alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Mangkir, 27.138 Peserta UTBK Perguruan Tinggi Dinyatakan Gugur

RADAR MALANG – Jumlah peserta UTBK (ujian tulis berbasis komputer) perguruan tinggi yang dinyatakan gugur sebanyak 27.138 orang. Peserta UTBK gelombang pertama tersebut dinyatakan tak lolos karena mangkir alias tidak hadir pada ujian yang diadakan pada 12–18 April.

Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Muhammad Nasih menjelaskan, pihaknya mengaku tidak mengetahui penyebab mangkirnya ribuan peserta UTBK itu. ”Kami tidak tahu entah tidak hadir karena Covid-19 atau apa. Intinya mereka tidak hadir dan dinyatakan gugur karena tidak mengikuti ujian,” ujar Nasih Senin (19/4).

Nasih yang juga Rektor Universitas Airlangga Surabaya itu memaparkan, secara keseluruhan, terdapat total 454.178 peserta yang terdaftar dalam UTBK gelombang pertama. Dari 27.138 yang tidak hadir, artinya terdapat 404.308 peserta yang hadir.

”Tingkat kehadiran peserta 94,28 persen. Angka ini lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 90 persen. Tahun 2019 cuma 80 persen,” urai Muhammad Nasih.

Dia menjelaskan, pihaknya tidak mencari tahu penyebab ketidakhadiran peserta. Meskipun bila peserta tidak bisa hadir karena Covid-19, peserta tetap dianggap gugur. Sebab, sudah menjadi kebijakan dalam LTMPT bila tidak hadir dan tidak mengikuti ujian, dianggap gugur.

Secara keseluruhan, lanjut Nasih, sudah 65 persen peserta UTBK yang mengikuti ujian. Dari total sekitar 700 ribu, 65 persen di antaranya sudah mengikuti UTBK gelombang pertama. ”Mereka sudah diproses ya nilainya. Sisanya yang 35 persen ini masih menunggu untuk gelombang kedua,” ujar Muhammad Nasih.

Di Unair sendiri, dari 12.983 peserta yang terdaftar, ada 12.488 peserta yang hadir. ”Yang tidak hadir ada 495 peserta. Tingkat ketidakhadiran 3,8 persen. Sementara tingkat kehadiran 96,2 persen. Cukup tinggi untuk tingkat kehadirannya. Lebih tinggi tahun lalu,” tutur Muhammad Nasih.

Ketika ditanya terkait peserta difabel, Nasih menjelaskan, LTMPT memusatkan peserta difabel di universitas yang sudah memiliki fasilitas memadai. Di Surabaya, di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). ”Ada di Unesa. Karena secara infrastruktur dan kelengkapan fasilitas, Unesa yang paling memenuhi,” terang Muhammad Nasih.

Sumber: Jawapos

RADAR MALANG – Jumlah peserta UTBK (ujian tulis berbasis komputer) perguruan tinggi yang dinyatakan gugur sebanyak 27.138 orang. Peserta UTBK gelombang pertama tersebut dinyatakan tak lolos karena mangkir alias tidak hadir pada ujian yang diadakan pada 12–18 April.

Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Muhammad Nasih menjelaskan, pihaknya mengaku tidak mengetahui penyebab mangkirnya ribuan peserta UTBK itu. ”Kami tidak tahu entah tidak hadir karena Covid-19 atau apa. Intinya mereka tidak hadir dan dinyatakan gugur karena tidak mengikuti ujian,” ujar Nasih Senin (19/4).

Nasih yang juga Rektor Universitas Airlangga Surabaya itu memaparkan, secara keseluruhan, terdapat total 454.178 peserta yang terdaftar dalam UTBK gelombang pertama. Dari 27.138 yang tidak hadir, artinya terdapat 404.308 peserta yang hadir.

”Tingkat kehadiran peserta 94,28 persen. Angka ini lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 90 persen. Tahun 2019 cuma 80 persen,” urai Muhammad Nasih.

Dia menjelaskan, pihaknya tidak mencari tahu penyebab ketidakhadiran peserta. Meskipun bila peserta tidak bisa hadir karena Covid-19, peserta tetap dianggap gugur. Sebab, sudah menjadi kebijakan dalam LTMPT bila tidak hadir dan tidak mengikuti ujian, dianggap gugur.

Secara keseluruhan, lanjut Nasih, sudah 65 persen peserta UTBK yang mengikuti ujian. Dari total sekitar 700 ribu, 65 persen di antaranya sudah mengikuti UTBK gelombang pertama. ”Mereka sudah diproses ya nilainya. Sisanya yang 35 persen ini masih menunggu untuk gelombang kedua,” ujar Muhammad Nasih.

Di Unair sendiri, dari 12.983 peserta yang terdaftar, ada 12.488 peserta yang hadir. ”Yang tidak hadir ada 495 peserta. Tingkat ketidakhadiran 3,8 persen. Sementara tingkat kehadiran 96,2 persen. Cukup tinggi untuk tingkat kehadirannya. Lebih tinggi tahun lalu,” tutur Muhammad Nasih.

Ketika ditanya terkait peserta difabel, Nasih menjelaskan, LTMPT memusatkan peserta difabel di universitas yang sudah memiliki fasilitas memadai. Di Surabaya, di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). ”Ada di Unesa. Karena secara infrastruktur dan kelengkapan fasilitas, Unesa yang paling memenuhi,” terang Muhammad Nasih.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru