alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

KKM UIN Malang Ajak Peternak Karangrejo Bikin Pupuk Urine Kelinci

MALANG KOTA – Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Dari Rumah (DR) Universitas Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar kotoran dan urine kelinci di Desa Karangrejo, Kendal, Ngawi Jawa Timur

Salah satu Anggota KKM Karangrejo UIN Maliki Malang, Hindun Binti Masruroh menyebut, pelatihan pembuatan pupuk organik ini sengaja dipilih karena mayoritas masyarakat desa ini bermata pencaharian petani dan peternak kelinci, dengan jumlah total populasi kelinci di desa tersebut mencapai 1000 ekor.

Pelatihan pembuatan pupuk organik dari kotoran dan urin kelinci (istimewa)

Hindun menuturkan, kotoran dan urine kelinci belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat desa. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan petani dan belum adanya penyuluhan atau bimbingan tentang pemanfaatan kotoran dan urine kelinci.

Padahal, kotoran dan urine kelinci dengan teknologi sederhana dapat diolah menjadi pupuk organik padat dan Pupuk Organik Cair (POC). Pupuk organik tersebut memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan dapat menambah penghasilan bagi peternak kelinci.

“Pupuk organik padat dan POC tersebut apabila diaplikasikan pada pada tanaman mampu meningkatkan produksi tanaman, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk merangsang pertumbuhan,” jelas Hindun.

Pupuk organik padat dan POC urine kelinci mampu mengganti pupuk non organik (kimia) yang harganya semakin mahal dan keberadaannya semakin langka. Selain itu, pupuk kimia tidak baik bagi lingkungan, dapat merusak struktur atau lapisan tanah jika digunakan terus menurus.

Ia melanjutkan, pupuk non organik seperti Urea, Phonska, ZA, SP36 memang mampu meningkatkan produksi pertanian namun meninggalkan efek yang tidak baik terhadap tanah. “Efek tersebut lama kelamaan akan merusak unsur hara tanah yang mengakibatkan tanah menjadi keras dan menggumpal,” kata dia.

Proses transfer ilmu tersebut dilakukan dalam bentuk pelatihan pembuatan pupuk organik cair dihadiri oleh 31 partisipan, yang terdiri 13 perangkat desa, 10 perwakilan dari kelompok tani, serta 8 mahasiswa KKM-DR UIN Maliki Malang.

KKM DR instruksi dari Kemenag di seluruh Indonesia yang merupakan bentuk pengabdian mahasiswa di daerahnya masing masing ini dilaksanakan pada 12 Januari 2021 lalu dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr H Syaiful Mustofa MPd. Alat yang digunakan meliputi gembor, ember, pengaduk, dan drum 100 liter. Bahan yang digunakan meliputi urine kelinci, tetes tebu, air kelapa, Em4, garam, pupuk NPK, KNO3 putih, KNO3 merah dan air secukupnya.

“Harapan kami para petani menggunakan POC urine kelinci untuk membasmi hama tanpa menggunakan pestisida kimia,” pungkas Hindun.

MALANG KOTA – Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Dari Rumah (DR) Universitas Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar kotoran dan urine kelinci di Desa Karangrejo, Kendal, Ngawi Jawa Timur

Salah satu Anggota KKM Karangrejo UIN Maliki Malang, Hindun Binti Masruroh menyebut, pelatihan pembuatan pupuk organik ini sengaja dipilih karena mayoritas masyarakat desa ini bermata pencaharian petani dan peternak kelinci, dengan jumlah total populasi kelinci di desa tersebut mencapai 1000 ekor.

Pelatihan pembuatan pupuk organik dari kotoran dan urin kelinci (istimewa)

Hindun menuturkan, kotoran dan urine kelinci belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat desa. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan petani dan belum adanya penyuluhan atau bimbingan tentang pemanfaatan kotoran dan urine kelinci.

Padahal, kotoran dan urine kelinci dengan teknologi sederhana dapat diolah menjadi pupuk organik padat dan Pupuk Organik Cair (POC). Pupuk organik tersebut memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan dapat menambah penghasilan bagi peternak kelinci.

“Pupuk organik padat dan POC tersebut apabila diaplikasikan pada pada tanaman mampu meningkatkan produksi tanaman, karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk merangsang pertumbuhan,” jelas Hindun.

Pupuk organik padat dan POC urine kelinci mampu mengganti pupuk non organik (kimia) yang harganya semakin mahal dan keberadaannya semakin langka. Selain itu, pupuk kimia tidak baik bagi lingkungan, dapat merusak struktur atau lapisan tanah jika digunakan terus menurus.

Ia melanjutkan, pupuk non organik seperti Urea, Phonska, ZA, SP36 memang mampu meningkatkan produksi pertanian namun meninggalkan efek yang tidak baik terhadap tanah. “Efek tersebut lama kelamaan akan merusak unsur hara tanah yang mengakibatkan tanah menjadi keras dan menggumpal,” kata dia.

Proses transfer ilmu tersebut dilakukan dalam bentuk pelatihan pembuatan pupuk organik cair dihadiri oleh 31 partisipan, yang terdiri 13 perangkat desa, 10 perwakilan dari kelompok tani, serta 8 mahasiswa KKM-DR UIN Maliki Malang.

KKM DR instruksi dari Kemenag di seluruh Indonesia yang merupakan bentuk pengabdian mahasiswa di daerahnya masing masing ini dilaksanakan pada 12 Januari 2021 lalu dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr H Syaiful Mustofa MPd. Alat yang digunakan meliputi gembor, ember, pengaduk, dan drum 100 liter. Bahan yang digunakan meliputi urine kelinci, tetes tebu, air kelapa, Em4, garam, pupuk NPK, KNO3 putih, KNO3 merah dan air secukupnya.

“Harapan kami para petani menggunakan POC urine kelinci untuk membasmi hama tanpa menggunakan pestisida kimia,” pungkas Hindun.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru