alexametrics
22.3 C
Malang
Sunday, 2 October 2022

Fakultas Hukum Widyagama Bekali Maba Kejujuran Jadi Seorang Advokat

MALANG KOTA – Sebelum mendalami lebih jauh tentang dunia hukum, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widyagama (UWG) dibekali dengan ilmu kemanusiaan. Sebab pepatah mengatakan bahwa hukum itu untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Artinya bahwa hukum bertugas melayani masyarakat bukan sebaliknya. Kualitas hukum ditentukan dari kemampuan penegak hukum untuk mengabdi kepada kesejahteraan manusia.

Hal itu sejalan dengan tujuan yang dilakukan oleh Dekan Fakultas Hukum UWG Dr Purnawan D Negara, SH MH bahwa mahasiswa harus dibekali dengan rasa kemanusiaan dulu sebelum terjun menjadi penegak hukum. Salah satunya melalui pemaparan ilmiah tentang “Urgensi Moralitas dan Etika Profesi dalam Mewujudkan Penegakan Hukum yang Berkeadilan”, di Auditorium kampus 2 lantai 4, Rabu (14/9/2022).

KEJUJURAN: Dr Solehoddin SH MH sedang melakukan orasi ilmiah tentang urgensi moralitas dan etika profesi kepada puluhan maba Fakultas Hukum UWG.

“Kita berikan penanaman kepada maba sebuah atmosfir akademik. Maba tak hanya jadi advokad atau penegak hukum lebih utama yaitu dididik dulu untuk menjadi manusia sehingga sebelum menjadi advokat dan penegak hukum mereka sudah memahami kemanusiaannya. Ini adalah langkah awal memberikan spirit itu,”kata dia.

Sebanyak 80 maba Fakultas Hukum UWG diberikan spirit menjadi seorang penegak hukum yang berintegritas. Sebab hukum yang baik adalah perilaku yang baik. Jadi mahasiswa haru menanamkan rasa kejujuran yang tinggi ketika menjadi seorang advokad atau penegak hukum.

“Paling penting adalah kejujuran. Sebagaimana jika seseorang kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat diasah, namun tidak jujur sulit untuk diperbaiki. Maka sejak awal kami tanamkan kejujuran,”ucapnya.

Agar harapan kedepannya untuk menjadikan lulusan Fakultas Hukum UWG yang berintegritas dapat tercapai. Menurutnya pekerjaan sebagai seorang advokat merupakan profesi yang mulia, sebab seorang advokat dapat bekerja dengan ilmunya sendiri, dan dapat membantu ketidakadilan di masyarakat.

Sementara itu, dalam orasi ilmiah Dr Solehoddin SH MH selaku praktisi sekaligus dosen dari UWG menegaskan bahwa memang hukum itu untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Maka dengan adanya pengenalan etika profesi, diharapkan mahasiswa menjalankan studinya di UWG mematuhi etika profesi sebagai mahasiswa.

” Mahasiswa punya etika profesi sebagai mahasiswa, dosen pun juga punya etika profesinya sendiri. Sama halnya dengan Advokat dan penegak hukum. Maka dari hal yang dasar harus ditanamkan sejak di bangku kuliah secara teori maupun terapan,”ujar dia.

Sehingga, dari upaya tersebut dia berharap terciptanya calon advokat yang punya intelektualitas yang tinggi. Sehingga dapat menjadi agen perubahan di atas kondisi hukum yang menurut Solehoddin kacau.

“Mahasiswa dinilai sebagai entitas terpelajar, berintelektualitas dan punya kepribadian mulia. Mereka mampu menjalankan sistem dan tata kelola hukum yang profesional,”pungkas dosen UWG tersebut. (rof)

MALANG KOTA – Sebelum mendalami lebih jauh tentang dunia hukum, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Widyagama (UWG) dibekali dengan ilmu kemanusiaan. Sebab pepatah mengatakan bahwa hukum itu untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Artinya bahwa hukum bertugas melayani masyarakat bukan sebaliknya. Kualitas hukum ditentukan dari kemampuan penegak hukum untuk mengabdi kepada kesejahteraan manusia.

Hal itu sejalan dengan tujuan yang dilakukan oleh Dekan Fakultas Hukum UWG Dr Purnawan D Negara, SH MH bahwa mahasiswa harus dibekali dengan rasa kemanusiaan dulu sebelum terjun menjadi penegak hukum. Salah satunya melalui pemaparan ilmiah tentang “Urgensi Moralitas dan Etika Profesi dalam Mewujudkan Penegakan Hukum yang Berkeadilan”, di Auditorium kampus 2 lantai 4, Rabu (14/9/2022).

KEJUJURAN: Dr Solehoddin SH MH sedang melakukan orasi ilmiah tentang urgensi moralitas dan etika profesi kepada puluhan maba Fakultas Hukum UWG.

“Kita berikan penanaman kepada maba sebuah atmosfir akademik. Maba tak hanya jadi advokad atau penegak hukum lebih utama yaitu dididik dulu untuk menjadi manusia sehingga sebelum menjadi advokat dan penegak hukum mereka sudah memahami kemanusiaannya. Ini adalah langkah awal memberikan spirit itu,”kata dia.

Sebanyak 80 maba Fakultas Hukum UWG diberikan spirit menjadi seorang penegak hukum yang berintegritas. Sebab hukum yang baik adalah perilaku yang baik. Jadi mahasiswa haru menanamkan rasa kejujuran yang tinggi ketika menjadi seorang advokad atau penegak hukum.

“Paling penting adalah kejujuran. Sebagaimana jika seseorang kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat diasah, namun tidak jujur sulit untuk diperbaiki. Maka sejak awal kami tanamkan kejujuran,”ucapnya.

Agar harapan kedepannya untuk menjadikan lulusan Fakultas Hukum UWG yang berintegritas dapat tercapai. Menurutnya pekerjaan sebagai seorang advokat merupakan profesi yang mulia, sebab seorang advokat dapat bekerja dengan ilmunya sendiri, dan dapat membantu ketidakadilan di masyarakat.

Sementara itu, dalam orasi ilmiah Dr Solehoddin SH MH selaku praktisi sekaligus dosen dari UWG menegaskan bahwa memang hukum itu untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Maka dengan adanya pengenalan etika profesi, diharapkan mahasiswa menjalankan studinya di UWG mematuhi etika profesi sebagai mahasiswa.

” Mahasiswa punya etika profesi sebagai mahasiswa, dosen pun juga punya etika profesinya sendiri. Sama halnya dengan Advokat dan penegak hukum. Maka dari hal yang dasar harus ditanamkan sejak di bangku kuliah secara teori maupun terapan,”ujar dia.

Sehingga, dari upaya tersebut dia berharap terciptanya calon advokat yang punya intelektualitas yang tinggi. Sehingga dapat menjadi agen perubahan di atas kondisi hukum yang menurut Solehoddin kacau.

“Mahasiswa dinilai sebagai entitas terpelajar, berintelektualitas dan punya kepribadian mulia. Mereka mampu menjalankan sistem dan tata kelola hukum yang profesional,”pungkas dosen UWG tersebut. (rof)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/