alexametrics
28.1 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Dua Siswa SMAN 3 Kota Malang Tampil di Ajang ISEF 2022

MALANG KOTA – Dua siswa SMAN 3 Malang ikut ambil bagian dalam tim Indonesia yang maju ke ajang ISEF (International Science and Engineering Fair) tahun 2022. Menyusul prestasi yang diraih keduanya di ajang OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) tahun 2021 lalu. Dua siswa itu adalah Zaki Zaidan Akbar dan Atya Danistri Masantika.

Guru Pembimbing KIR (Karya Tulis Ilmiah) SMAN 3 Malang Dwi Sulistiarini mengatakan, OPSI termasuk salah satu ajang yang cukup bergengsi karena diikuti ribuan peserta dari seluruh sekolah di Indonesia. “Tentu saja dibedakan untuk setiap jenjangnya,” ujarnya. Dwi, sapaan akrabnya menyebut, saat itu naskah penelitian kedua siswanya yang menangkat judul Recover-V (Remote Controlled Reefs Observer Vehicle) Rancag Bangun Torpedo-Shape Rov Sebagai Upaya Dalam Melestarikan Terumbu Karang Di Indonesia itu beradu dengan 1910 naskah lainnya. Untuk itu, capaian mereka berdua baginya sangat membanggakan.

Zaki Zaidan Akbar mengaku penelitian yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi perwakilan Indonesia ke ajang internasional itu bukan naskah penelitian baru. Sebab, Zaki, sapaan karibnya, telah memulai penelitian itu sejak kelas X. Saat itu, dirinya juga mengirimkan naskah penelitian itu ke ajang yang sama dua tahun lalu. “Tapi saat itu penelitian saya tidak lolos,” ujarnya. Meski begitu Zaki tak patah arang. Dirinya terus menyempurnakan penelitiannya itu hingga akhirnya bisa meraih medali emas tahun lalu itu.

Hal yang sama dilakukan Atya Danistri Masantika. Gadis yang akrab disapa Atya itu mengaku persiapan dalam penelitian ini cukup lama dan menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Dirinya mengaku sempat kewalahan dalam membagi waktu. Sebab, selain fokus mengerjakan penelitian yang mengharuskan dirinya membuat perancangan, alat, simulasi, uji lapangan hingga pembuatan laporan, dirinya tetap mempunyai kewajiban yang sama untuk belajar dan menyelesaiakn tugas-tugas yang seabrek di sekolah.

Namun, hal itu bisa ia atasi. Lagi-lagi kendala tak berhenti di situ saja. “Kendala selanjutnya adalah dana penelitian yang dibebankan secara mandiri. Padahal alat dan komponen rancang bangun alat sangat mahal. Ditambah tidak semua alat bisa dibeli di Indonesia,” ungkapnya. Namun, kini Atya bisa bernapas lega. Sebab perjuangannya itu berbuah manis. Pada 4- 6 Mei lalu dirinya berhasil mewakili Indonesia dalam ajang ISEF 2022 yang di gelar di Atlanta, Amerika Serikat. Meski belum beruntung keluar sebagai pemenang, pengalaman itu akan menjadi pengalaman berharga bagi Zaki dan Atya. (dre/nay)

MALANG KOTA – Dua siswa SMAN 3 Malang ikut ambil bagian dalam tim Indonesia yang maju ke ajang ISEF (International Science and Engineering Fair) tahun 2022. Menyusul prestasi yang diraih keduanya di ajang OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) tahun 2021 lalu. Dua siswa itu adalah Zaki Zaidan Akbar dan Atya Danistri Masantika.

Guru Pembimbing KIR (Karya Tulis Ilmiah) SMAN 3 Malang Dwi Sulistiarini mengatakan, OPSI termasuk salah satu ajang yang cukup bergengsi karena diikuti ribuan peserta dari seluruh sekolah di Indonesia. “Tentu saja dibedakan untuk setiap jenjangnya,” ujarnya. Dwi, sapaan akrabnya menyebut, saat itu naskah penelitian kedua siswanya yang menangkat judul Recover-V (Remote Controlled Reefs Observer Vehicle) Rancag Bangun Torpedo-Shape Rov Sebagai Upaya Dalam Melestarikan Terumbu Karang Di Indonesia itu beradu dengan 1910 naskah lainnya. Untuk itu, capaian mereka berdua baginya sangat membanggakan.

Zaki Zaidan Akbar mengaku penelitian yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi perwakilan Indonesia ke ajang internasional itu bukan naskah penelitian baru. Sebab, Zaki, sapaan karibnya, telah memulai penelitian itu sejak kelas X. Saat itu, dirinya juga mengirimkan naskah penelitian itu ke ajang yang sama dua tahun lalu. “Tapi saat itu penelitian saya tidak lolos,” ujarnya. Meski begitu Zaki tak patah arang. Dirinya terus menyempurnakan penelitiannya itu hingga akhirnya bisa meraih medali emas tahun lalu itu.

Hal yang sama dilakukan Atya Danistri Masantika. Gadis yang akrab disapa Atya itu mengaku persiapan dalam penelitian ini cukup lama dan menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Dirinya mengaku sempat kewalahan dalam membagi waktu. Sebab, selain fokus mengerjakan penelitian yang mengharuskan dirinya membuat perancangan, alat, simulasi, uji lapangan hingga pembuatan laporan, dirinya tetap mempunyai kewajiban yang sama untuk belajar dan menyelesaiakn tugas-tugas yang seabrek di sekolah.

Namun, hal itu bisa ia atasi. Lagi-lagi kendala tak berhenti di situ saja. “Kendala selanjutnya adalah dana penelitian yang dibebankan secara mandiri. Padahal alat dan komponen rancang bangun alat sangat mahal. Ditambah tidak semua alat bisa dibeli di Indonesia,” ungkapnya. Namun, kini Atya bisa bernapas lega. Sebab perjuangannya itu berbuah manis. Pada 4- 6 Mei lalu dirinya berhasil mewakili Indonesia dalam ajang ISEF 2022 yang di gelar di Atlanta, Amerika Serikat. Meski belum beruntung keluar sebagai pemenang, pengalaman itu akan menjadi pengalaman berharga bagi Zaki dan Atya. (dre/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/