alexametrics
24.3 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Hardiknas,Siswa di Komplek 248 Gelar Lomba Dolanan Tradisional dan Lagu Daerah

MALANG KOTA – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan menyambut hari kebangkitan Nasional (Harkitnas), TK Mardi Rahayu, SD Kr. Brawijaya 3 dan SMP 4 YPK Jatim menggelar berbagai perlombaan permainan tradisional.

Di antaranya lomba permainan engklek, egrang bambu, egrang tempurung kelapa hingga lomba bakiak. Lomba diikuti puluhan siswa tingkat KB – TK dan SD negeri maupun swasta di Kota Malang. Lomba tersebut sengaja digelar agar para siswa mengenal dan menyukai permainan tradisional di tengah era digital sekarang ini.

Kepada Radar Malang,  Ketua panitia 2 Maya Fridayanti SPd mengatakan ajang tersebut diharapkan dapat mengalihkan perhatian anak-anak agar tak hanya bermain game pada gadget. “Biar anak-anak kenal dengan permainan tradisional. Ini juga baik untuk motorik anak-anak,” ungkapnya.

Ditambahkan oleh Iis Yusni Ulanwati, SE SPd selaku koordinator lomba Congklak/Dakon dan juga Kepala TK Mardi Rahayu menjelaskan permainan ini mengandung filosofi luas dan bermanfaat bagi pendidikan kharakter anak. “Pelajaran dari permainan  ini adalah setiap hari yang kita jalani, akan berpengaruh pada hari-hari kita selanjutnya dan juga hari-hari orang lain,” katanya.

Kemudian Dra Endang Hari Mangesti selaku koordinator lomba menyanyi lagu daerah dan lomba Engklek menjelaskan makna  lagu-lagu daerah tersebut. Misal  lagu gundul gundul pancul memiliki makna suatu nasehat bagi para pemimpin dalam mengemban amanah yang diberikan oleh rakyat. “Bahwa tidak boleh sembrono dan seenaknya sendiri dalam menjalankan amanahnya. Pemimpin yang sembrono akan membuat seluruh tatanan dan aturan masyarakat rusak dan menyebabkan kondisi negara menjadi tak terkendali,” jelas wanita yang juga Kepala SD Kr.Brawijaya 3.

Sementara itu Koordinator Lomba Permainan tradisional Engrang dan bakiak Dra Yani Hestiwiratih selaku Kepala SMP 4 YPK Jatim Malang. Egrang adalah salah satu permainan tradisional yang memiliki filosofi tertentu mengenai keseimbangan. “Anak-anak yang ikut lomba  tidak hanya mengembangkan budaya tetapi juga mampu menyeimbangkan kehidupan ke depan. Belajar egrang berarti belajar tentang keseimbangan. Bila dibawa ke dalam pemaknaan yang lebih jauh, maka egrang dapat mengingatkan kita tentang keseimbangan dunia-akhirat; keseimbangan hubungan kita pada Allah, sesama makhluk dan lingkungan; dan keseimbangan peran kita di keluarga dan masyarakat.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM) Prof Dr Sumarni MPd yang ikut hadir dalam acara tersebut mengaku senang. “Karena melihat anak-anak bermain permainan tradisional adalah pemandangan yang jarang,” ujarnya. Bagi Sumarmi, setiap permainan tradisional memiliki filosofi serta pengajaran yang berharga, khususnya di dunia pendidikan. Misalnya permainan egrang. “Bermain egrang membutuhkan keseimbangan. Sama seperti pendidikan, dalam sekolah kita tak hanya belajar soal keilmuan saja, tapi juga kita harus memiliki pendekatan yang baik dengan Tuhan serta dengan sesama kita,” tuturnya.

Tak hanya lomba permainan tradisional, ada juga pameran karya seni rupa lukisan, digital art, seni pembuatan patung, serta mengenal topeng-topeng khas Malang. Karya yang dipamerkan hasil kreasi siswa kelas 9 selama satu semester pengerjaan. (mit/nay)

MALANG KOTA – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan menyambut hari kebangkitan Nasional (Harkitnas), TK Mardi Rahayu, SD Kr. Brawijaya 3 dan SMP 4 YPK Jatim menggelar berbagai perlombaan permainan tradisional.

Di antaranya lomba permainan engklek, egrang bambu, egrang tempurung kelapa hingga lomba bakiak. Lomba diikuti puluhan siswa tingkat KB – TK dan SD negeri maupun swasta di Kota Malang. Lomba tersebut sengaja digelar agar para siswa mengenal dan menyukai permainan tradisional di tengah era digital sekarang ini.

Kepada Radar Malang,  Ketua panitia 2 Maya Fridayanti SPd mengatakan ajang tersebut diharapkan dapat mengalihkan perhatian anak-anak agar tak hanya bermain game pada gadget. “Biar anak-anak kenal dengan permainan tradisional. Ini juga baik untuk motorik anak-anak,” ungkapnya.

Ditambahkan oleh Iis Yusni Ulanwati, SE SPd selaku koordinator lomba Congklak/Dakon dan juga Kepala TK Mardi Rahayu menjelaskan permainan ini mengandung filosofi luas dan bermanfaat bagi pendidikan kharakter anak. “Pelajaran dari permainan  ini adalah setiap hari yang kita jalani, akan berpengaruh pada hari-hari kita selanjutnya dan juga hari-hari orang lain,” katanya.

Kemudian Dra Endang Hari Mangesti selaku koordinator lomba menyanyi lagu daerah dan lomba Engklek menjelaskan makna  lagu-lagu daerah tersebut. Misal  lagu gundul gundul pancul memiliki makna suatu nasehat bagi para pemimpin dalam mengemban amanah yang diberikan oleh rakyat. “Bahwa tidak boleh sembrono dan seenaknya sendiri dalam menjalankan amanahnya. Pemimpin yang sembrono akan membuat seluruh tatanan dan aturan masyarakat rusak dan menyebabkan kondisi negara menjadi tak terkendali,” jelas wanita yang juga Kepala SD Kr.Brawijaya 3.

Sementara itu Koordinator Lomba Permainan tradisional Engrang dan bakiak Dra Yani Hestiwiratih selaku Kepala SMP 4 YPK Jatim Malang. Egrang adalah salah satu permainan tradisional yang memiliki filosofi tertentu mengenai keseimbangan. “Anak-anak yang ikut lomba  tidak hanya mengembangkan budaya tetapi juga mampu menyeimbangkan kehidupan ke depan. Belajar egrang berarti belajar tentang keseimbangan. Bila dibawa ke dalam pemaknaan yang lebih jauh, maka egrang dapat mengingatkan kita tentang keseimbangan dunia-akhirat; keseimbangan hubungan kita pada Allah, sesama makhluk dan lingkungan; dan keseimbangan peran kita di keluarga dan masyarakat.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM) Prof Dr Sumarni MPd yang ikut hadir dalam acara tersebut mengaku senang. “Karena melihat anak-anak bermain permainan tradisional adalah pemandangan yang jarang,” ujarnya. Bagi Sumarmi, setiap permainan tradisional memiliki filosofi serta pengajaran yang berharga, khususnya di dunia pendidikan. Misalnya permainan egrang. “Bermain egrang membutuhkan keseimbangan. Sama seperti pendidikan, dalam sekolah kita tak hanya belajar soal keilmuan saja, tapi juga kita harus memiliki pendekatan yang baik dengan Tuhan serta dengan sesama kita,” tuturnya.

Tak hanya lomba permainan tradisional, ada juga pameran karya seni rupa lukisan, digital art, seni pembuatan patung, serta mengenal topeng-topeng khas Malang. Karya yang dipamerkan hasil kreasi siswa kelas 9 selama satu semester pengerjaan. (mit/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/