satu guru besar di UB yang tak mau disebutkan namanya, Prof Imam memang dijagokan KAHMI untuk memenangi kontestasi Pilrek UB tahun ini. ”Untuk suksesi rektor periode ini, KAHMI merekomendasi empat nama. Tapi nanti yang dijagokan untuk menang adalah Prof Imam,” bebernya.

Tiga nama lainnya yang merupakan anggota KAHMI dan juga sudah diresmikan menjadi bakal calon rektor yaitu Prof Unti Ludigdo, Prof Widodo dan Andy Fefta Wijaya. Dari tiga nama ini, nama Unti Ludigdo karena kesenioran disiapkan menjadi “kuda hitam”. Bisa saja dia yang akan menang. (adk/dre/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/